5 Pemain yang Dibeli di Tenggat Bursa Transfer Pemain: Sukses atau Gagal?

Pembelian panik yang dilakukan menjelang batas akhir masa transfer pemain adalah hal yang sebetulnya sangat tidak disarankan. Dengan minimnya waktu si pemain baru menyesuaikan diri, tak jarang pemain-pemain yang dibeli di masa tenggat transfer akan memberikan hasil yang mengecewakan. Lalu bagaimana dengan para pembelian di akhir bursa transfer panas lalu?

Catatan: Data di artikel ini adalah per 30 September 2016

David Luiz (PSG ke Chelsea; €38,5 juta)

David Luiz sudah bermain dalam tiga pertandingan sejak kembali ke Chelsea dan dalam dua dari tiga pertandingan tersebut ia adalah bagian dari kekalahan timnya. Keduanya di Premier League. Akibat dari kekalahan dalam dua pekan secara beruntun tersebut, Chelsea berada di peringkat delapan (10 poin setelah enam kali bertanding). David Luiz sebagai bagian dari kekalahan Chelsea adalah kisah yang mengejutkan di masa bakti pertamanya, namun tidak saat ini.

Kedatangan Unai Emery ke Paris Saint-Germain membuat Luiz, pasangan utama Thiago Silva selama membela PSG, menjadi pilihan ketiga setelah sang kapten dan Marquinhos. Chelsea, pada dasarnya, merekrut pemain yang tidak diinginkan oleh klub lamanya. Dan di Chelsea sendiri Luiz sebenarnya tidak diinginkan. Klub mungkin masih menerimanya dengan baik, begitu pula dengan para suporter yang menyukai kerja kerasnya selama 2011 hingga 2014. Namun ia jelas bukan pilihan utama Antonio Conte di bursa transfer.

Conte menginginkan Kalidou Koulibaly atau Alessio Romagnoli dan bahkan sempat melirik Marquinhos, rekan Luiz di PSG. Namun ketiganya sulit didapatkan sementara Luiz terang-terangan menyatakan keinginan meninggalkan PSG sehingga rampunglah transfer Luiz ke Chelsea. Conte tidak merasa Luiz dapat bermain dalam taktik yang ia terapkan dan sang pemain terbukti tidak mampu memahami keinginan sang manajer dalam waktu singkat sehingga ketika petaka cedera John Terry menimpa dan hanya Luiz yang tersisa untuk mengawani Gary Cahill di jantung pertahanan Chelsea, terjadilah dua kekalahan beruntun itu.

Islam Slimani (Sporting ke Leicester; €30 juta)

Ketika Claudio Ranieri memutuskan untuk menggunakan dana hasil penjualan N’Golo Kante untuk memecahkan rekor transfer klub namun bukan untuk pengganti Kante melainkan untuk seorang penyerang, pemain yang bermain di lini yang sama dengan Jamie Vardy, pemain tersubur Leicester dalam keberhasilan mereka menjuarai Premier League, siapa pun pantas mempertanyakan keputusan sang manajer. Siapa pun, bukan hanya pendukung Leicester. But hey, Wenger Ranieri knows best.

Islam Slimani namanya. Ia berusia 28 tahun dan didatangkan dari Sporting Clube de Portugal dengan dana €30 juta yang, ketimbang menggambarkan kelayakan dirinya dihargai semahal itu, lebih menggamarkan keinginan Sporting untuk menghasilkan profit sebesar mungkin dari kebiasaan klub-klub Premier League menghamburkan uang untuk pemain baru. Jika perekrut Slimani berasal dari, katakanlah, Bundesliga atau La Liga, Sporting pasti rela melepas sang pemain dengan harga yang lebih murah. Klub mana pun tahu bahwa ketika peminat datang dari Premier League, mereka bisa meningkatkan nilai jual sang pemain dan klub peminat tetap bersedia membayar harga yang mereka minta.

Ranieri berkata Slimani didatangkan untuk memperkuat serangan Leicester, memberi dimensi baru dalam serangan timnya dengan menambahkan Slimani yang memiliki karakter berbeda dengan Vardy dan Riyad Mahrez. Sementara Vardy cepat dan Mahrez lincah, Slimani kuat, di darat dan, terutama, di udara. Dalam debutnya, melawan Club Brugge di pertandingan pertama Leicester di Champions League, Slimani bermain selama 62 menit dan tak mencetak gol maupun assist; pertandingan itu milik Mahrez. Namun pada debutnya di Premier League, Slimani mencetak dua gol pertama dalam kemenangan 3-0 Leicester atas Burnley. Slimani terbukti mampu menjalin kerja sama yang baik dengan Vardy dan Mahrez. Terbaru, melawan FC Porto di Champions League, Slimani mencetak gol tunggal pertandingan untuk memastikan Leicester menyapu bersih dua pertandingan pertama mereka di Champions League.