5 Pelajaran yang Bisa Diambil dari Indonesia 2-2 Vietnam

Apa saja pelajaran yang bisa diambil dari hasil imbang 2-2 antara Indonesia dengan Vietnam malam tadi (9/10/2016)? Renalto Setiawan menjabarkannya...

Indonesia bermain imbang 2-2 melawan Vietnam pada pertandingan uji coba yang berlangsung di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Minggu (09/10/16). Pertandingan uji coba dalam rangka persiapan Piala AFF 2016 yang akan mulai berlangsung pada bulan November tersebut berlangsung dengan tempo cepat sejak menit-menit awal pertandingan. Baik saat bertahan maupun menyerang kedua tim melakukan transisi dengan sangat baik, membuat pertandingan berlangsung secara intens – setidaknya hingga menit ke-30.

Vietnam berhasil unggul terlebih dahulu melalui Le Van Tang, penyerang mereka, ketika pertandingan baru berjalan empat menit. Tembakan jarak jauh penyerang bernomor punggung 19 tersebut gagal diamankan oleh Andritany, kiper Indonesia. Kejutan yang diberikan Vietnam kepada para penggemar Indonesia yang memadati Stadion Maguwoharjo ternyata tidak berhenti di situ. Memanfaatkan set-piece yang dieksekusi dengan cepat, di mana pemain-pemain Indonesia belum berkonsentrasi penuh dalam bertahan, Vu Min Tuan, gelandang Vietnam, berhasil menggandakan keunggulan tim tamu pada menit ke-12. Pemain yang sering beroperasi di sisi kanan tersebut berhasil memanfaatkan umpan silang Nguyen Trong Huang.

Meski begitu, setelah ketinggalan 0-2 dalam waktu hanya 12 menit, Indonesia tetap mampu menunjukkan mentalitas bagus. Konsentrasi pemain-pemain Indonesia tetap terjaga. Mereka juga mampu menjalankan taktik dengan baik. Dan, pada akhirnya, mereka berhasil menuai hasil dari ketenangan yang mereka tunjukkan di atas lapangan. Setelah tendangan bebas spektakuler Zulham Zamrun pada menit-27 berhasil memperkecil kedudukan, dua menit kemudian, sontekan Irfan Bachdim di depan gawang Vietnam yang tak terjaga berhasil menyamakan kedudukan. Maguwoharjo bergemuruh hebat, dan itu adalah gol terakhir yang terjadi dalam pertandingan tersebut.

Pada babak kedua tempo pertandingan mulai menurun. Kedua tim, meski sekali-kali melakukan serangan berbahaya, tampak nyaman dengan hasil yang sudah mereka peroleh pada babak pertama. Pertandingan pun kemudian berakhir dengan skor imbang 2-2. Lalu, apa yang dapat dipelajari dari pertandingan kedua timnas Indonesia pasca sanksi yang diberikan FIFA tersebut?

Pendekatan Indonesia dan Vietnam dalam bertahan yang tidak jauh berbeda

Sama-sama bermain dengan formasi 4-4-2, Indonesia dan Vietnam melakukan pendekatan bertahan yang tidak jauh berbeda: melakukan pressing secara terorganisir dalam situasi tertentu. Jika Vietnam lebih sering melakukannya saat pemain-pemain Indonesia melakukan penguasaan bola di daerah pertahanan Vietnam, pemain-pemain Indonesia melakukannya saat pemain-pemain Vietnam mulai mengalirkan bola ke sisi lapangan, terutama saat mereka melakukan build-up serangan dari lini belakang. Bagaimanapun, tidak banyak pilihan yang dimiliki oleh  seorang pemain saat menguasai bola di sisi lapangan. Pressing secara kompak akan semakin memperkecil opsi pemain tersebut, dan saat itu terjadi dia akan rentan melakukan kesalahan.

