50 Manajer Sepakbola Terbaik di Dunia 2016 Versi FourFourTwo: No.5, Unai Emery

Bagaimana Emery bisa terus melakukannya setiap tahun? Michael Yokhin menjelaskan mengenai tiga gelar juara Europa League secara beruntun bersama bersama Sevilla – dan membawanya mendapatkan pekerjaan di PSG yang haus akan gelar

Unai Emery datang ke Paris Saint-Germain sebagai seorang pelatih yang kaya akan pengalaman sangat konsisten. Ia telah memenangi tiga gelar Europa League secara berurutan bersama Sevilla, setelah sebelumnya membawa Valencia ke Liga Champions dalam tiga musim beruntun. Hal yang paling mengagumkan? Ia baru berusia 44 tahun.

Manajer asal Basque ini sudah berkarier selama sekitar satu dekade hingga saat ini, dan telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu manajer paling berbakat dan seorang profesional yang paling berdedikasi; seorang yang terobsesi pada detail dan terobsesi pada apa yang ia lakukan. Sekarang, ia berada di salah satu tim terkaya di dunia.

Emery memiliki CV yang sudah sangat bagus namun pekerjaan barunya membuka potensi baru di level yang berbeda untuknya. Setelah sebelummnya selalu bekerja dengan anggaran terbatas dan harus menerima penjualan para pemain bintangnya, ia sekarang berada di klub yang memiliki sumber finansial yang seolah tanpa batas.

PSG mendapatkan pelatih mereka

Kesuksesan instan

Emery selalu menjadi seorang manajer dalam pikirannya. Ia mengambil sertifkat kepelatihan saat masih bermain di divisi bawah, karena, seperti yang ia katakan sendiri, “Saya merasa bahwa kemampuan melatih ada di dalam diri saya.” Dan ia benar. Saat masalah cedera memaksanya untuk pensiun di tahun 2004 saat bermain di klub kecil divisi tiga bernama Lorca, klub tersebut langsung menunjuknya sebagai pelatih baru.

Pencapaiannya bersama Almeria yang terbatas benar-benar luar biasa

Di musim perdana, ia membawa mereka promosi ke Segunda Division di luar dugaan siapapun. Di musim keduanya, Lorca nyaris sekali mendapatkan promosi selanjutnyya ke La Liga, dengan memainkan sepakbola yang sangat menarik. Jika terjadi, ini bisa menjadi sensasi terbesar sepanjang sejarah sepakbola Spanyol.

Emery meninggalkan Lorca di posisi kelima di akhir musim tersebut, bergabung dengan Almeria yang berada di divisi yang sama. Musim berikutnya, Lorca langsung terjun kembali ke divisi tiga. Mereka kemudian menghilang enam tahun setelahnya.

Emery di masa mudanya

Kerugian Lorca adalah keuntungan Almeria. Sentuhan emas Emery berlanjut saat ia membawa Almeria promosi untuk pertama kalinya ke La Liga, dan kemudian membawa mereka ke posisi delapan pada musim 2007/08, di atas dua tim mapan, Valencia dan Athletic Bilbao. Itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa dengan skuat yang terbatas. Hebatnya, itu juga posisi terendahnya dalam satu musim penuh di liga sebagai manajer.

Di Almeria, pelatih muda ini memperkenalkan gelandang penghancur dari Brasil, Felipe Melo, dan merekrut Alvaro Negredo dari tim cadangan Real Madrid.

Bersama Emery, Negredo menjadi salah satu striker terbaik di Spanyol. Keduanya belakangan bereuni di Sevilla selama setengah musim yang spesial, di mana kedatangan Emery membuat Negredo bisa mencetak 17 gol dalam 19 pertandingan – termasuk sebuah hattrick ke gawang Celta Vigo dan mencetak empat gol daam kemenangan 4-3 atas Valencia – yang membuatnya pindah ke Manchester City.

Mereka cocok antara satu sama lain

Tetapi yang pertama, bagi Emery: Valencia, di mana ia bisa membuat namanya lebih terkenal lagi di panggung terbesar dunia sepakbola.

Menciptakan bintang-bintang baru di Los Che

Pelatih asal Basque ini pernah berkata bahwa memilih siapa yang bermain seharusnya menjadi keputusan terakhir yang harus dibuat, dan ia ingin ini menjadi sesuatu yang paling sulit untuk dilakukan

Valencia membutuhkan perbaikan setelah era penuh bencana Ronald Koeman. Datang pada tahun 2008, Emery – saat itu berusia 36 tahun – tidak hanya membawa timnya naik ke papan atas lagi, tetapi juga membuat talenta-talenta yang biasa saja menjadi para superstar. Ia berhasil mengeluarkan penampilan terbaik dari David Villa dan David Silva, selain juga mengubah Juan Mata menjadi pemain yang fantastis.

Pada musim panas 2009, seorang  gelandang berusia 20 tahun, Ever Banega, dan seorang bek berusia 19 tahun, Jordi Alba, kembali dari masa peminjaman mereka entah di mana, dan Emery mengubah keduanya menjadi bintang/

Jeremy Mathieu sebelumnya hanyalah pemain serba bisa yang diboyong dari Toulouse, tetapi cara ia dan Alba bermain bersama di sisi kiri pertahanan – keduanya bisa menjadi pemain sayap dan juga full-back kapanpun juga – sangatlah mengagumkan.

