Apakah Karier Memphis Depay Berakhir Karena Jesse Lingard?

John Robertson menganalisis mengapa pemain berusia 22 tahun dari Warrington ini bisa mengalahkan pemain internasional Belanda...

Memphis Depay yang dibeli senilai £25 juta semestinya menjadi penanda bab baru dalam sejarah Manchester United. Pemain Belanda ini tiba di Old Trafford setelah musim di mana ia mencetak 22 gol untuk PSV Eindhoven, membantu tim asuhan Phillip Cocu tersebut merebut gelar Eredivisie untuk pertama kalinya sejak 2008. Di bawah asuhan rekan senega Louis van Gaal di United, banyak yang memperkirakan Depay akan langsung memberikan dampak yang besar bagi klubnya.

Tiga bulan kemudian dan fans The Red Devils masih menunggu. Di samping momen hebat di babak kualifikasi Liga Champions melawan Club Brugge, statistik Depay mengecewakan: satu gol di Eropa, satu gol di Premier League, belum membuat assist, dan dua kartu kuning. Ia belum bermain lagi secara penuh di level klub sejak kemenangan 3-2 atas Southampton pada pertengahan September.

Singkatnya, ini bukan start karier yang diperkirakan oleh banyak suporter United.

Depay mungkin tidak menyangka bahwa dirinya bisa menghabiskan waktu begitu lama di bangku cadangan

Berlian Kasar

Umpan-umpan Lingard yang lebih bervariasi telah membantu Wayne Rooney mempertahankan posisinya di depan dalam beberapa pertandingan terakhir

Untungnya bagi Van Gaal, Jesse Lingard masuk dan mengisi kekosongan yang belum juga diisi Depay. Lulusan akademi United ini telah merasakan beberapa kali kesempatan untuk tampil bersinar dalam karier profesionalnya namun belum juga mencapai level yang diperlukan sampai saat ini, tetapi dalam beberapa pekan terakhir pemain berusia 22 tahun ini telah menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang pemain muda yang sangat berbakat yang bisa menjadi pemain utama pada musim ini.

Salah satu area di mana Lingard sukses membuktikan dirinya lebih baik daripada Depay adalah dalam hal mengumpan: pemain muda Inggris ini percaya diri dan tenang dalam hal memberikan bola ke rekan setimnya, dan gaya direct-nya mengingatkan pemain sayap agresif khas United yang biasa kita lihat di Old Trafford di era Sir Alex Ferguson.

Sekilas, kedua set data di atas hampir miri. Namun imbas umpan-umpan Lingard terungkap pada area di mana bola-bola yang ia berikan diterima rekannya.

Jika tak menghitung tendangan penjuru, hanya satu umpan Depay yang berakhir di area berbahaya saat melawan Southampton. Sementara umpan-umpan Lingard biasa dimainkan dari dalam kotak penalti dan di area-area yang berbahaya dari sisi lapangan saat melawan West Brom, di mana ia sering memberikan umpan kembali setelah melewati lawan dengan larinya. Ketimbang mencari rekan setimnya yang dalam posisi berbahaya, Depay biasanya lebih suka berusaha mencari ruang untuk menembak untuk dirinya sendiri.

Umpan-umpan Lingard yang lebih bervariasi telah membantu Wayne Rooney mempertahankan posisinya di depan dalam beberapa pertandingan terakhir, terbukti dari data yang memperlihatkan di area-area mana saja ia menerima bola.

Data ini diambil dari dua pertandingan Liga Champions terakhir mereka, yang memperlihatkan timpangnya kemampuan umpan kedua pemain.

Kecerdasannya Berguna Bagi United

Imbas Lingard bukan hanya dalam mengumpan. Pemain berusia 22 tahun ini lebih seorang pemain tim ketimbang Depay: bukan hanya Lingard melakukan usaha tekel yang jauh lebih banyak ketimbang sang pemain Belanda untuk berusaha memenangkan bola kembali setelah timnya kehilangan bola, tetapi ia juga berusaha untuk menerima umpan di area yang lebih berbahaya bagi lawan.

Seperti yang diilustrasikan dalam grafis upaya umpan di atas, perbedaan posisi relatif Depay dan Lingard ketika mereka menerima bola memang subtil. Hal ini menunjukkan bahwa meski Van Gaal meminta keduanya untuk melakukan pekerjaan yang mirip, Lingard dan Depay menginterpretasikan tugas mereka dengan cara yang berbeda.

Lingard, secara umum, menerima umpan lebih dalam daripada Depay, membuatnya bisa melepaskan umpan silang atau memberikan umpan lebih cepat dari sisi lapangan ketimbang Depay. Lingard juga berusaha untuk mengumpan lebih cepat daripada rekan setimnya, sesuatu yang membantu United meningkatkan tempo permainan.

Kemajuan?

Lingard juga berusaha untuk mengumpan lebih cepat daripada rekan setimnya, sesuatu yang membantu United meningkatkan tempo permainan.

Pertanyaaan terbesar mengenai Lingard adalah apakah mampukah ia memberikan kemajuan yang signifikan. Mengingat reputasi Depay dan label harganya, selain juga penampilan hebatnya untuk tim Belanda asuhan Van Gaal di Piala Dunia 2014, sangat kecil kemungkinan ia akan menghabiskan sisia musimnya di bangku cadangan.

Di usia 22 tahun, Lingard tak semuda yang dibayangkan orang – ia sudah dipinjamkan ke klub-klub Championship yaitu Leicester, Birmingham, Brighton, dan Derby – tetapi memang betul bahwa kariernya tak diwarnai oleh peluang-peluang untuk bermain reguler di tim utama seperti yang dinikmati Depay.

Di sisi lainnya, tentu saja kesuksesan Lingard ini adalah hasil dari usahanya untuk melakukan hal-hal dasar dengan baik. Depay, seorang pemain yang sangat jelas sangat ingin mengalahkan tim lawan sendirian, mungkin harus mengikuti gaya Lingard jika tidak ingin digantikan secara permanen oleh sang lulusan akademi United di starting line-up Van Gaal.

Mengingat kondisi United saat ini, bisa saja Lingard adalah jenis pemain yang sangat dibutuhkan oleh timnya di lini depan. Namun akan sangat disayangkan jika ia hanya digunakan sebagai pengganti sementara hingga Depay siap untuk menunaikan tugasnya.

Apakah betul bahwa pemain saap yang selama ini sangat diinginkan oleh Van Gaal dan United dalam diri Depay sebetulnya sudah mereka miliki sebelumnya? Akademi juara Inggris 20 kali ini punya sejarah hebat yang panjang. Mungkin, mereka seharusnya lebih memberikan kepercayaan mereka pada akademi mereka sendiri sebelum menguras akun bank untuk pemain berbakat muda klub-klub lain nan mahal.

Baca artikel spesial seperti ini lainnya hanya di FFT.com