59 Wonderkid U-21 Terbaik di Dunia versi FourFourTwo: 40-31

Naik ke posisi yang lebih tinggi dalam daftar ini ada pemain Argentina ya​ng dijuluki The New Mascherano, pemain pinjaman Manchester City yang tengah bagus-bagusnya dan bintang muda Eredivisie yang mungkin membutuhkan perubahan...

Oleh: Tom Kundert, Andrew Gibney, Priya Ramesh, David Cartlidge, Martin Mazur, Jonathan Harding. 

40. Gonçalo Guedes, 19 (Benfica)

Goncalo Guedes

Merupakan produk dari akademi Seixal milik Benfica yang mengorbitkan Renato Sanches musim lalu, penyerang gesit ini telah diprediksi akan memiliki karir cemerlang sejak melakukan debutnya pada usia 17 tahun.

Dia mengawali musim lalu dengan performa yang luar biasa dan membuat dirinya menjadi perhatian banyak orang dengan mencetak gol kemenangan saat Benfica meraih kemenangan mengejutkan di markas Atletico Madrid. Performanya menurun seiring berjalannya musim, meski 31 pertandingan dan empat gol membuktikan bahwa ia memberikan kontribusi yang cukup besar dalam kesuksesan The Eagles di musim 2015/16.

Musim ini ia telah membawa permainannya ke level yang berbeda. Rutin menjadi pemain inti, Guedes telah menambahkan agresi dan konsistensi yang lebih baik dalam permainannya, dan tidak melewatkan kesempatan untuk bersinar di Liga Champions lagi. Golnya yang luar biasa melawan Napoli hanya akan mengencangkan rumor di Portugal bahwa ia akan menuju Atletico Madrid pada bulan Januari nanti. TK

39. Issa Diop, 19 (Toulouse)

Issa Diop

Jika Anda cukup bagus berarti Anda cukup matang, dan setelah melakukan debutnya pada usia 18 tahun bersama Toulouse yang tengah berjuang menghindari degradasi dan akhirnya berhasil, Diop dengan cepat membuktikan bahwa dirinya siap untuk bertarung.

Debut sang bek tengah terjadi pada bulan November 2015 dan ia nyaris tidak pernah meninggalkan tim setelah itu, menjadi pemain inti dalam 21 pertandingan dan membantu Toulouse membukukan catatan delapan kali tidak kebobolan ketika mereka memastikan diri bertahan di Ligue 1 dengan mencetak gol kemenangan pada menit ke-80 atas Angers pada laga terakhir.

Diop – seorang atlet yang luar biasa, handal di duel udara dan cepat di atas lapangan – menghabiskan musim panasnya bekerja sama bersama pemain PSG Presnel Kimpembe dan memimpin timnas Prancis menjuarai Piala Eropa U-19. Dia telah menunjukkan performa yang cukup mengesankan di bawah kepelatihan Pascal Dupraz di Toulouse. AG

38. Enes Unal, 19 (FC Twente, pinjaman dari Man City)

Enes Unal

Unal telah menjadi sensasi di Eredivisie sejauh ini. Tujuh gol dari tujuh gol di semua kompetisi adalah cara sederhana untuk menggambarkan seberapa bagus penampilan anak muda Turki ini di liga tertinggi Belanda. Mari kita mulai dengan fakta bahwa pada kesempatan pertamanya menjadi pemain inti untuk Twente, striker ini mencetak hat-trick dalam waktu 15 menit di babak pertama (lihat video di bawah) – semua golnya layak untuk disaksikan.

Unal telah lama disebut-sebut sebagai bakat berkualitas, sejak bermain di Bursaspor. Ekspektasi meningkat ketika Manchester City merekrutnya pada tahun 2015, tetapi tidak semuanya berjalan sesuai rencana pada awalnya. Sebuah kesepakatan untuk menjadi pemain pinjaman selama dua tahun dengan klub Belgia Genk gagal, sehingga City pergi ke negeri tetangga dan Unal menghabiskan setengah musim bersama tim Eredivisie, NAC Breda. (Empat bintang muda City menyusulnya ke sana pada 2016/17).

Pemain berusia 19 tahun yang mirip John Mayer ini memiliki kemampuan penyelesaian akhir yang luar biasa, sentuhan pertama yang indah dan kemampuan untuk menahan bola dengan membelakangi gawang. Ia kini mulai dibandingkan dengan Zlatan Ibrahimovic, meski Pep Guardiola mungkin agak tertarik pada sang pemain, yang mungkin akan membuat pelatih City itu mempertimbangkan sesuatu untuk musim depan. PR

37. Maxwel Cornet, 19 (Lyon)

Maxwel Cornet

Merupakan sebuah kejutan ketika Lyon tidak berusaha lebih keras untuk menahan Clinton N'Jie ke Tottenham di musim panas 2015. Tapi, salah satu alasannya adalah Maxwel Cornet.

Direkrut dari FC Metz pada Januari 2015 sebelum ia bisa membuat debut di tim utama, ia segera membuat debut Ligue 1 melawan tim lamanya. Alexandre Lacazette dan Rachid Ghezzal menjadi rekan ideal baginya: trio itu saling melengkapi dengan sempurna, membantu pemain 20 tahun itu mencetak delapan gol – tujuh di antaranya tercipta dalam 12 penampilan terakhirnya sebagai starter.

Meskipun tingginya hanya 1,79 meter, pemain Prancis U-21 ini sepertinya akan berkembang menjadi penyerang tengah, meskipun ia dimainkan di sektor sayap Lyon sejauh ini. Kombinasi dari kekuatan dan kecepatannya adalah faktor yang sangat besar dalam tim besutan Bruno Genesio ini untuk finis di posisi kedua di Ligue 1. Ganjaran untuk mereka adalah tiket Liga Champions, di mana Cornet telah mencetak gol musim ini. AG

36. Riechedly Bazoer, 19 (Ajax)

Riechedly Bazoer

Kalau bukan karena penurunan performa sejak tahun baru, Bazoer akan berada di peringkat yang lebih tinggi dalam daftar ini. Gelandang kelahiran Utrecht ini adalah favorit Frank de Boer, namun dia kehilangan posisinya di Ajax sejak Peter Bosz mengambil alih. Mantan pelatih Vitesse itu masih berusaha menemukan formasi tiga gelandang terbaiknya, tapi untuk saat ini Bazoer harus menunggu di bangku cadangan.

Tidak diragukan lagi bahwa Bazoer memiliki potensi untuk menjadi gelandang kelas dunia suatu hari nanti. Masa depannya mungkin terletak posisi gelandang bertahan, tapi untuk saat ini atribut pemain berusia 19 tahun ini membuatnya lebih cocok untuk bermain sebagai gelandang box-to-box.

Mantan bintang muda PSV ini memiliki kemampuan mengumpan yang baik untuk terhubung dengan rekan-rekannya secara elegan dan percaya diri, dan, meskipun ada kecenderungan menghilang seiring laga berjalan, dia memiliki bakat mencetak gol dari jarak jauh. Bazoer dikabarkan masuk dalam daftar pemain yang diinginkan oleh De Boer di Inter, dan pergantian tim mungkin dapat menguntungkan dirinya dalam membawa perkembangannya kembali ke jalur yang tepat. PR

SELANJUTNYA: Mascherano mini yang diincar dua klub Madrid