Bagaimana David Beckham dan Zlatan Ibrahimovic Mengubah Ligue 1

Ligue 1 tak akan pernah sama lagi sejak kedatangan (dan kepergian) David Beckham dan Zlatan Ibrahimovic. Taufik Nur Shiddiq menjelaskan sebesar apa pengaruh mereka terhadap liga teratas sepakbola Prancis ini...

Tidak ada pemain yang lebih besar dari klub, katanya. Ini jelas tidak berlaku kepada David Beckham dan Zlatan Ibrahimovic. Keduanya bukan hanya lebih besar dari klub, namun lebih besar dari liga tempat mereka (pernah) bermain.

“Saya rasa kalian semua berubah pikiran setelah melihat pertandingan pertama Beckham. Saya di sana. Saya gugup menantikan dan mencari tahu akan bagaimana ia di sini. Begitu melihat sentuhan pertamanya, saya berkata: ‘Bagus. Ia pemain sepakbola sejati. Beckham sangat luar biasa!’”

Itu bukan kutipan dari sembarang orang. Itu adalah pengakuan dari Frederic Thiriez, presiden Ligue 1 ketika ia menyaksikan debut Beckham di Ligue 1. Begitu besar arti Beckham untuk Ligue 1 hingga debutnya pun disesuaikan. Beckham tidak menjalani pertandingan pertamanya untuk Paris Saint-Germain di pertandingan pertama yang dapat ia jalani; ia disimpan untuk perkenalan agung, di pertandingan terakbar dalam kalender sepakbola Prancis: Le Classique.

Efek Beckham begitu dahsyat karena ia, lebih dari sekedar pemain, adalah sebuah brand yang termahsyur di seluruh dunia. Fakta bahwa Ligue 1 relatif kecil membuat efeknya terasa relatif lebih besar. “Tak bisa dipercaya jumlah orang yang menyaksikan PSG dan Ligue 1 di seluruh dunia saat ini,” ujar Thiriez dalam kesempatan yang sama. “Hanya orang-orang Prancis yang tidak menyadari betapa besarnya hal ini.”

Selama setengah tahun keberadaannya di Prancis, Beckham membuat stadion-stadion terisi penuh. Ini tentu hal besar karena di kalangan orang-orang Prancis sendiri, Ligue 1 tidak populer. Sementara di Jerman – negara tetangga yang hanya sepelemparan batu dari Prancis – stadion-stadion selalu nyaris terisi penuh setiap pertandingan Bundesliga berlangsung tak peduli siapa yang bertanding, melihat ribuan kursi kosong di stadion-stadion Prancis pada hari pertandingan adalah pemandangan umum. Beckham mengisi stadion-stadion tersebut dan setelah Beckham menyudahi kebersamaan singkatnya dengan Ligue 1, stadion-stadion Prancis tetap terisi penuh.

Bukan semata karena efek Beckham hal tersebut dapat terjadi; namun lebih karena bukan hanya dirinya alasan orang-orang datang ke stadion. Sebelum Beckham dan setelah Beckham, PSG punya Ibrahimovic. Ia, seperti Beckham, adalah magnet yang mendatangkan ribuan orang datang ke stadion. Dan Ibra, lebih dari Beckham, membuat anak-anak menyukai sepakbola lagi. Normalnya, dengan semua yang ia lakukan selama setengah tahun saja, Beckham bisa menjadi pemain terbesar sepanjang sejarah Ligue 1. Namun ia nyatanya tidak bisa, karena Beckham berbagi masa yang sama dengan Ibrahimovic.

Beckham bisa menjadi pemain terbesar sepanjang sejarah Ligue 1. Namun ia nyatanya tidak bisa, karena Beckham berbagi masa yang sama dengan Ibrahimovic

Selama empat tahun kebersamaannya dengan PSG di Ligue 1, Ibrahimovic tak hanya mendongkrak popularitas klub dan liga seperti Beckham. Ia dengan kemampuannya telah menghujani PSG dengan banyak penghargaan dan pencapaian, dan dalam prosesnya mengubah peta persaingan Ligue 1 yang biasanya penuh kejutan – jangan lupa bahwa Ligue 1 sempat punya lima juara berbeda dalam lima musim berturut-turut. Ketika meninggalkan PSG pada akhir musim lalu, tercatat Ibrahimovic telah mempersembahkan empat gelar juara Ligue 1, dua Coupe de France, tiga Coupe de la Ligue dan tiga Trophee des Champions dalam empat musim saja. Ia juga telah merampas harga diri Olympique de Marseille, lawan PSG di Le Classique; dalam sepuluh pertandingan melawan OM, tak pernah sekali pun Ibrahimovic kalah.

Begitu agung Ibrahimovic ini sampai sempat, pada sebuah kesempatan, ia diberitakan terpaksa absen membela tim nasional Swedia karena cedera dan di hari yang sama Alexandre Lacazette, pencetak gol terbanyak Ligue 1 saat itu, kembali dipanggil tim nasional Prancis. Perhatian orang-orang Prancis lebih banyak tertuju kepada Ibrahimovic.

“Aku datang sebagai raja, pergi sebagai legenda,” kata Ibrahimovic ketika mengucap salam perpisahan. Angkuh, tapi begitu adanya. Keagungan Ibrahimovic diakui betul oleh Julien Laurens, jurnalis sepakbola spesialis sepakbola Prancis yang hasil kerjanya dimuat di media-media ternama seperti Guardian dan ESPN.

“Aku tak benar-benar tahu harus memulai dari mana karena sangat banyak hal terjadi selama empat tahun ini, baik di luar maupun di luar lapangan,” tulis Laurens dalam surat terbukanya untuk Ibrahimovic. “Kami pernah punya pemain-pemain luar biasa di Prancis dalam 50 tahun terakhir, dari Michel Platini hingga Zinedine Zidane, tak lupa juga Ronaldinho, untuk memberi tiga nama saja, namun tak pernah ada seseorang yang pengaruhnya sebesar ini terhadap sebuah negara dan liga sepakbolanya.

“Kau adalah seorang jenius, seorang duta besar, seorang pemimpin, seorang penampil, one-man show. Kau membuat orang-orang terheran-heran, menganga karena melihat aksimu di lapangan, dengan beberapa gol yang tidak bisa dipercaya dapat dilihat di dunia. Orang-orang Prancis meminta ‘Pertunjukan Ibra’ dan kau memberi mereka paket lengkap, empat musim pula.”

Begitu agung Ibrahimovic sehingga pengaruhnya lebih dari sekedar jumlah trofi dan ratusan gol. Ia mengubah PSG, Ligue 1, dan sepakbola Prancis secara keseluruhan. Kepergiannya meninggalkan sebuah lubang besar yang tak mudah untuk ditutup bagi PSG dan Ligue 1.

Dengan semua yang telah ia lakukan sulit membayangkan pengaruhnya bisa disamai, apalagi dilampaui. Namun tentu saja itu bukan mustahil. Ada dua pemain yang, jika diberi kesempatan, mungkin bisa melampaui pencapaian Ibrahimovic: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Pertanyaannya kemudian: mampukah PSG merekrut salah satu dari keduanya?

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID!