4 Pelajaran dari Chelsea 3-0 Burnley: Apakah Hazard Telah Kembali ke Performa Terbaiknya?

Seb Stafford-Bloor berada di Stamford Bridge menggunakan Stats Zone saat pasukan Antonio Conte mengalahkan Burnley

1. Inilah Hazard dalam performa terbaiknya 

Disebut sebagai salah satu faktor jebloknya performa Chelsea musim lalu, sulit untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Eden Hazard. Pemain Belgia ini, yang merupakan pemain dinamis dan layak meraih gelar Pemain Terbaik PFA 2014/15, tenggelam dalam performa buruk. Lamban dan terlalu cepat melepaskan tanggung jawabnya di lini serang, ia sering gagal memberikan kontribusi dalam pertandingan-pertandingan yang sebelumnya bisa ia kuasai. 

Musim 2016/17 dimulai dengan sangat berbeda. Terlihat sangat bugar untuk seorang pemain yang ikut bermain di Euro 2016, Hazard menghancurkan Burnley. Formasi 4-2-4 Antonio Conte awalnya terlihat menempatkan pemain Belgia ini sangat dekat dengan kotak penalti, namun hal itu malah memberi lebih banyak ruang baginya daripada formasi yang diterapkan Jose Mourinho, dan juga membuatnya sering menyentuh bola di posisi yang berbahaya.

Pada babak pertama di Stamford Bridge, selain mencetak gol pembuka, Hazard menyelesaikan 22 dari 27 umpan di attacking third yang dilakukannya, tujuh lebih banyak dari pemain lainnya. Pada menit 82 saat ia ditarik keluar, catatan itu naik menjadi 38 dari 45. Ada peningkatan – dan juga ada satu percobaan tendangan rabona – tapi inilah Hazard dalam performa terbaiknya – seorang pemain berbakat namun juga cerdik dalam sistem yang saling melengkapi. 

Sistem ini juga cukup tepat karena dia adalah kekuatan tim yang harus dimanfaatkan dengan benar. Conte berbicara dalam konferensi persnya tentang pentingnya bermain kolektif – atau bermain seperti 'keluarga' – dan itu sangat relevan dengan Hazard. Bintang Belgia ini membutuhkan kondisi yang tepat untuk berkembang – bisa menerima bola dengan cepat dan memiliki banyak opsi di depannya – dan ini adalah tanda-tanda yang menunjukkan bahwa performanya sudah kembali lagi. 

2. Conte memprioritaskan serangan sayap 

Conte adalah sosok yang ekspresif di pinggir lapangan dan seringkali, dia lebih mirip dalang ketimbang pelatih. Dia berkeliling di sekitar area teknisnya sepanjang 90 menit melawan Burnley dan tak henti-hentinya memberikan arahan dan petunjuk. Pelatih Italia ini menginginkan serangan dari sektor sayap dan dia menginginkannya setiap saat. 

Fitur dari wajah baru Chelsea ini adalah, meski diperkuat beberapa pemain sayap di atas lapangan, pemain lain – sebut saja Diego Costa, Oscar, atau para attacking full-back, biasanya akan bermain melebar. Lawan-lawan yang lebih tangguh akan menguji kekuatan dan kerentanan dari sistem ini, namun melawan Burnley yang memilih bertahan dengan dua bek dari sistem empat bek, jelas bahwa ada ruang untuk dieksploitasi oleh para playmaker tim besutan Conte.  

Pasukan Sean Dyche juga tidak berada dalam performa terbaiknya, usaha mereka untuk bertahan di Premier League tidak akan ditentukan dari kemenangan yang mereka raih dari tim-tim yang sangat kuat, namun fleksibilitas mereka dalam situasi krisis. Bahkan ketika bertahan cukup dalam dan hanya fokus untuk melindungi kotak penalti mereka, Burnley sering dipaksa untuk menutup area yang ditinggalkan seorang pemain dan terlambat mengawal pemain lawan yang sudah masuk di celah pertahanan mereka.

Kualitas Chelsea dan level pemain mereka secara keseluruhan mendukung hal itu, namun permainan melebar yang mereka terapkan di hari Sabtu lalu dan sikap luar biasa yang ditunjukkan Conte menonjolkan perbedaan dari kedua tim. Tuan rumah menyelesaikan 190 umpan di sepertiga akhir lapangan, tapi mereka juga menyelesaikan 31 umpan di dalam kotak penalti dan itu sangat menggambarkan kemampuan mereka dalam melakukan penetrasi saat menghadapi lawan yang bermain bertahan. 

3. Nemanja Matic vs Cesc Fabregas

Keputusan Conte memainkan Matic adalah sesuatu yang membuat penasaran. Formasi 4-2-4 secara alami sangat menekankan pentingnya kualitas kedua pemain di tengah untuk bertahan, tapi kemampuan bertahan N'Golo Kante mungkin sudah cukup. Penurunan kualitas Matic dalam hal ini mungkin belum terlalu sering dibahas, tapi kontribusinya masih terbatas pada hari Sabtu lalu. Dia mungkin memang memberikan lapisan tambahan untuk kesolidan lini tengah mereka, tapi umpan-umpannya yang hanya bersifat satu dimensi menghasilkan keterbatasan bagi The Blues – dan dampaknya akan lebih terasa lagi jika menghadapi tim-tim yang lebih kuat yang mampu memberikan tekanan lebih besar di lini tengah. 