Pada tahun 2010, Roberto Soldado bergabung dari Getafe dan menjadi seorang mesin gol di bawah Emery. Daftar ini terus berlanjut.

Pelukan yang hangat, tetapi masih kalah dengan Emery dan Negredo

Valencia finis di posisi ketiga di belakang Barcelona dan Real Madrid selama tiga musim secara berurutan, dari 2010 hingga 2012, tapi para fans tidak puas. Mereka tidak mengerti bahwa ini adalah batas teratas mereka, titik tertinggi yang bisa dicapai Valencia, dan secara rutin mengkritisi Emery di akhir kariernya di klub ini.

Tapi ia tidak pernah berusaha untuk bersembunyi – justru sebaliknya. Saat Valencia dibantai Real Madrid di Mestalla pada tahun 2011, ia keluar ke pinggir lapangan sehingga para fans bisa mencemooh dirinya juga. “Saya tidak bisa meninggalkan para pemain sendiri. Saya harus bertanggung jawab,” jelasnya.

Emery selalu merasa bertanggung jawab untuk segalanya di klubnya. Ia ingin semua pemain di skuatnya berkembang dan berada dalam kondisi maksimal – dan tidak hanya para pemain regulernya saja. Pelatih asal Basque ini pernah berkata bahwa memilih siapa yang bermain seharusnya menjadi keputusan terakhir yang harus dibuat, dan ia ingin ini menjadi sesuatu yang paling sulit untuk dilakukan. Mudah sekali melihat mengapa sebagian besar pemainnya benar-benar menghormati dirinya.

Sambutan yang dingin

Ia tidak membiarkan kekecewaan besar pertamanya sebagai manajer mempengaruhinya

Bukan berarti bekerja di bawah Emery adalah hal yang mudah. Tidak sama sekali – ia sangat menuntut para pemain, dan sesi videonya yang terkenal seringkali membuat para pemainnya merasa gila. Joaquin pernah mengatakan, “Pelatih menunjukkan kami begitu banyak video sampai-sampai saya kehabisan popcorn.”)

Emery menghabiskan setidaknya 12 jam menonton dan menganalisa setiap lawan dan memberikan instruksi yang sangat spesifik untuk setiap pemain. Pada akhirnya, sebagian besar pemain mengerti bahwa sifat semacam ini membantu mereka untuk berkembang.

Mentalitas semacam ini tidak berjalan dengan baik di Rusia bersama Spartak Moskow, di mana striker Arten Dzyuba menyebut pelatih barunya “pelatih kecil kami”. Ia pun langsung dipecat hanya setelah enam bulan.

Karier Emery tidak selalu mulus dan penuh kejayaan

Tapi ia tidak membiarkan kekecewaan besar pertamanya sebagai manajer ini mempengaruhinya. Emery tidak bisa hidup tanpa bekerja dan Sevilla – dengan Monchi yang brilian sebagai Direktur Olahraga – terbukti sebagai proyek yang sempurna untuk dirinya.

Bangkit kembali

Di Sevilla, kembali di Spanyol di mana tempatnya berada, Emery sekali lagi meraih kesuksesan.

Emery membantu pemain-pemain semacam Ivan Rakitic, Carlos Bacca, dan Grzegorz Krychowiak menjadi bintang besar, dan membimbing para pemain bertalenta seperti Vitolo, Aleix Vidal, Vicente Iborra, dan Kevin Gameiro. Walaupun hasil di La Liga tidak selalu positif (Sevilla, secara luar biasa, adalah satu-satunya di lima liga besar Eropa yang tidak meraih satu pun kemenangan tandang di musim 2015/16), rekor mereka di kancah Eropa sudah cukup menjadi bukti.

Setelah kemenangan adu penalti atas favorit utama Benfica di musim 2013/14, mereka sukses menang 3-2 secara menegangkan di final Europa League setahun sesudahnya, dan catatan itu disempurnakan dengan hattrick gelar yang mereka raih pada Mei tahun ini. Los Rojiblancos tertinggal dari Liverpool di kala jeda, tetapi manajer mereka masih mempunyai sentuhan magis yang tersisa. Apapun yang ia katakan saat turun minum jelas bekerja dengan baik, dengan kebangkitan timnya di babak kedua membawa Sevilla menang 3-1.

Itu adalah pertandingan terakhir Emery bersama klub Spanyol tersebut. PSG langsung menggaet sosok yang mereka anggap cocok dengan ambisi mereka. Sekarang ia akan membawa metodenya ke ibukota Perancis, di mana klub super barunya memburu gelar juara di Liga Champions.

Apakah Emery akan bisa menjalankan tugas berat ini? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Tetapi sebaiknya jangan bertaruh ia akan gagal.

50-46 • 45-41 • 40-36 • 35-31 • 30-26 • 25-21 • 20 • 19 • 18 • 17 • 16 • 15 • 14 • 13 • 12 • 11 • 10 • 9 • 8 • 7 • 6 • 5

50 Manajer Sepakbola Terbaik di Dunia 2016 Versi FourFourTwo