5 Hal yang Diperlukan Pesepakbola Muda Indonesia untuk Berkarier di Luar Negeri

Semua tahu, meniti karier sepakbola di luar negeri bagi pemuda Indonesia bukanlah hal mudah. Namun, juga bukan sebuah peristiwa yang mustahil. Terpenting punya modal dan Perdana Nugroho memaparkan lima hal yang wajib disiapkan...

Bukan sebuah kebetulan jika Brasil yang mengoleksi gelar Piala Dunia terbanyak, jadi pengekspor pemain nomor satu di seantero jagat. Namun sebelum melangkah lebih jauh, setidaknya itulah alasan mengapa penting bagi sebuah negara untuk mengekspor atau mengorbitkan pemain yang siap berkompetisi di level internasional. Bagi Indonesia, mari sejenak kita perkecil lingkupnya, yakni Asia, sebelum berbicara banyak tentang jetsetnya sepakbola Eropa.

Bukan lantas pesimistis, namun untuk saat ini, sasaran realistis adalah liga top Asia dimana pesepakbola asal Indonesia bisa menjadi pemain reguler di tim dan bermain tiap pekan. Dengan jumlah penduduk lebih dari 255 juta jiwa atau terbanyak keempat di dunia, bukan hal mustahil untuk mencari bibit-bibit muda yang siap untuk berkibar.

Sayangnya, pengalaman membuktikan, ada beberapa faktor yang membuat skill di lapangan saja tidak cukup untuk mengantar seorang pemuda asal Tanah Air, tampil bersinar di luar negeri. Lantas apa yang perlu dipersiapkan -selain visa dan paspor-? FourFourTwo Indonesia melalui Perdana Nugroho memiliki jawabannya....

1. Kemampuan Adaptasi yang Cepat

Beda negara, pastinya beda kultur dan mungkin kondisi cuaca. Hal klasik ini yang perlu jadi modal awal untuk memulai karier di luar negeri. Pasalnya, pemain tak hanya diminta untuk bertahan hidup, tetapi juga bermain dan berlatih sepakbola, serta bersosialisasi. Faktor cuaca dan makanan jadi hal utama yang perlu diperhatikan, mengingat bagaimana karier Bambang Pamungkas di EHC Norad atau Bima Sakti di Helsingborg IF harus berakhir begitu saja. Bayangkan saja jika Anda biasanya tampil di cuaca seperti Indonesia, diminta untuk unjuk gigi pada suhu di bawah derajat celcius ketika musim dingin di Inggris misalnya.

Jika tidak dimulai dari usia dini, pemain perlu latihan selama beberapa bulan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi negara terkait, yang sayangnya, terkadang hanya mendapat waktu beberapa pekan untuk diuji atau trial. Selain itu, ancaman homesick juga bisa sewaktu-waktu datang dan pastinya mengganggu konsentrasi saat bermain atau berlatih. Ditambah, kultur permainan juga berpengaruh. Jika tekel dua kaki mungkin hanya berbuah kartu kuning di sini, jelas berbeda dengan di negara lain. Satu yang perlu diingat, kesempatan emas tak datang dua kali.

Andik Vermansyah

Walaupun bermain di Liga Super Malaysia, Andik bisa beradaptasi dengan baik dan menjadi pemain idola fans dan Selangor

Pages