7 Hal Penting yang Patut Kamu Ketahui dari Jeda Internasional FIFA (31 Agustus-7 September 2016)

Jeda internasional telah resmi berakhir, laga-laga persahabatan dan kualifikasi Piala Dunia 2018 telah dijalani oleh berbagai negara anggota FIFA di seluruh dunia. Lantas apa saja hal-hal atau laga-laga penting yang tersaji pada jeda internasional kemarin?

Indonesia kembali ke sepakbola internasional!

Jeda internasional kali ini terasa menyenangkan bagi publik sepakbola Indonesia karena tim nasional kita akhirnya kembali berlaga di sepakbola internasional. Laga uji coba melawan Malaysia pada Selasa malam (6/9) di Manahan, Solo, pun menjadi laga pertama Merah Putih selepas dicabutnya sanksi FIFA pada Mei lalu.

Hebatnya, Indonesia menandai comeback ini dengan kemenangan telak 3-0 atas rival AFF kita. Gol-gol dari Boaz Solossa (2) dan Irfan Bachdim dalam 22 menit pertama tak hanya memberikan para pecinta sepakbola nasional obat rindu akan timnas, namun juga kepuasan yang luar biasa.

Ini adalah langkah pertama Indonesia menuju AFF Suzuki Cup 2016, yang akan dihelat di Filipina dan Myanmar pada November mendatang. Langkah pertama yang menjanjikan.

Pensiunnya dua legenda

Jeda internasional kali ini dimulai dengan dua laga perpisahan dua legenda di tim nasionalnya masing-masing. Pertama, dari tim nasional Jerman, ada sang kapten, Bastian Schweinsteiger, yang memutuskan untuk pensiun dan menjalani laga terakhirnya dalam pertandingan persahabatan menghadapi Finlandia.

Dalam laga yang berlangsung di Stadion Borussia-Park pada 31 Agustus lalu itu, Schweinsteiger mengakhiri 12 tahun kariernya bersama Der Panzer. Total ia mencatatkan 121 penampilan dan 24 gol untuk timnas Jerman. Tangis haru pun keluar dari matanya dalam pertandingan kontra Finlandia itu. Begitu pula dengan gemuruh tepuk tangan penonton pada menit ke-68 ketika pemain berusia 32 tahun itu ditarik keluar dan digantikan Julian Weigl. Di laga perpisahannya, Jerman mampu menang dengan skor 2-0.

Bastian Schweinsteiger diangkat oleh Manuel Neuer dan Thomas Mueller dalam laga perpisahannya. Bye Basti!

Laga perpisahan kedua terjadi pada waktu yang sama, namun kali ini terjadi di Stadion Aviva. Dalam laga persahabatan kontra Oman, legenda sekaligus kapten Irlandia, Robbie Keane, memutuskan untuk pensiun dan laga tersebut merupakan laga perpisahannya. Yang membuat laga ini menjadi begitu spesial adalah Keane juga turut mencetak satu dari empat gol kemenangan Irlandia pada laga itu. Tepuk tangan meriah dari seisi stadion pun mengiringi kepergian sang kapten kala dirinya digantikan oleh Wes Hoolahan pada menit ke-57.

Debut manis Big Sam dan Lopetegui, namun pahit untuk Ventura dan Martinez

Jeda internasional kali ini juga menandai debut empat pelatih anyar di empat negara raksasa Eropa, Inggris, Spanyol, Belgia, dan Italia.

Inggris mengawali laga perdana di bawah asuhan Sam Allardyce kala menghadapi Slowakia di babak kualifikasi Piala Dunia 2018 Grup F. Pada pertandingan itu, Big Sam berhasil mencatatkan debut manis dengan meraih kemenangan di kandang lawan. Namun kemenangan tersebut kurang mengesankan karena masih banyak pekerjaan rumah untuk eks pelatih Sunderland itu. Harry Kane masih belum mampu tampil tajam, begitu pun dengan Raheem Sterling. Beruntung muka Big Sam diselamatkan oleh aksi ciamik Adam Lallana.

Adam Lallana (muka tertutup) menyelamatkan muka Big Sam

Julen Lopetegui menjalani laga perdana sebagai pembesut Spanyol dalam laga persahabatan kontra tim kuat, Belgia. Dalam laga yang berlangsung di Stadion King Baudouin itu, Lopetegui berhasil meraih kemenangan dengan skor meyakinkan, 2-0. Dua gol La Furia Roja dicetak oleh David Silva. Kebetulan pula, Belgia yang kalah itu juga sedang menjalani laga perdana bersama pelatih anyarny,a Roberto Martinez. Sayang walau bermain di kandang sendiri dan dengan kekuatan penuh, eks pelatih Wigan dan Everton itu gagal membawa Eden Hazard dan kolega meraih kemenangan.

Terakhir, laga debut juga mewarnai Italia. Setelah era Antonio Conte berakhir, kali ini Gli Azzurri diambil alih Giampiero Ventura. Sayangnya, Ventura memulai debut bersama Italia dengan kekalahan. Leonardo Bonucci dan kawan-kawan harus mengakui keunggulan 1-3 Prancis. Padahal pada laga tersebut eks pelatih Torino itu masih menerapkan pola permainan yang serupa dengan pola yang dipakai Conte. Sayang hasil yang didapat masih belum sesuai harapan.