Arsyad Yusgiantoro: Bakat Muda Gresik United yang Ingin Meniru Jejak Boaz Solossa

Semua yang kamu perlu ketahui dari pemuda jebolan Pro Duta yang pernah wara-wiri di kompetisi usia muda luar negeri...

Cerita 60 detik

Pertandingan penuh drama terjadi saat timnas Indonesia melawat ke Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia pada bulan Januari 2005 silam. Tim Garuda yang sedang berjuang di partai semifinal Tiger Cup 2004 (kini AFF Suzuki Cup) memang dihadapkan pada ujian berat karena harus melewati hadangan besar bernama timnas Malaysia yang pada leg pertama sukses mempecundangi skuat asuhan Petr White tersebut 2-1.

Di babak pertama, Indonesia langsung tertinggal lewat gol dari Khaid Jamlus di menit 26. Tapi, alih-alih menyerah karena agregat melebar 1-3, para pemain Indonesia justru semakin terlecut untuk mempersembahkan kemenangan untuk ibu pertiwi.

Alhasil, Indonesia menggila di babak kedua dengan menyetak empat gol! Kurniawan Dwi Yulianto, Charis Yulianto, Ilham Jaya Kesuma dan Boaz Solossa sukses mengubur harapan para pendukung Harimau Malaya yang ingin menyaksikan tim kesayangannya tampil di final. Nama terakhir yang disebut memang tampil luar biasa dan berhasil menarik perhatian seluruh pecinta sepakbola tanah air – bahkan Asia Tenggara yang menikmati ajang Tiger Cup di tahun tersebut. Tak terkecuali Arsyad Yusgiantoro.

“Saya awalnya terinspirasi sama Boaz Solossa di Piala Tiger kalau tidak salah mas,” ungkap Arsyad saat diwawancarai FourFourTwo Indonesia.

Di tahun itu, Arsyad yang masih berusia delapan tahun sangat kagum terhadap sosok Boaz. Lumrah saja, penampilannya di sepanjang turnamen memang luar biasa mengingat usia bintang Persipura Jayapura tersebut masih 18 tahun.

Dari situlah hasrat mantan pemain Persema U-17 tersebut pada sepakbola muncul. Dimulai dengan mengidolakan Boaz dan menyaksikan permainannya melalui televisi, ia jadi sering mengunjungi lapangan sepakbola di daerah tempat tinggalnya, Desa Notorejo, Gondang, Tulungagung saat masih duduk di sekolah dasar.

Lapangan tersebut seolah menjadi taman bermain baginya. Arsyad juga kerap mempraktikan apa yang dilakukan sang idola di lapangan tanah liat. Tak heran jika ia kini menempati posisi yang tak berbeda jauh dengan Boaz, penyerang sayap.

Melihat sang anak antusias dengan kulit bundar, ayah Arsyad yang memang sangat mendukung karier Arsyad kemudian memasukkannya ke sebuah sekolah sepakbola di Tulungagung. Di sana, ia memperlihatkan kemajuan signifikan hingga akhirnya berhasil masuk ke Diklat Tulungagung Putra, Persiga Trenggalek, dan setelah itu, Persema U-17.

Arsyad pun berkembang menjadi pemain yang semakin baik di posisinya. Dengan usia yang masih belia, ia memenuhi kriteria sebagai penyerang masa depan Indonesia. Kecepatan serta teknik olah bola yang cukup baik pada akhirnya mengantarkan pemuda yang pernah berlaga di ajang Danone Cup bersama Tulungagung Putra itu merapat ke Pro Duta FC, sebuah klub profesional yang lahir dari klub internal Persib Bandung.

Keberhasilannya masuk ke skuat Pro Duta pada tahun 2014 juga karena ia mampu menarik perhatian staf pelatih Laskar Kuda Pegasus – julukan Pro Duta – lewat aksi impresifnya di lapangan ketika Persema U-17 melakukan uji coba melawan Pro Duta.

Banyak pengalaman yang ia ambil dari klub yang mengedepankan profesionalitas dan pengembangan pemain muda itu. Sampai akhirnya, Arsyad yang kini sudah berusia 20 tahun itu dikontrak oleh klub kasta atas, Persegres Gresik United, untuk mengarungi kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC).

Mengapa Anda harus mengenalnya

Belum banyak yang mengenal siapa Asryad Yusgiantoro. Batalnya Pro Duta mengikuti kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC) sebagai sikap klub terhadap rumitnya masalah persepakbolaan nasional juga menjadi alasan kenapa sinarnya belum seterang Pandi Lestaluhu atau pemain-pemain muda lainnya.

Tetapi, kesempatan akhirnya datang ke pangkuan sang pemain bernomor 23 itu setelah pihak manajemen Gresik United menawarkan kontrak kepadanya. Walaupun belum pernah tampil sebagai starter bersama Laskar Jaka Samudra sampai pekan kesembilan (ia pernah tampil sekali sebagai pemain pengganti di laga melawan Barito Putera), Arsyad diprediksi akan menjadi salah satu penyerang andalan bagi klub kebanggaan Ultras Mania di masa depan.

Kini Arsyad terus berusaha yang terbaik agar bisa merebut posisi starter di skuat besutan Liestiadi tersebut. Hanya masalah waktu saja untuk melihat pengagum Boaz ini unjuk gigi di atas lapangan dan melakukan apa yang dilakukan sang idola sewaktu muda.

Impian itu sangat berpeluang terwujud. Pasalnya sang pemain memang sudah memiliki banyak pengalaman baik di level nasional dan internasional. Ya, jika mau melihat sepak terjang sang pemain, sesungguhnya Arsyad adalah pemuda yang bergelimang gelar dan pengalaman.

Arsyad pernah menjadi jawara Danone Cup Indonesia pada tahun 2008 silam bersama Diklat Tulungagung Putra. Ia pun menjadi penyetak gol satu-satunya dalam kemenangan 1-0 atas SSB Padang Junior di partai puncak. Selain itu, dirinya juga pernah menjuarai kompetisi Divisi III di tahun 2012 bersama Persiga Trenggalek.

Berbicara level internasional, Arsyad juga sudah beberapa kali memimpin timnya berlaga di ajang internasional. Di Prancis, bersama Diklat Tulungagung, ia berlaga di gelaran Danone Nations Cup –sayang, timnya hanya mampu menempati rangking ke-28 di akhir turnamen.

Selanjutnya, ia juga pernah dikirim ke kompetisi Caroll Wojtyla di Roma, Italia, ketika masih berseragam Pro Duta U-18. Setelah menembus skuat senior Pro Duta, ia kembali dikirim ke Italia untuk mengikuti ajang Viareggio Cup. Namun, karena faktor pengalaman yang minim maka hasil dari dua lawatan tersebut berakhir dengan tidak memuaskan bagi Arsyad dan juga tim Laskar Kuda Pegasus.