Ada Apa Dengan Angel Di Maria?

Michael Cox mencari tahu, apakah taktik dari Louis van Gaal membuat pemain terbaik final UCL musim lalu, Angel di Maria menjadi kehilangan sentuhan dan kepercayaan dirinya. Semua terkuak disini...

Sangatlah wajar bagi pemain baru Liga Primer Inggris yang baru pindah dari klub asal La Liga melalui masa-masa sulit saat Natal, tetapi hanya pada momen itu saja, karena mereka belum terbiasa bermain sepanjang musim tanpa ada jeda istirahat Natal dan Tahun Baru. Sayangnya, bagi Angel di Maria, ketajaman dan permainan menariknya seperti yang ditunjukkan kala masih berseragam Real Madrid, masih tidak tampak di Manchester United. Dirinya hingga saat ini masih belum bisa memberikan pengaruh yang berarti kepada skuat asuhan Louis Van Gaal tersebut.

Statistik permainannya berbicara, pemain asal Argentina tersebut memang sukses mencetak tiga gol dan membuat empat assists dalam lima pertandingan pertamanya, dirinya juga sukses membukukan dua assists lainnya pada bulan November. Tetapi saat ini, dirinya sama sekali tidak bisa mencetak gol dan hanya bisa memberikan dua assists dari 10 pertandingan terakhinya, hal ini juga diperparah dengan penampilan buruknya dalam tiga pertandingan terakhir, dimana hal itu membuatnya ditarik keluar oleh Van Gaal yang kala itu menginginkan timnya mencetak gol.

Sepertinya, Louis van Gaal telah habis kesabarannya dengan Di Maria, tetapi bisa dibilang taktik dari pelatih asal Belanda tersebut yang membuat pemain Argentina tersebut kesulitan dan merana di setiap pertandingannya.

Sepertinya sangat sulit bagi semua pemain untuk melaukan apa yang diinginkan oleh Van Gaal di Manchester United. Hasil akhir memang bagus, dimana penampilan adalah segalanya, tetapi sangatlah sulit menentukan siapa pemain terbaik dari begitu banyak pemain Manchester United, selain penjaga gawang mereka, David De Gea yang bermain sangat luar biasa sepanjang musim ini.

Satu yang membuat frustasi para pemain Manchester United adalah, seringnya Louis Van Gaal mengganti-ganti formasi, yang membuat para pemainnya sangat susah untuk beradaptasi dan terbiasa dengan skema dari pelatih asal Belanda tersebut.

Beberapa pemain telah memainkan tiga posisi yang berbeda pada musim ini, walaupun hal tersebut menjadi keuntungan sendiri bagi United, dimana mereka pernah mendapatkan keuntungan tersebut dari pemain seperti John O'Shea dan Phil Neville yang bermain dengan tiga posisi berbeda sepanjang karir mereka, sayangnya hal ini bisa membuat pemain United tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya kala dimainkan bukan pada posisi asli mereka.

Ini adalah problem utama dari United musim ini, dan Di Maria menjadi korban utamanya. Ada beberapa pemain yang mendapatkan keuntungan dari bermain di berbagai posisi, seperti Adnan Januzaj dan Phil Jones.

Untuk pemain lainnya seperti Ashley Young dan Marouane Fellaini, perubahan posisinya berjalan dengan mulus dan cocok dengan kemampuan mereka, sedangkan bagi Wayne Rooney dan Michael Carrick yang lebih berpengalaman, perubahan posisi yang mereka lakukan bukanlah hal yang sulit bagi kedua pemain tersebut. Akan tetapi, seharusnya Angel di Maria sudah menjadi pemain penting bagi Manchester United bukan menjadi pemain pelengkap tiap minggunya.

Dia biasa bermain di sayap kiri di lapangan tengah dari formasi berlian, dimana dirinya bisa menerima umpan pendek dan melepaskan umpan dari kaki ke kaki, setelah itu Di Maria bisa menusuk ke tengah. Ini adalah posisi terbaiknya, dimana dengan formasi ini, dia sukses menjadi bintang di Benfica, dimana ada Javi Garcia, Ramires dan Pablo Aimar yang membantunya di lapangan tengah dan hal ini juga diperankan olehnya saat di Real Madrid, dimana perannya disini semakin menyempit dan jelas.

Dia lebih menjadi seorang pemain tengan dibandingkan menjadi sayap murni, dengan dibekali skill dan trik yang menawan juga dilengkapi dengan dribble yang sempurna. Formasi berlian sangatlah cocok baginya dan dengan formasi itu pada awal karirnya di Inggris, sukses membawa dirinya mencetak gol dan menciptakan tiga peluang pada debutnya.

UNDUH SEKARANG iOS • Android

Kemudian, Van Gaal malah berpikir kalau Di Maria akan lebih baik bermain sebagai penyerang. Skema ini telah terbukti dengan Arjen Robben yang bermain gemilang pada Piala Dunia tahun lalu, dimana dirinya bermain sebagai penyerang bayangan bersama Bayern Munchen. Hal inilah yang membuat pelatih asal Belanda tersebut memainkan Di Maria sebagai penyerang bayangan.

Kadang skema ini berhasil dan sukses ketika United mencetak gol dari serangan balik kala menghadapi Arsenal dan Yeovil, tetapi hal itu membuat Di Maria tidak terlihat sepanjang pertandingan. Dengan kurangnya dinamisme dan mobilitas dari pemain tengah United, perubahan posisinya menjadi tanda tanya, tetapi Van Gaal tetap memainkannya di depan dengan Wayne Rooney yang bermain lebih kedalam di lapangan tengah.

Belakangan ini, posisi Di Maria lagi-lagi berubah, dirinya bermain lebih melebar, dimana dirinya bisa bermain dengan baik, seperti yang ditampilkannya musim lalu bersama Real Madrid di bawah asuhan Carlo Ancelotti, tetapi kini, semua sepertinya telah terlambat, karena pemain Argentina tersebut seperti telah kehilangan kepercayaan diri dan sulit untuk mengulang kesuksesan musim lalunya.

Dia sering sekali kehilangan bola dan bermain sangat buruk, hal ini dilengkapi dengan kacaunya umpan dan dribblenya kala menghadapi Newcastle United pada tengah pekan lalu. Pergerakannya mudah terbaca dan kontribusinya malam itu benar-benar nihil.

UNDUH SEKARANG iOS • Android

Kesan pertama tentang dirinya begitu menempel dengan kita. Di Maria pada awal karirnya di Manchester United sangatlah menjanjikan dan dia tetap pemain dengan potensi sangat besar. Tetapi dia adalah pemain termahal kelima sepanjang sejarah sepakbola dan sejauh ini penampilannya sangat jauh dari harapan banyak pihak, khususnya Setan Merah.

Dirinya harus bisa membuktikan diri di setiap pertandingannya, pertandingan perempat final Piala FA melawan Arsenal sepertinya pantas menjadi awal dari lahirnya kembali Angel di Maria. Mari kita lihat, sejauh apa pemain Argentina ini bisa membuktikan diri kepada Manchester United, bahwa mereka tidak salah memboyongnya dari Real Madrid.