59 Wonderkid U-21 Terbaik di Dunia versi FourFourTwo: 59-51

Kami memulai hitung mundur pemain-pemain muda terbaik di bawah usia 20 tahun di planet ini dengan pemuda Brasil yang dikaitkan dengan Chelsea, juara Premier League, dan pemain sayap yang menolak negara asalnya.

Oleh: David Cartlidge, Marcus Alves, Priya Ramesh, Jonathan Harding, Tom Kundert, Joe Brewin, Andrew Gibney, Michael Yokhin. 

59. Jesus Vallejo, 19 (Eintracht Frankfurt, pinjaman dari Real Madrid)

Seperti yang mereka lakukan dengan Marco Asensio dari Mallorca, Real Madrid bergerak cepat untuk mendapatkan Jesus Vallejo dari Real Zaragoza di tahun 2015. Bek tengah ini pun tumbuh dengan cepat – di usia 18 ia sudah menjadi kapten klub masa kecilnya dan memegangnya dengan alasan yang tepat.

Vallejo adalah pemain dengan kedewasaan dan kepemimpinan yang alami – ia juga menjadi kapten untuk Spanyol U-19 saat menjuarai Piala Eropa 2015. Tapi gaya bermainnya lah yang mendapatkan banyak pujian. Ia bisa saja menjadi Gerard Pique selanjutnya untuk Spanyol jika melihat gaya bertahan dirinya: mulus, bagus, dan penuh gaya.

Vallejo sangat berbakat saat menguasai bola dan menjadi komponen kunci saat memulai serangan dari pertahanan. Ia juga menunjukkan kemampuan untuk bermain sebagai full-back dengan kecepatan yang ia miliki, dan juga sebagai gelandang bertahan dengan kemampuannya saat menguasai bola. Para fans Spanyol nyaris tidak punya alasan untuk khawatir dengan masa depan lini belakang mereka. DC

58. Thiago Maia, 19 (Santos)

Dengan rekomendasi dari teman dekatnya, bek PSG, Marquinhos, Thiago Maia menandatangani kontrak dengan agen Giuliano Bertolucci di musim panas kemarin. Jadi apa artinya ini? Well, ia sekarang berpeluang untuk pindah ke Chelsea.

Fans The Blues seharusnya puas dengan hal ini. Gelandang bertahan milik Santos ini mengesankan –meski usianya masih 19 tahun, ia bermain seperti seorang veteran di lini tengah, cukup solid untuk melindungi lini belakang tapi dengan kemampuan umpan yang juga cukup bagus untuk bermain di posisi box-to-box. Ia adalah pemain paling menonjol Brasil di fase grup Olimpiade 2016 silam.

Maia terlihat bagus saat menguasai bola di kakinya, dan bisa melakukan dribel melewati tekanan lawan untuk membawa timnya maju lebih jauh di lapangan. Ia juga cukup percaya diri untuk melepaskan umpan dan selalu mencari cara untuk secepatnya melepaskan bola untuk menyerang, dengan cara yang cerdas. Anggap diri Anda sudah diperkenalkan. MA

57. Kasper Dolberg, 19 (Ajax)

Hanya beberapa pekan yang lalu, pemuda Denmark ini bergabung ke daftar hebat bersama nama-nama semacam Johan Cryuff dan Marco van Basten dengan menciptakan gol dalam pertandingan debutnya untuk Ajax, dalam pertandingan kandang menghadapi PAOK (dan sebuah gol yang sangat bagus pula, cek di bawah ini).

Dolberg didatangkan dari Silkeborg IF hanya setahun setelah masuk dalam radar pantauan John Steen Olsen, yang memang memiliki catatan bagus dalam memantau bakat Skandinavia untuk Ajax – di antaranya adalah Zlatan Ibrahimovic dan Christian Eriksen.

Meski ada Bertrand Traore yang dipinjam dari Chelsea, Dolberg sudah diberikan kesempatan untuk menjadi starter di awal musim untuk Ajax – dan yang lebih penting lagi, setiap kali diberikan kesempatan, penampilannya menunjukkan bahwa ia memang pantas dipilih. Pemain 18 tahun ini memiliki kecepatan, dan lebih lagi, tembakan hebat dengan kaki kanannya. Bahkan di luar wajah datar dan kepribadiannya yang kalem, Dolberg memiliki ketenangan tertentu dan tidak memiliki rasa tegang jauh seperti pemain yang di atas umurnya – mungkin hampir sama dengan rekan senegaranya, Eriksen, saat ia muncul dahulu. Dan ini bukan sebuah jalan yang buruk untuk diikuti. PR

56. Benjamin Henrichs, 19 (Bayer Leverkusen)

Pernah tampil di semua level tim nasional muda Jerman, produk asli akademi hebat Bayer Leverkusen dan peraih medali emas Fritz Walter untuk tahun 2016 ini muncul entah dari mana tanpa kehebohan dan menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk bek kanan di tim utama. Atau malah bek kiri, di mana ia tampil sebagai pemain terbaik dalam pertandingan menghadapi Borussia Dortmund? Tampaknya, ini tidak masalah.

Mengawali karier sebagai gelandang serang – 11 gol dan 17 assist adalah catatan yang cukup bagus selama tiga tahun di level U-19 – Henrichs mempertahankan keinginan yang kuat untuk menyerang. Meski begiu, tekelnya kuat dan kecepatannya membuatnya bisa memotong bola lebih sering daripada dilewati lawan.

Walaupun masih harus berkembang dalam sisi lain permainan, Henrichs sudah mengalahkan salah satu rekan satu timnya, Tin Jedvaj (yang juga seorang pemain hebat) untuk satu posisi di tim utama musim ini. Berdasarkan kecepatan perkembangan dirinya, satu musim penuh sebagai pemain di tim utama akan membuatnya terus berkembang dan akan berakhir di posisi atas generasi penuh talenta di lini belakang Jerman saat ini. JH

55. Jorge Meré, 19 (Sporting Gijon)

Spanyol tengah mencari seorang bek tengah yang andal, dan salah satu yang siap untuk muncul adalah Mere. Ia sudah dilabeli sebagai talenta terbaik yang muncul dari Sporting Gijon semenjak David Villa, dan label ini kemungkinan besar memang punya dasar yang kuat.

Mere harus bisa tumbuh dengan cepat di Sporting, dan dilemparkan ke tim utama dengan usia yang masih sangat muda. Ia menjalani debutnya di usia 18 tahun dan sekarang menjadi penghuni tetap tim utama di usia 19 tahun, tapi ketenangannya di lapangan sangat bagus – sebuah campuran sempurna dari Carles Puyol dan Gerard Pique.

Ada sisi-sisi kasar juga dalam permainan dirinya, ditunjukkan dengan bagaimana ia dengan keras menjalankan tugas bertahannya, tapi juga mampu memperlihatkan bahwa dirinya bisa mencium dan menghentikan bahaya dengan cara yang baik. Ini adalah sebuah koktail pertahanan yang sempurna, dan Mere memiliki semua elemen yang pas. DC

Selanjutnya: Siapa pemain muda yang sudah menjuarai Premier League?