5 Hal Menarik dari Tottenham 1-1 Liverpool: Ketika Dua Tim Ofensif dengan Gaya Berbeda Bertemu

John Robertson menggunakan Stats Zone di White Hart Lane, di mana Liverpool mendapatkan satu poin, meski mereka berpikir mereka layak mendapatkan lebih

Mengingat Liverpool seringkali kewalahan di lini pertahanan dan terkadang tajam di lini serang, dan Tottenham kesulitan mencetak gol namun juga kewalahan bertahan, hasil kunjungan pasukan Jurgen Klopp ke White Hart Lane adalah sebuah kejutan...

1. Tempo vs presisi

Dengan Tottenham dan Liverpool saling menaklukkan dan berbagi satu poin sebenarnya adalah hasil yang adil. Namun, yang lebih menarik dari skor akhir laga ini adalah perbedaan pendekatan serangan yang diterapkan kedua tim.

Pasukan Mauricio Pochettino tidak memiliki pemain yang cepat di depan, bahkan Dele Alli tidak memiliki cukup akselerasi untuk menimbulkan rasa takut dalam diri bek lawan. Liverpool, di sisi lain, bisa dibilang memiliki kecepatan yang lebih baik ketimbang tim lainnya di liga. 

Penampilan kedua tim di lini serang pun memperlihatkan perbedaan yang relatif dalam hal kecepatan. Spurs bermain lebih lambat, sengaja memainkan banyak umpan sebagai upaya untuk memperbesar kemungkinan menciptakan peluang, sementara Liverpool aktif menyerang dan akan menabrak lawan mereka jika perlu, dan mencoba untuk melepaskan tendangan sesering mungkin. Satu tim berusaha untuk sabar menciptakan peluang; yang lain berusaha untuk mengejutkan dan membuang tenaga.

Dua filosofi individu ini tergambar dalam jumlah keputusan offside yang diberikan terhadap kedua tim; tempo tinggi Liverpool mengakibatkan mereka membukukan tiga offiside lebih banyak ketimbang Tottenham.

2. Lubang di tengah yang ditinggalkan Dier

Ditariknya Kyle Walker pada menit ke-25 karena sakit membuat Pochettino memasukkan Vincent Janssen, dan kehadirannya membuat Alli didorong lebih dalam di lini tengah. Untuk melengkapi skema permainan, Eric Dier kemudian dimainkan di posisi bek kanan yang merupakan posisi Walker.

Ketidakhadiran Dier langsung terasa di lini tengah. Victor Wanyama sering diandalkan untuk menghubungkan lini pertahanan dengan lini serang mengingat Alli adalah tipe pemain yang sering menyerang ke depan. Pemain Kenya itu ternyata tidak memiliki ketenangan dan kesadaran umpan yang dimiliki Dier dan itu mengurangi distribusi bola ke Christian Eriksen, Harry Kane, dan pemain menyerang lainnya.

Dari posisi full-back, Dier memang membuat kontribusi positif, terutama ketika ia melepaskan umpan silang yang mengawali gol penyeimbang Danny Rose di menit ke-72, tapi jelas bahwa timnya membutuhkan dirinya di tengah. Membandingkan tingkat akurasi umpan-umpan dan kuantitasnya antara laga ini dan laga Spurs sebelumnya (kemenangan 1-0 atas Crystal Palace) menunjukkan peran pentingnya sebagai penghubung lini pertahanan dan lini serang. 

3. Apakah Mane adalah pemain terpenting Liverpool?

Statistik Sadio Mané tidak akan menggambarkan kontribusinya yang sesungguhnya. Ia hanya menyelesaikan 16 dari 26 upaya umpan, satu tembakan ke gawang, dan satu kali melewati lawan dari tiga usaha – ini bukan statistik yang layak mendapatkan pujian. Namun, usaha yang ia lakukan saat tidak menguasai bola (off the ball), terutama dalam kaitannya dengan posisi komparatif rekan-rekannya yang juga bermain di lini serang, Roberto Firmino dan Philippe Coutinho, telah membuatnya seperti pemain kunci di awal kariernya di Liverpool. 

Kecepatannya terus-menerus membuat Rose di bawah tekanan di White Hart Lane, tapi efektivitasnya lah yang membuatnya menjadi ancaman utama. Mané bukan jenis pemain yang konsisten mampu meliuk-liuk melewati lini pertahanan lawan dan, memang, ia jarang mencoba hal seperti itu. Sebaliknya, ia mengambil posisi dan rute yang paling efektif untuk menyerang.

Hal ini membuat bek-bek lawan dalam situasi sulit ketika Mané memilih posisi di antara area full-back dan bek tengah. Apakah full-back yang akan mengejarnya, atau apakah bek tengah yang akan menahannya?

Kemampuan Mane untuk memaksa lawan membuat keputusan lah yang membuat Mane menjadi pemain yang berbahaya, terutama ketika Firmino dan Coutinho siap menusuk ke dalam ruang yang ditinggalkan oleh bek manapun yang membuat kesalahan posisi.