Apa Yang Salah Dengan Juan Sebastian Veron di Manchester United?

Juan Sebastian Veron

Karirnya di Old Trafford dinilai banyak orang tidak sukses, tapi apakah adil menyebutkan bahwa dirinya adalah salah satu transfer terburuk di Liga Inggris? Emmet Gates menjelaskan mengapa orang Argentina ini layak menerima lebih banyak pujian.

He’s a f***** great player!” (Ia adalah seorang pemain yang hebat!), teriak Sir Alex Ferguson yang mendadak meledak di depan para wartawan yang sedang berkumpul di tahun: 2002. Pemain yang ia bela dengan begitu keras, adalah Juan Sebastian Veron.

Sir Alex Ferguson, Juan Sebastian Veron

Ferguson dan Veron, semua tersenyum

Persepsi umum tentang karier Veron di Inggris adalah sebuah kegagalan yang begitu besar. Silahkan cari daftar transfer terburuk di dalam sejarah Liga Inggris dan Anda kemungkinan besar akan menemukan namanya, terjepit –secara sedikit tidak adil- di antara Andriy Shevchenko dan Tomas Brolin, Bebe, dan Eric Djemba-Djemba. Pemain-pemain ini biasanya sudah melewati masa-masa puncak penampilan mereka saat datang (Shevchenko, Brolin) atau menjanjikan penampilan puncak yang tidak pernah tercapai (Bebe, Djemba-Djemba, Kleberson –daftar ini tidak ada ujungnya, dan tidak hanya terjadi di Old Trafford).

Namun, Veron tidak masuk dalam ke satupun kategori ini. Pemain tengah Argentina ini sedang berada di puncak penampilannya pada musim panas 2001 saat Manchester United membayar 28,1 Juta Pound untuk mendatangkan dirinya, sebuah rekor tersendiri di sepakbola Inggris ketika itu. Ia adalah pemain kelas Dunia dan, di usianya yang baru 26 tahun, dirinya masih memiliki bertahun-tahun lagi untuk memainkan sepakbola kelas dunia di dalam kariernya.

Jadi, keluarlah sebuah pertanyaan: apakah Veron begitu buruk di Inggris? Masa-masanya di Chelsea jelas adalah sebuah bencana tersendiri, tapi ketika itu reputasinya memang sudah hancur lebur; dua musim yang ia jalani di Manchester lah yang selalu dijadikan bukti untuk menilai dirinya. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk menilainya kembali?

Joe Cole, Claudio Ranieri, Juan Sebastian Veron

Veron pindah ke Chelsea di bawah asuhan legenda Leicester City sekarang, Claudio Ranieri

Memimpin Lazio Meraih Gelar Double

Proses yang membawa United membeli La Brujita (Sang Penyihir Kecil) ini dimulai satu tahun sebelumnya pada bulan April tahun 2000, dengan kekalahan mereka dari Real Madrid di Perempat Final Liga Champions. Sang juara bertahan benar-benar tidak berdaya di Old Trafford menghadapi pasukan Vicente Del Bosque, dengan pergerakan pandai dari Steve McManaman dan Ivan Helguera dalam formasi 4-3-3, yang membuat Fernando Redondo leluasa untuk mengacak-acak lini tengah Setan Merah, menyerang ruang kosong dan melakukan pertahanan ketat dan sulit ditembus untuk timnya dengan bagus dan efisien.

Trio lini tengah Los Blancos saat itu tampak lebih cerdas, lebih kuat saat bertarung, dan yang paling mendasar, pemain tengah mereka lebih banyak, daripada United yang hanya mengandalkan Roy Keane dan Paul Scholes. Ferguson, yang sepanjang tahun 90an adalah salah satu pelatih yang paling setia dengan formasi 4-4-2, memutuskan untuk mengubah sistemnya. Keputusan ini cukup untuk mengamankan satu trofi di tahun sebelumnya, tapi tdak cukup kuat untuk level Eropa, dan Orang Skotlandia ini merasa jika ia tetap ngotot mempertahankan formasi ini, dia tidak akan bisa membantu timnya untuk kembali mencapai Puncak kompetisi Eropa.

Veron, pada saat itu, sedang menjalani performa terbaik sepanjang hidupnya di Lazio. Ia bergabung bersama mereka di musim panas sebelumnya dari Parma dengan harga 18 Juta Pound dan, secara kebetulan, dia menjalani debutnya menghadapi Manchester United pada Piala Super Eropa di Monaco. Ia menciptakan gol di debut-nya di liga kala menghadapi Cagliari, yang pertama dari lima gol yang ia cetak di enam pertandingan pertama.

Veron bergabung bersama Lazio di musim panas sebelumnya dari Parma dengan harga 18 Juta Pound dan, secara kebetulan, dia menjalani debutnya menghadapi Manchester United pada Piala Super Eropa di Monaco.

Dalam salah satu musim yang paling mengesankan sepanjang sejarah Serie A, Lazio memulihkan diri dari ketinggalan sembilan poin untuk merebut Scudetto pada musim 1999/2000 dari Juventus pada hari terakhir liga.

Juventus, bertandang ke Perugia dan tertinggal satu gol, dan mereka terpaksa memainkan sisa pertandingan mereka dengan kondisi lapangan yang begitu buruk, dilanjutkan dengan hujan yang amat sangat deras sehingga membuat pertandingan harus tertunda sementara waktu, ini artinya laga Lazio berakhir terlebih dahulu. Mereka sudah menghancurkan Reggina, menang 3-0 dengan Veron menciptakan gol kedua, dan harus menunggu dengan gugup selama 10 menit untuk mengetahui hasil akhir Si Nyonya Tua. Perugia berhasil mempertahankan keunggulan; Lazio memenangi trofi mereka.

Musim sebelumnya, Biancocelesti kehilangan gelar mereka dengan selisih satu poin saja dari Milan dalam kondisi yang sama. Lazio kehilangan satu genggaman mereka di trofi pada pertandingan terakhir musim tersebut, saat bertandang ke Fiorentina.

Juan Sebastian Veron, Lazio

Veron merayakan gelar doublenya bersama Lazio, Diego Simeone ada di sebelahnya

Pada perubahan abad, Permainan di Eropa dipenuhi dengan pemain tengah berbakat kelas atas, dan Veron adalah salah satu yang terbaik di antaranya.

Pembeda di antara dua musim tersebut adalah Veron. Ia sangat krusial dalam menjadi pemimpin permainan Lazio dari dalam, tapi juga memiliki keleluasaan untuk menyerang, sesuatu yang tidak mereka miliki pada musim 1998/99 yang gagal itu. Ia menciptakan delapan gol di Liga –rekor pribadi- dan memberikan kontribusi penting di Coppa Italia saat Lazio berhasil mengamankan Gelar Ganda di musim  itu.

Pada perubahan abad, Permainan di Eropa dipenuhi dengan pemain tengah berbakat kelas atas, dan Veron adalah salah satu yang terbaik di antaranya.