50 Manajer Sepakbola Terbaik di Dunia 2016 versi FourFourTwo: No.17, Antonio Conte

Perjalanan Italia di Euro 2016 berakhir dengan kekalahan menyakitkan lewat adu penalti, tapi tim Azzurri besutannya melebihi ekspektasi untuk melangkah sejauh itu. Kini ia ditugasi untuk mengubah kondisi buruk di Stamford Bridge

Tidak ada pelatih yang reputasinya naik melebihi Antonio Conte di musim panas ini, setelah pelatih Italia itu menggunakan Euro 2016 sebagai ajang pertunjukkan karya pribadi dari kecerdasan taktiknya.

Manajer baru Chelsea ini mendapatkan pujian dari dunia sepakbola setelah menang atas Belgia dan Spanyol, di mana kedua hasil itu diraih berkat perencanaan cermat dan pendekatan cerdasnya. Setiap Azzurri bermain, mereka seperti tahu persis apa yang diharapkan, dan tidak terkejut dengan upaya-upaya yang dilakukan lawan mereka. 

Antonio Conte

Conte merayakan bersama timnya di Euro 2016

Para pemain mengeksekusi rencana Conte dengan rapi, menyembunyikan kelemahan mereka sementara mengekspos kelemahan tim-tim yang melawan mereka. Penonton setia di Stamford Bridge akan menyaksikan bos baru mereka dengan rasa kagum saat ia berpatroli di pinggir lapangan dengan penuh kemarahan, namun berhasil menyampaikan ide-idenya dengan jelas kepada para pemainnya.

Jika Conte dapat menanamkan kesadaran taktik dan disiplin seperti itu di tim barunya sebelum musim 2016/17 berlangsung, maka Chelsea bisa menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan lagi.

Bukan yang pertama terjadi

Selain itu, sekali lagi, Conte mewarisi skuat yang bermain buruk tapi berbakat yang tidak akan berkompetisi di Eropa, dan karena itu ia hanya akan fokus dengan kompetisi domestik

Kedatangannya ke London memiliki banyak kesamaan dengan pengangkatannya sebagai pelatih Juventus pada 2011. Saat itu, Bianconeri finis di posisi ketujuh; kali ini ia datang dengan Chelsea membuat catatan pertahanan terburuk yang pernah dibukukan juara bertahan Premier League dan merosot ke posisi 10.

Selain itu, sekali lagi, Conte mewarisi skuat yang bermain buruk tapi berbakat yang tidak akan berkompetisi di Eropa, dan karena itu ia hanya akan fokus dengan kompetisi domestik.

Salah satu faktor kunci adalah pilihan formasinya, dan sulit untuk mengetahui apa yang diinginkan dari pelatih berusia 46 tahun tersebut dalam hal ini.

Sebelum tiba di Juventus, Conte selalu memainkan sistem empat bek. Hal tersebut berlanjut di awal kariernya di Turin, sebelum akhirnya ia beralih ke formasi tiga bek miliknya yang terkenal. Memiliki Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini membuat pilihan itu menjadi sesuatu yang masuk akal, tentu saja, dan hal itu terbawa saat ia melatih tim nasional Italia di mana ia terus mempertahankan formasi 3-5-2 miliknya.

Oscar, Branislav Ivanovic dan Thibaut Courtois

Chelsea terlihat seperti bayangan kekuatan mereka sebenarnya di musim lalu

Dari tukang ke penjahit

"Ketika saya masih di Italia saya kerap mengatakan bahwa manajer seperti penjahit yang harus membuat baju terbaik untuk tim – Anda harus menghormati karakteristik mereka, bakat mereka, dan kemudian Anda membuat keputusan."

- Antonio Conte

Sekarang ia tidak bisa lagi mengandalkan kualitas tinggi dari trio bek tersebut dan akan menarik untuk dilihat apakah sang pelatih bisa menjauh dari formasi yang membawanya sukses, meskipun dia sendiri menegaskan bahwa hal itu tidak akan menjadi masalah.

"Ketika saya masih di Italia saya kerap mengatakan bahwa manajer seperti penjahit yang harus membuat baju terbaik untuk tim – Anda harus menghormati karakteristik mereka, bakat mereka, dan kemudian Anda membuat keputusan," kata Conte pada konferensi pers pertamanya sebagai manajer Chelsea.

"Di masa lalu saya memulai musim dengan satu ide sepak bola dan kemudian saya berubah, karena saya melihat bahwa sistem itu tidak pas untuk para pemain. Tiga bek, empat bek, itu tidak penting bagi kami – apa yang penting adalah semangat tim jika kami ingin bersaing lagi untuk meraih gelar."

Keinginan untuk juara adalah sesuatu yang bisa membakar karakter berapi-api seperti Conte, yang dijuluki 'Il Martello' – Si Palu – untuk pendekatannya yang tanpa kenal lelah dalam melatih.

"Pesan yang paling penting adalah bahwa saya seorang pekerja," jelasnya kepada wartawan. "Saya hanya tahu jalan ini untuk menang – untuk segera membuat klub ini bisa kembali bersaing, untuk kembali bermain di Liga Champions, untuk kembali ke jalur memenangkan gelar. Saya hanya tahu kata ini – kerja, kerja, kerja."

Para pemain Chelsea jelas sudah mempelajari itu.

50-46 • 45-41 • 40-36 • 35-31 • 30-26 • 25-21 • 20 • 19 • 18 • 17

50 Manajer Sepakbola Terbaik di Dunia 2016 Versi FourFourTwo