12 Tim Underdog di Europa League 2016/17: Mereka yang Siap Membuat Kejutan

Europa League bukan hanya milik nama-nama besar. Di kompetisi ini, kejutan justru sering diciptakan oleh tim-tim menengah ke bawah. Taufik Nur Shidiq memilih 12 nama yang berpeluang menciptakan kejutan di Europa League musim ini...

Grup A: Feyenoord

Setelah dua musim berturut-turut gugur di play-off, FC Zorya Luhansk akhirnya menjalani musim pertama mereka di putaran final Europa League. Tapi abaikan Zorya, mereka klub kecil dengan peluang kecil. Underdog Grup A, pengganggu di antara Manchester United FC dengan Fenerbahçe SK, adalah Feyenoord.

Peraih tiket Europa League via jalur juara KNVB Cup 2015/16 tersebut dilatih oleh Giovanni van Bronckhorst. Ia memang langsung membawa Feyenoord juara di musim pertamanya, namun pengalamannya belum cukup banyak untuk secara nyaman menantang United yang dimanajeri José Mourinho, pemenang UEFA Cup 2002/03, dan Fenerbahçe yang Dick Advocaat-nya adalah juara UEFA Cup 2007/08 bersama FC Zenit.

Grup B: APOEL FC

Grup B akan diwarnai balas dendam APOEL FC kepada FC Astana. Musim lalu keduanya berjumpa di langkah terakhir menuju fase grup Champions League, dan Astana melaju berkat keunggulan agregat 2-1 yang membuat APOEL harus puas bermain di Europa League. Astana gagal di play-off Champions League musim ini sehingga terlempar ke Europa League. Ini musim pertama untuk Astana, namun underdog-nya tetap APOEL.

Dan sebagai underdog, APOEL bisa benar-benar mengganggu jika mereka mampu memaksimalkan kelemahan lawan-lawannya. Olympiacos FC mungkin tak akan tersentuh, namun BSC Young Boys – yang kalah dalam empat dari lima pertandingan kandang Eropa terakhirnya – bisa jadi sasaran empuk. Begitu pula dengan Astana yang tidak pernah menang dalam lima pertandingan tandang Eropa.

Grup C: FSV Mainz 05

RSC Anderlecht selalu lolos dari fase grup dalam semua musim UEFA Cup dan Europa League yang mereka jalani. Gabala SC adalah satu dari dua klub peserta fase grup Europa League musim ini (satu lainnya adalah Maccabi Tel-Aviv) yang tak terhentikan lajunya sejak putaran pertama kualifikasi. AS Saint-Étienne tak pernah kalah dalam empat pertandingan yang mereka lewati untuk sampai ke fase grup, dan selalu lolos dari fase ini dalam sejarah keikutsertaaan mereka di UEFA Cup dan Europa League. FSV Mainz 05 benar-benar menghadapi tantangan besar di musim pertamanya di Europa League.

Mainz, toh, tidak akan tersingkir begitu saja. Martin Schmidt dengan sempurna meneruskan estafet kesuksesan pelatih kepala Mainz dari Thomas Tuchel dan Jürgen Klopp. Jika Schmidt mampu mentransfer kegemilangannya di Bundesliga ke Europa League, Mainz bisa melakukan lebih banyak dari sekedar lolos fase grup saja.

Grup D: Maccabi Tel Aviv

FC Zenit akan melaju mulus. Selain berpengalaman di kejuaraan ini (juara musim 2007/08 dan sapu bersih semua pertandingan fase grup musim 2010/11 adalah dua dari beberapa bukti), mereka kini ditangani oleh pelatih kepala paling berpengalaman di antara semua pelatih kepala musim ini. Mircea Lucescu yang pernah membawa Shakhtar Donetsk juara UEFA Cup 2008/09 sudah menangani 214 pertandingan tingkat Eropa.

Pemilik peluang terbesar setelah Zenit adalah AZ Alkmaar, yang hanya gagal dalam tiga dari delapan fase grup mereka di UEFA Cup dan Europa League. Namun Alkmaar akan mendapat perlawanan sengit dari Maccabi Tel Aviv, yang tak terhentikan sejak putaran pertama kualifikasi. Shota Arveladze, pelatih kepala Tel Aviv, menunjukkan bahwa musim pertamanya bersama Tel Aviv bukan halangan untuk menuai sukses. Walau demikian Tel Aviv juga harus hati-hati. Dundalk FC yang ditangani salah satu pelatih muda terbaik saat ini, Stephen Kenny, berpeluang mengejutkan.

Grup E: FK Austria Wien

AS Roma di atas kertas memiliki segala yang mereka butuhkan untuk melaju mulus ke fase gugur. Sepanjang sejarahnya pun Roma selalu lolos dari fase grup UEFA Cup dan Europa League. Sementara Roma berpeluang besar menduduki peringkat teratas, juru kunci nyaris pasti menjadi milik FC Astra Giurgiu. Walau tidak terkalahkan dalam tujuh pertandingan kandang Eropa terakhirnya, Astra memiliki catatan buruk: gugur di fase grup di musim tunggal keikutsertaan mereka di Europa League, 2014/15.

Dengan demikian status underdog di Grup E adalah milik FK austria Wien. Persaingan langsung untuk mengawani Roma akan melibatkan Austria Wien dan FC Viktoria Plzeň, yang pernah menyingkirkan Napoli dari 32 besar musim 2012/13 dengan agregat 5-0. Usaha Austria Wien, toh, tak akan mudah. Sejak lolos ke delapan besar musim 2004/05, mereka selalu gugur di fase grup dalam empat musim keikutsertaannya di kejuaraan ini.

Grup F: US Sassuolo Calcio

Untuk kali pertama dalam sejarah klub, US Sassuolo Calcio ambil bagian di kejuaraan Eropa. Berada satu grup dengan Athletic Club, yang diperkuat pencetak gol terbanyak Europa League musim lalu (Aritz Aduriz ) dan dilatih oleh Ernesto Valverde yang sangat berpengalaman, tak membuat Sassuolo gentar. Eusebio Di Francesco, otak di balik kesuksesan Sassuolo, memilih untuk fokus kepada timnya dan hanya timnya saja.

Yang juga akan meramaikan Grup F dan akan terlibat persaingan langsung dengan Sassuolo (dengan anggapan Athletic akan tak tertandingi untuk posisi puncak) adalah KRC Genk dan SK Rapid Wien. Genk hanya satu kali kalah dalam 12 pertandingan tandang Eropa terakhirnya dan selalu lolos dari fase grup dalam dua musim keikutsertaan mereka di Europa League. Rapid Wien sendiri menjalani musim keduanya. Sebelum akhirnya lolos ke putaran final musim lalu, Rapid Wien gagal dalam empat percobaan.