Bagaimana Swansea Sukses Menghancurkan Dua Bek Sayap Manchester United

Michael Cox menjelaskan bagaimana pertahanan Manchester United berantakan dan tidak berdaya kala bertandang ke Wales Selatan pada Minggu lalu...

Ketika Manchester United memiliki masalah pada lini depan, louis van Gaal memulai musim 2015/16 dengan tiga pertandingan tanpa kebobolan sama sekali di Liga Primer Inggris, sebuah rekor yang sangat mengesankan.

Faktanya, walaupun kita tambahkan hasil dua pertandingan mereka di Liga Champions, United tetap hanya kemasukan satu gol di lima pertandingan pertama mereka musim ini dan itu juga karena gol bunuh diri Michael Carrick.

Tetapi, perjalanan mereka ke Swansea mungkin adalah perjalanan berat pertama mereka pada musim ini. Pada pertandingan ini, kapasitas Daley Blind sebagai bek tengah diuji oleh Bafetimbi Gomis, juga ini menjadi ujian berat bagi dua bek sayap muda mereka, yang akan menghadapi lawan dengan kecepatan yang sangat tinggi di kedua sayapnya. Dan benar saja, Luke Shaw dan Matteo Darmian benar-benar menjalani ujian terberat mereka pada pertandingan ini, dimana mereka tidak menghadapi lawannya secara langsung (umpan-umpan terobosan Swansea kepada kedua pemain sayapnya sangatlah mematikan).

Pasangan Yang Berbeda 

Shaw dan Darmian berada dalam situasi yang berbeda, yang satu sudah terbiasa dengan permainan keras Inggris, yang satu adalah pendatang baru, dan mereka berdua adalah dua bek sayap yang memiliki tipe yang berbeda. Darmian lebih bermain seperti bek sayap klasik, sedangkan Shaw memiliki kemampuan menyerang yang lebih, sebuah interpretasi modern dalam posisi bek sayap. Italia secara konsisten menciptakan pemain bek sayap yang mengutamakan pertahanan, seperti yang kita lihat dari Darmian, yang memiliki kapasitas bertahan maupun menyerang sama baiknya. Darmian pada dasarnya adalah bek kanan, tetapi bek kanan yang sedikit aneh. Dia sebenarnya tidak menggunakan kaki kanannya dengan baik, menariknya, dia menggunakan tangan kirinya untuk menulis, hal ini bisa menjadi indikasi bahwa dirinya, mungkin adalah seorang yang sangatlah pandai dan satu lagi, dia juga menghabiskan beberapa waktu dalam karirnya bermain di sisi kiri.

Matteo Darmian

Darmian terlihat seperti pemain yang lebih banyak mendapatkan pelajaran dari pertandingan yang dia jalani, ketimbang pemain yang memang terlahir dengan bakat yang luar biasa dan cara dia menempatkan posisinya dan kemauannya dalam melakukan tekel lebih menonjol ketimbang kemampuannya saat menguasai bola. Dia adalah pemain yang sangat bagus saat melakukan serangan, tetapi permainannya lebih mirip dengan Pablo Zabaleta yang maju ke depan dengan mengedepankan kekuatan dan kegigihannya, ketimbang menyerang dengan mengedepankan kualitas teknik yang dimilikinya. Sedangkan Luke Shaw, dia menampilkan kecepatan yang luar biasa ketika melakukan serangan dan selalu berlari melewati pemain sayap yang menjadi rekan di sisi kirinya untuk membuat aliran bola menjadi melebar sebelum akhirnya dia melepaskan umpan silang ke dalam kotak penalti. Keseimbangannya sangat luar biasa kala sedang menggiring bola dan dia juga bisa melepaskan umpan silang tanpa masalah walau sedang berlari dengan kencang, dia lebih mirip dengan tipe Aleksandar Kolarov.

