4-2-3-1 Masih yang Terpopuler di Eropa, Tapi Bukan Lagi yang Terbaik

Apa sebenarnya yang terjadi dengan penerapan formasi di dunia sepak bola saat ini? Apa yang berubah? Apakah masih banyak yang menggunakan formasi tradisional 4-4-2, 3-5-2 atau 4-3-3? Ekkyrezky dari FourFourTwo Indonesia mencoba untuk menganalisisnya...

Memasuki dekade kedua di milenium ketiga, formasi 4-2-3-1 meraih popularitas yang luar biasa dan digunakan oleh banyak klub besar di dunia, khususnya Eropa. Transformasi sepak bola modern yang mengarah ke popularitas formasi ini memang telah dimulai sejak tahun 2000an, dengan mulai ditinggalkannya formasi lawas 4-4-2, yang populer pada era 1980an hingga 1990an. Keberhasilan Spanyol, Jerman, dan Belanda menembus empat besar Piala Dunia 2010 menjadi sumber meledaknya popularitas formasi ini, yang setelah tahun itu, menjadi semacam formasi dasar hampir semua klub besar Eropa.

Pada tahun 2013, pembicaraan mengenai apakah akan muncul anti-tesis dari 4-2-3-1 muncul di media-media alternatif sepak bola, terutama di blog-blog yang gemar membahas tentang taktik dan strategi sepak bola. Jonathan Wilson, pandit sepak bola ternama Inggris yang menulis buku sejarah taktik populer, “Inverting the Pyramid”, pernah menulis tentang kelemahan yang ada pada formasi ini. Namun sementara banyak pandit-pandit lain yang mencoba memprediksi bahwa kematian 4-2-3-1, Wilson menolak untuk melakukannya – dan itu adalah hal yang tepat. Faktanya, hingga separuh akhir tahun 2015, formasi 4-2-3-1 masih menjadi favorit banyak klub raksasa Eropa, apalagi di Inggris.

Pada Maret 2015 lalu, Opta menunjukkan bagaimana kuatnya popularitas 4-2-3-1 di Premier League Inggris. Tercatat, klub-klub Premier League menggunakan 4-2-3-1 di awal pertandingan sebanyak 225 kali, jauh di atas 4-4-2 di tempat kedua yang hanya digunakan 80 kali pada saat pertandingan dimulai. Dua tim teratas Premier League musim lalu, Chelsea dan Manchester City, adalah yang paling gemar menggunakannya. Jose Mourinho selalu menggunakannya di awal pertandingan Chelsea di liga, sementara Manuel Pellegrini menggunakannya di hampir setengah dari keseluruhan pertandingan liga Manchester City.