Alasan-Alasan Mengapa John Stones Pantas Menjadi Bek Inggris Termahal Sepanjang Sejarah

Keinginan Pep Guardiola untuk mendapatkan John Stones akhirnya terwujud. Bek tengah berusia 22 tahun itu telah resmi berseragam Manchester City dengan bandrol £47,5 juta. Apa yang membuat Guardiola sangat tertarik mendatangkannya sehingga City harus mengeluarkan uang begitu banyak? Bergas Agung menjelaskan beberapa alasannya...

Sejak musim 2015/16 lalu, John Stones memang sudah menjadi incaran banyak klub-klub besar. Dari Premier League, Chelsea dan Manchester City sangat bernafsu ingin mendatangkannya. Sementara itu, raksasa La Liga, Barcelona dan Real Madrid, dikabarkan juga tertarik untuk meminang bek tengah tim nasional Inggris itu. Beberapa tawaran pun dilakukan, namun sayang Everton belum merestui.

Setelah berakhirnya musim 2015/16, kabar ketertarikan klub-klub besar itu kepadanya semakin kencang. Namun, kabar semakin membesar ketika Pep Guardiola, pelatih anyar City untuk musim 2016/17, secara terang-terangan sangat ingin memboyong pemain jebolan akademi Barnsley itu ke Etihad Stadium.

Sebagai pelatih yang terkenal mampu memaksimalkan talenta pemain dan kaya akan pengalaman, Guardiola tentu tahu jika bakat yang dimiliki Stones begitu besar. Belum lagi, bek bertinggi badan 188 centimeter itu dianggap merupakan bek yang cocok dengan skema ala Guardiola. Tak heran jika City rela menjadikan Stones pemain Inggris termahal kedua untuk memenuhi keinginan pelatih asal Spanyol itu.

Tapi, apa saja sebenarnya yang dimiliki Stones sampai-sampai Guardiola dan Manchester City rela meghabiskan uang banyak untuk dirinya?

John Stones, Inggris

Masih 22 tahun, John Stones sudah menjadi andalan lini pertahanan timnas Inggris

Ball-Playing Defender   

Sebagai pelatih yang gemar menerapkan skema umpan-umpan pendek taktis sejak lini belakang, Pep Guardiola jelas membutuhkan seorang bek tengah yang tak hanya kokoh dalam bertahan, namun juga piawai mengalirkan dan memegang bola. Kita tentu tahu sepanjang karir kepelatihannya, Guardiola sangat mengedepankan penguasaan bola. Tengok saja statistik penguasaan bola Barcelona dan Bayern Muenchen sepanjang masa kepelatihannya yang rata-rata selalu di atas 60 persen. Keputusannya memilih John Stones untuk mengambil peran sebagai ball-playing defender Manchster City musim depan dirasa tepat. Pasalnya berdasar statistik, pemain berusia 22 tahun itu memiliki kelebihan dalam soal mengalirkan bola dan menyusun serangan sejak lini belakang.

Bersama Everton pada musim 2015/16 lalu, Stones memiliki rataan umpan sukses sebanyak 89 persen. Persentase itu lebih besar daripada torehan dua ball-playing defender terbaik dunia saat ini, Jerome Boateng yang mencatatkan 86 persen rataan umpan sukses di Bundesliga bersama Bayern Muenchen musim lalu dan Leonardo Bonucci yang mencatatkan 87 persen rataan umpan sukses bersama Juventus di Serie A sepanjang musim lalu. Torehan Stones juga lebih baik dari bek-bek top Premier League musim lalu seperti Toby Alderweireld (Tottenham Hotspur), Lauren Koscielny (Arsenal), dan Chris Smalling (Manchester United).

Bersama Everton pada musim 2015/16 lalu, Stones memiliki rataan umpan sukses sebanyak 89 persen. Persentase itu lebih besar daripada torehan dua ball-playing defender terbaik dunia saat ini, Jerome Boateng dan Leonardo Bonucci

Selain itu, sebagai seorang bek tengah, Stones juga mempunyai kemampuan untuk melewati lawan (take-on) yang baik. Tercatat pada musim lalu, pemain bernomor punggung 24 itu sukses melakukan 23 kali usaha melewati lawan. Torehan itu melebihi deretan nama-nama bek tengah top di atas. Bahkan yang paling mendekati catatannya hanya raihan Bonucci yang musim lalu sukses melakukan 17 kali usaha melewati lawan. Kemudian, torehan enam umpan kunci dan kreasi serangan, serta 1110 umpan yang mengarah ke depan milik Stones pada musim lalu membuktikan jika dirinya merupakan seorang ball-playing defender yang cukup mumpuni.

John Stones

Jangkauan dan akurasi umpannya sangat dibutuhkan dalam skema Pep Guardiola

Bahkan seluruh torehan statistik umpan-umpan yang dimiliki Stones musim lalu juga mengungguli empat bek tengah Man City lainnya, yakni Vincent Kompany, Eliaquim Mangala, Nicolas Otamendi, dan Martin Demichelis. Dengan kebutuhan skema Guardiola yang membutuhkan keterampilannya, Stones jelas adalah orang yang tepat jika dibanding keempat rekannya. Apalagi dalam beberapa laga pra-musim, pelatih berkepala plontos itu menurunkan Aleksandar Kolarov yang sejatinya berposisi bek kiri, sebagai bek tengah mengingat keempat nama tadi tak memiliki kemampuan yang cukup baik dalam mengalirkan dan menyusun serangan.