Kecenderungannya – seperti saat melawan Burnley – adalah memainkan penguasaan bola dengan persentase yang tinggi atau mendorong bola ke sisi lapangan, padahal Chelsea memerlukan aliran distribusi yang lebih baik dari lini tengah untuk lebih cepat melancarkan serangan ke area lawan.

Ini akan terus menjadi masalah. Kontribusi Cesc Fabregas di Watford seminggu sebelumnya, dalam hanya 12 menit setelah menggantikan Matic, menunjukkan seperti apa alternatif yang dimiliki Chelsea. Ini akan menjadi salah satu ujian awal bagi Conte, yaitu bagaimana caranya mengelola chemistry lini tengahnya. Matic mungkin berkontribusi penting dalam gol pembuka dari Hazard, namun ia dan Fabregas tetap merupakan dua unsur yang berlawanan: soliditas vs kreativitas, perlindungan vs serangan. 

4. Burnley seharusnya tidak ragu menerapkan permainan langsung

Agak sulit untuk menjelaskan Burnley. Mereka datang ke Stamford Bridge untuk bermain kompak dan membuat Chelsea bekerja keras untuk mencetak gol, dan sayangnya, rencana itu digagalkan oleh gol cepat Eden Hazard.  

Tapi, ada satu hal yang perlu dicatat: mereka seharusnya tidak takut bermain lebih langsung (direct). Dyche membanggakan dirinya sebagai manajer yang tidak mengandalkan umpan-umpan panjang dan melawan stereotip yang digunakan untuk menggambarkan pelatih Inggris. Itu adalah prinsip yang mengagumkan, tapi menghadapi serangan balik cepat Chelsea, strategi ini gagal. Meskipun gol pertama yang tercipta sebetulnya lebih karena kegemilangan Hazard dan kemampuannya untuk menghukum sebuah kesalahan kecil; ketika Andre Gray kehilangan bola, Burnley berada di luar posisi bertahan mereka, dan Hazard menembus pertahanan mereka. Itu adalah hukuman yang sangat kejam bagi Burnley karena berupaya terlalu sering memainkan bola. 

Sam Vokes adalah penyerang yang statis, tapi Gray sangat aktif, dan hal ini menjawab pertanyaan mengapa, saat meninggalkan area permainan mereka, Burnley tidak memanfaatkan sektor sayap. Anehnya, ketika mereka menerapkan umpan-umpan panjang, umpan-umpan itu biasanya ditujukan langsung ke tengah-tengah lapangan. Baik John Terry atau Gary Cahill tidak memiliki mobilitas dan kesempatan terbaik Burnley untuk mengurangi tekanan pada lini pertahanan mereka mungkin telah mendorong mereka ke area yang asing. Masalahnya, strategi ini harus memadukan penguasaan bola dan pertahanan, namun tim tamu tidak berhasil melakukannya.

Filosofi Dyche layak dikagumi, dan bahkan meski tidak terlihat pada hari Sabtu lalu, ia telah membangun timnya secara fundamental. Namun, selain pelajaran dari pertandingan sesungguhnya, mereka akan mengambil pelajaran berharga dari Stamford Bridge: pintar beradaptasi lebih berharga daripada mementingkan filosofi. Seminggu yang lalu, mereka mengalahkan Liverpool setelah hanya membukukan 218 umpan. Pada hari Sabtu jumlah itu naik menjadi 300, tetapi hal juga membawa kerentanan bagi pertahanan mereka. Penguasaan bola harus disesuaikan dengan cerdik. 

Fakta-fakta pertandingan

  • Eden Hazard telah mencetak 6 gol dalam 8 pertandingan Premier League terakhir, setelah hanya mencetak 6 gol di 44 pertandingan sebelumnya.
  • Antonio Conte kini tak terkalahkan dalam 30 pertandingan kandang liga sebagai manajer (M28 K2).
  • Diego Costa telah berkontribusi dalam gol Chelsea di masing-masing 5 penampilan terakhirnya di Premier League (3 gol, 2 assist).
  • The Clarets kebobolan lebih banyak gol di pertandingan ini (3) dari 4 pertandingan tandang Premier League sebelumnya (2).
  • The Blues mengakhiri catatan 13 pertandingan kandang Premier League tanpa clean-sheet, yang terakhir mereka melakukan dalam kemenangan 2-0 atas Norwich pada November 2015.
  • Victor Moses mencetak gol Premier League pertamanya untuk Chelsea sejak November 2012.
  • Tembakan pertama Burnley dalam laga ini terjadi di menit ke-43.
  • The Clarets masih belum pernah menang di Stamford Bridge sejak April 1971, kalah 6 kali dan imbang 2 laga sejak saat itu.

STATS ZONE Gratis di iOS • Gratis di Android

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID • Analisis