50 Derby Terbesar di Dunia versi FourFourTwo: 9. Borussia Dortmund vs Schalke

Derby Ruhr antara para Petambang dan tim Hitam-Kuning berada di posisi 9...

Butuh waktu hingga 40 tahun hingga derby Ruhr untuk benar-benar memanas.

Borussia Dortmund boleh saja dibentuk di tahun 1909, tapi mereka bahkan bukan tim yang dominan di kota sendiri hingga tahun 1936. Schalke, dari tetangga Gelsenkirchen, memegang gelar juara di Wesphalia selama 21 musim secara berurutan – tapi segalanya berubah di sebuah siang abu-abu di bulan Mei, 1947.

Ketika itu, Dortmund akhirnya berhasil menghancurkan dominasi Schalke dengan kemenangan 3-2 saat hujan deras melanda – dua kali mengejar ketinggalan sebelum akhirnya memastikan kemenangan lima menit menjelang pertandingan usai.

Derby Ruhr terakhir

Aksi dari Revierderby terakhir pada 10 April lalu

Tiba-tiba, Revierderby – nama lokal untuk pertandingan ini, yang berarti ‘derby di daerah ini ’- langsung memanas begitu saja.

Pertarungan di Bundesliga

Segalanya menjadi lebih intens lagi setelah Bundesliga diluncurkan pada tahun 1963. Daerah Ruhr yang cenderung mono-kultural – dibakar dengan batu bara dan dibangun dengan besi – mengalami pukulan ekonomi di akhir tahun 70an dan dua klub paling sukses di area ini kesulitan untuk berkompetisi dengan klub-klub lain di seluruh penjuru negeri.

100 Stadion Terbaik di Dunia

Frustasi di  sepakbola dan penderitaan secara sosial langsung bercampur dengan rivalitas besar untuk menciptakan hasil yang mengerikan. Di tahun 1979, hooligan Schalke membentuk salah satu firm yang dengan cepat menjadi salah satu yang paling kasar dan penuh kekerasan di Jerman – ‘Gelsenszene’. Untuk membalas ancaman ini, para fans Dortmund membentuk ‘Borussefront’ yang fasis di tahun 1982.

Dalam satu dekade selanjutnya, kedua kelompok ini saling berperang satu sama lain. Di 1984-85, 64.000 fans datang ke Stadion untuk menyaksikan pertandingan Schalke menghadapi Bayern Munich – hanya 41.000 aja yang berani datang ke derby.

"Ruhr, Ruhr..."

Namun secara mengherankan, rivalitas regional ini hidup sejajar dengan kebanggaan secara regional yang muncul. Pada 21 Mei, 1997, Schalke menciptakan kejutan besar dan memenangi Piala UEFA dengan mengalahkan Inter Milan-nya Roy Hodgson yang lebih diunggulkan. Pada 28 Mei, Dortmund menyusul dengan menaklukkan Juventus yang penuh bintang untuk memenangi Liga Champions.

Tujuh hari yang luar biasa ini menjadi puncak kebangkitan yang tidak terduga dua klub ini di tahun 1990an, dari tim miskin menjadi kaya, dari tim terancam degradasi menjadi para pahlawan di Eropa. Dan para fans tidak sepenuhnya setuju bagaimana untuk bereaksi terhadap fakta ini.

Setengah dari suporter Dortmund di final Liga Champions menunjukkan kebanggaan terhadap diri mereka sendiri, dengan menegaskan bahwa pencapaian mereka berada ‘sekelas di atas’ kemenangan Schalke. Setengah lagi menolak mereka dan mulai bernyanyi, “Ruhr... Ruhr...”, untuk merayakan fakta bahwa daerah mereka tiba-tiba menguasai sepakbola Eropa.

Setahun sebelumnya, saat Schalke mengalahkan Bayern untuk lolos ke Piala Eropa, para fans juga bernyanyi “Ruhr... Ruhr...” ketika berita datang bahwa Dortmund sudah mengalahkan Bayern untuk meraih gelar juara liga. Ini adalah salah satu contoh persatuan yang muncul dalam regional mereka, sesuatu yang sepertinya tidak akan pernah terjadi di Manchester atau London Utara, misalnya.