Meski begitu, kedua tim masih sering memperlihatkan kelemahan dalam melakukan pedekatan tersebut. Karena koordinasi yang kurang baik, pemain-pemain Vietnam terpaksa sering melakukan pelanggaran ketika pressing yang mereka lakukan berhasil ditembus pemain-pemain Indonesia. Sepanjang babak pertama Vietnam melakukan 10 kali pelanggaran, tiga kali lebih banyak daripada yang dilakukan oleh Indonesia, dan kebanyakan dilakukan di daerah mereka sendiri. Mereka pun kemudian harus membayar mahal karena salah satu pelanggaran yang mereka lakukan. Tendangan bebas spektakuler Zulham Zamrun bermula dari tekel yang terpaksa dilakukan pemain Vietnam terhadap Boaz Solossa beberapa meter di depan kotak penalti Vietnam.

Sementara itu, gol cepat Vietnam juga berawal dari kurang kompaknya pressing yang dilakukan pemain-pemain Indonesia. Saat itu, Dedi Kusnandar, gelandang Indonesia, sedikit terlambat dalam menutup pergerakan gelandang Vietnam. Kondisi tersebut kemudian membuat Yanto Basna, yang ikut melakukan pressing, berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Pemain-pemain Vietnam yang lolos pressing kemudian melakukan umpan kombinasi secara cepat. Saat bola berada di dalam kotak penalti Indonesia, Yanto Basna dan Dedi Kusnandar ketinggalan beberapa langkah di belakangnya. Sebelum Le Van Tang melakukan tembakan jarak jauh yang berhasil mengubah kedudukan, lini belakang Indonesia tampak tidak siap menghadapi serangan cepat Vietnam karena kesalahan Dedi Kusnandar dalam melakukan pressing tersebut.

Pressing bisa menjadi senjata baru Indonesia

Meski sejauh ini masih memiliki banyak kelemahan, pressing yang diterapkan Indonesia bisa menjadi kunci permainan Indonesia di ajang Piala AFF 2016 nanti. Terlebih tim Garuda akan berada satu grup dengan Thailand yang notabene satu tingkat berada di atas level permainan Indonesia. Bagaimanapun, terutama dalam waktu dekat, bermain dengan mengandalkan penguasaan bola saat menghadapi Thailand nyaris mustahil untuk dilakukan.

Selain mempunyai kualitas teknik yang mumpuni, pemain-pemain Thailand juga mahir dalam melakukan penguasaan bola. Tanpa organisasi pertahanan yang bagus, umpan-umpan segitiga yang menjadi ciri khas permainan mereka akan sangat sulit dihadapi. Ingat ketika 10 pemain Thailand terlibat dalam proses gol kelima Thailand ke gawang Indonesia dalam ajang SEA Games 2015, lalu? Saat itu, pemain-pemain Thailand melakukan build-up serangan dengan mudah dari lini belakang karena pemain-pemain Indonesia tidak mempunyai pendekatan tertentu dalam bertahan – dan tentunya juga tidak memiliki organisasi pertahanan yang baik.

Setidaknya, pressing terorganisir, entah itu dengan melakukan high pressing atau pressing block seperti yang dilakukan Vietnam, bisa digunakan untuk mengganggu build-up serangan Thailand, dan juga bisa menjadi awal serangan balik Indonesia saat menghadapi mereka nanti.

Dalam pertandingan menghadapi Vietnam sendiri, pressing yang dilakukan pemain-pemain Indonesia juga berhasil membuahkan hasil. Gol kedua Indonesia yang dicetak oleh Irfan Bachdim berawal dari tekanan secara kompak yang dilakukan pemain-pemain Indonesia di sisi kiri pertahan Vietnam. Saat itu Andik Vermansah berhasil mencuri bola dari Sam Ngoc Duc, full-back kiri Thailand. Selain itu, pressing yang dilakukan pemain-pemain Indonesia juga membuat Vietnam kesulitan dalam mengembangkan permainan.