Ada Apa dengan Paul Pogba?

Paul Pogba bisa menjadi wajah baru dari Manchester United. Namun, sejauh ini, performanya belum memuaskan. Evans Simon mencoba menjelaskan situasi, beserta kemungkinannya.

Jika ada satu pemain yang paling mencuri perhatian publik pada awal musim 2016/17 ini, ia adalah Paul Pogba. Manchester United, dengan dorongan dari manajer baru mereka, Jose Mourinho, rela memecahkan rekor transfer demi memboyongnya dari Juventus.

Kabar kepulangan Pogba ke Old Trafford tidak serta merta menjadi buah bibir hanya karena harga dan masa lalu yang membayangi. Ia adalah salah satu dari segelintir pemain yang transfernya disambut gembira – bahkan tak menutup kemungkinan didukung langsung – oleh apparel klub, Adidas, yang juga sponsor pribadi dari sang gelandang. Kepindahannya di-sinetron-kan.

Bukan tanpa alasan jika adidas dan United sama antusiasnya dalam mempersiapkan karpet merah untuk Pogba. Dari segi bisnis, ini adalah transfer yang berpotensi besar meraup keuntungan. Buktinya, (terima kasih kepada taktik pemasaran) penjualan kaus bernomor punggung 6 tersebut menembus angka £190 juta hanya dalam kurun waktu tiga pekan. Padahal, performa Pogba di atas lapangan biasa-biasa saja sejauh ini, bahkan relatif mengecewakan.

Hal terakhir menjadi penting bagi United. Sebagai sebuah klub olahraga, apalagi kerap membangga-banggakan diri sebagai salah satu yang paling bersejarah di level global, tentu mereka tidak bisa (baca: pantas) jika hanya memikirkan sisi finansial. Ada ‘tanggung jawab’ kepada para penggemar untuk meraih kemenangan, dan trofi juara sebagai hadiah utama. Bukan hanya kepada warga lokal Manchester, tetapi juga kepada penggemar di seluruh belahan dunia yang rela tak acuhkan kejamnya kurs demi memiliki rasa keterikatan.

Pogba sendiri, sewajarnya, tak bisa jika hanya menjadi bidak sebuah kesebelasan bernama Man United.

Mempertanyakan posisi Pogba

Tentu saja, Manchester United, yang diotaki Mourinho, juga punya alasan olahraga ketika berani menggeser Gareth Bale dari tahtanya sebagai pemain termahal di dunia. Ada harga, ada kualitas. Pogba telah menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan sebagai gelandang kelas dunia di usianya yang baru 23 tahun. Selama empat musim membela Juventus, ia menjadi tulang punggung di lini tengah tim. Empat scudetto dan dua titel Coppa Italia yang telah ia menangkan bersama Bianconeri menjadi buktinya.

Prestasi dan performa Pogba kala berkostum Juventus itulah yang diharapkan dapat langsung ditunjukkan bersama United musim ini. Namun, dari lima pertandingan yang telah dijalani di seluruh kompetisi, ia malah menjadi bahan olokan karena penampilan rambutnya lebih mentereng ketimbang permainannya di atas lapangan.

Bermain dalam skema 4-2-3-1, Pogba, didampingi Marouane Fellaini, tak mampu mendominasi lapangan tengah sebagaimana diharapkan. Ini bukan sepenuhnya soal kemampuan individu. Dalam beberapa kesempatan, ia berhasil menunjukkan kualitas olah bola dan fisik yang memaksa lawan melakukan pelanggaran. Tetapi, sumbangsihnya dalam konteks kolektivitas tim tidak dapat dikatakan benar.

Ketika Pogba maju, formasi Man. United menjadi seperti 4-1-4-1. Penumpukan empat pemain yang cenderung sejajar di depan kotak penalti Watford malah membuat mereka kebingungan untuk mengalirkan bola

Entah apa yang sebenarnya diperintahkan Mourinho kepada Pogba. Hanya saja, dalam pertandingan melawan Watford di Stadion Vicarage Road pada Minggu (18/9), terutama di babak pertama, Pogba terlalu sering melupakan zona penjagaannya, meninggalkan Fellaini seorang diri sehingga Watford justru leluasa mengalirkan bola ke sepertiga akhir lapangan.

Terlebih lagi, ketika Pogba maju, formasi Man. United menjadi seperti 4-1-4-1. Penumpukan empat pemain yang cenderung sejajar di depan kotak penalti Watford malah membuat mereka kebingungan untuk mengalirkan bola, karena barangkali memang bukan ini taktik yang seharusnya diimplementasikan di atas lapangan.

Kondisi ini hampir mirip dengan waktu Pogba membela tim nasional Prancis di Piala Eropa 2016 kemarin. Ia terlihat kesulitan menampilkan performa terbaik karena tidak memiliki kebebasan dalam mengeksplorasi lapangan karena ia berisiko mengambil ruang milik Antoine Griezmann. Beruntung bagi Les Blues, nama terakhir mampu bermain impresif sepanjang turnamen. Sementara, di United, tidak ada pemain yang ‘menjadi Griezmann’.