Pelajaran Berharga

Pertandingan United saat melawan Swansea sangatlah aneh, sepertinya. Permainan bertahan Darmian membuat kita memiliki banyak pertanyaan, sedangkan Shaw tertangkap basah lebih sering melakukan serangan dengan penuh semangat ketimbang bertahan. Darmian lebih lega ketika dia mengetahui bahwa Swansea bermain tanpa Jefferson Montero, pemain sayap asal Ekuador yang sukses membuat Branislav Ivanovic dan Daryl Janmaat mendapatkan masalah besar pada awal-awal musim ini. Wayne Routledge adalah satu-satunya lawan yang dihadapinya secara langsung dan sesaat setelah dirinya memberikan tendangan bebas kepada Swansea karena pelanggaran bodoh yang dilakukannya pada awal babak kedua, dia tahu bahwa dirinya memiliki beberapa masalah.

Kedua bek sayap Manchester United menjadi pihak yang bertanggung jawab dari pertahanan mereka. Perubahan formasi Swansea dari 4-2-3-1 menjadi 4-3-1-2 sukses membuat Shaw dan Darmian memiliki keleluasaan untuk bermain lebih menyerang. tetapi mereka sepertinya menyerang terlalu sering. Saat tercipta gol pertama Swansea, kedua bek sayap United tertangkap berada di luar posisinya, bahkan condong berada di daerah pertahanan lawan ketika tim mereka sedang melepaskan serangan balik.

Tetapi kesalahan umpan yang United buat menjadikan Swansea mengambil alih serangan balik saat tim asuhan Van Gaal sedang melakukan serangan balik, dan pergerakan mereka sangatlah mengejutkan dan membuat ada ruang kosong antara pemain tengah dengan pemain belakang mereka. Gylfi Sigurdsson langsung mengekploitasi ruang kosong yang seharusnya ada Luke Shaw disana, lalu dirinya melepaskan umpan silang ke tiang jauh untuk Andre Ayew yang benar-benar memanfaatkan ketidakhadiran Darmian yang saat itu entah berada dimana.

Hal yang hampir sama terjadi saat gol kedua tercipta. Kali ini aktornya adalah Andre Ayew yang berhasil merangsek masuk ke ruang kosong di belakang Luke Shaw, dia lalu langsung melepaskan bola melengkung yang indah yang mengarah kepada Gomis. Posisi saat itu adalah, para bek tengah United berusaha menutup dan membantu Luke Shaw yang melakukan kesalahan. Darmian sendiri harusnya menyapu bola tersebut tetapi dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengejar penyerang Swansea asal Perancis tersebut.

Masalah Shaw

Secara keseluruhan penampilan mereka, sudah seperti yang kita harapkan. Shaw bermain lebih ke depan untuk melepaskan umpan silang dibandingkan Darmian, pemain Inggris tersebut menciptakan dua kesempatan, termasuk umpannya kepada Juan Mata yang mencetak gol pertama dan terakhir bagi Manchester United.

Dan kemampuan bertahan Shaw terlihat sangat kacau dimana dia berdiri jauh lebih kedepan dari yang seharusnya. Dia seperti menjadi pemain belakang yang sangat terbawa oleh nafsu, terlihat dari tiga pelanggaran yang dibuatnya saat berada di daerah pertahanan lawan. Sedangkan Darmian bertahan dengan lebih tenang.

Kedua pemain ini bisa mengembangkan permainannya lagi dengan mengasah kembali penempatan posisi dan mempelajari lagi kesalahan mereka saat bertahan. Di lain pihak, saat ini United sudah memiliki keseimbangan di posisi bek sayap mereka, satu adalah pemain yang selalu membantu serangan dengan melakukan overlapping sedangkan satu lagi lebih condong untuk bertahan ketimbang membantu serangan. Berikan mereka waktu untuk berkembang, mereka akan menjadi dua bek sayap utama United untuk jangka waktu yang lama.

Baca artikel seperti ini setiap harinya hanya di FFT.com

STATS ZONE Gratis di iOS • Gratis di Android