Bedah Lawan Persipura Jayapura: Pahang FA

Meski tren di fase grup tidak terlalu bagus, namun delapan poin sudah cukup mengantarkan Pahang untuk jadi penantang tim Mutiara Hitam.

Persipura Jayapura melanjutkan tren positif mereka di Piala AFC dengan menembus fase knock-out. Tim racikan pelatih Osvaldo Lessa menjadi juara Grup E dengan membungkus 16 poin hasil lima kali menang dan sekali imbang. Pahang FA pun menanti di babak 16 besar, dengan status runner-up Grup G.

Pahang dan Persipura sama-sama tim papan atas di kompetisi domestik, keduanya bakal bentrok 26 Mei mendatang di markas tim Mutiara Hitam, Stadion Mandala Jayapura. Goal Indonesia pun merangkum bagaimana sepak terjang dari Pahang, berikut ulasannya.

Profil Tim

Pahang merupakan salah satu tim terkuat dalam sejarah sepakbola Malaysia. Berdiri pada tahun 1959, mereka sudah lima kali juara liga domestik, empat kali Piala Malaysia dan dua kali Piala FA Malaysia. Saat ini pun tim arahan pelatih Zainal Abidin Hassan sedang jadi pemuncak klasemen Malaysia Super League - bersaing ketat dengan PDRM di posisi dua.

Tok Gajah, sebagaimana Pahang dijuluki, merupakan rival dari Terengganu dan Kelantan, namun kedua tim tersebut tak semengilap Pahang dalam segi prestasi. Meski sempat terdegradasi dari kompetisi papan atas tahun 2012, namun semusim kemudian Pahang mampu kembali ke kasta tertinggi dan merajut kembali kejayaan mereka.

Setelah mengoleksi berbagai gelar di ajang domestik, Pahang pun bertekad untuk meneruskan hal tersebut di pentas Asia. Mereka untuk kali pertama lolos ke fase gugur Piala AFC, setelah pada 2005 dan 2007 hanya mampu berjuang di fase grup.

Kendati begitu, tim yang bermarkas di Darul Makmur Stadium pernah melaju hingga babak 16 besar Liga Champions Asia di tahun 1996. Di mana Seongnam Ilhwa Chunma jadi tim yang menyingkirkan Pahang dengan skor aggregat 5-2.

Pemain Kunci

Matias Conti

Striker asal Argentina kelahiran 17 Januari 25 tahun silam jadi andalan Pahang di berbagai ajang. Matias Conti pun sudah membukukan 31 gol dari 54 penampilan bersama Pahang sejak 2013. Dikenal punya penempatan posisi dan klinikal depan gawang, tempatnya tak tergantikan untuk berduet bersama Dickson Nwakaeme. Namun, di kancah Asia ia baru mengemas sebiji gol.

Dickson Nwakaeme

Iron Man, begitulah striker asal Nigeria ini dijuluki oleh suporter Pahang. Karena sosoknya yang gagah dan kuat. Bomber yang pernah membela klub Denmark, Aalborg Fodbold pada 2010 jadi aktor penting lolosnya Pahang ke fase gugur. Tak lain karena lima dari sebelas gol yang dikemas Pahang selama di grup G berasal darinya. Bahkan Nwakaeme mencetak hat-trick ke gawang Yadanarbon.

Azamuddin Akil

Sosok gelandang senior dan jadi pujaan suporter Pahang. Azamuddin Akil yang akrab disebut Alex Lepeh punya visi permainan bagus, daya jelajah tinggi, kontrol bola mantap dan sesekali jadi pemecah kebuntuan. Biasa ditempatkan sebagai penyerang sayap, daya jelajah yang tinggi membuat sosok Alex vital dalam menghidupi permainan dari Tok Gajah.

Pelatih

Zainal Abidin Hassan

Pelatih yang juga sudah jadi legenda hidup bagi publik Pahang. Punya latar belakang sebagai pemain dan cukup unik, karena Zainal Abidin bermain sebagai striker dan kadang pemain belakang saat masih aktif sebagai pemain.

Saat aktif bermain, Zainal hanya membela dua klub, Pahang dan Selangor. Di kedua tim tersebut ia pun dihargai karena perannya yang kontributif. Sampai akhirnya, tahun 2001 karier kepelatihannya dimulai dengan mengarsiteki Malaysia U-17.

2004 hingga sekarang, ia masuk jajaran pelatih Pahang dari mulai asisten pelatih, staf pelatih hingga akhirnya menjadi pelatih kepala. Mantan pemain timnas Malaysia ini juga dikenal sebagai pengusaha restoran dan pernah membela timnas futsal Malaysia.

Perjalanan Pahang FA di Piala AFC Musim Ini

Belum pernah ada tim asal Malaysia yang mampu berbicara banyak di Piala AFC sejak 2004. Pahang bersama Djohor Darul Takzim kini mewakili negeri jiran untuk menjalankan tugas tersebut. Pahang yang lolos ke fase gugur dengan prediket runner-up Grup G Piala AFC 2015 boleh dibilang tengah menjalani musim terbaiknya.

Di domestik, mereka memiliki kans untuk menjadi juara MSL, Piala Malaysia dan Piala FA Malaysia. Dan di Asia, harapan untuk menjadi juara atau setidaknya menembus partai final pun terbuka.

Laga perdana di fase grup merupakan hal yang sulit untuk Pahang. Bertandang ke Myanmar untuk menantang Yadanarbon, Pahang melewati laga yang seru dengan kemenangan 3-2. Dickson Nwakaeme mulai menunjukkan kapasitasnya dengan dua gol yang ia cetak.

Frustrasi pun sempat menghampiri Tok Gajah di partai kedua menjamu tim Filipina, Global FC. Skor imbang tanpa gol jadi hal yang sulit diterima, terlebih tim asal Hong-Kong, South China melaju mulus. Bahkan di partai ketiga, Pahang harus rela kecolongan seluruh poin kala ditantang South China - gol Chan Siu Ki membenamkan Pahang di Stadion Makmur.

Hingga matchday keempat, kemenangan belum juga menghinggapi Pahang kembali. Mereka harus mengakui keunggulan South China dengan kalah 3-1. Beruntung, Yadanarbon dan Global FC pun sama-sama tak konsisten, sehingga peluang lolos terjaga hingga laga pamungkas.

Pahang yang bangkit pun mengamuk di markas sendiri saat ditantang Yadanarbon, Iron Man mencetak hat-trick hingga mengirim pulang Yadanarbon dengan skor 7-4. Di laga penutup, Pahang hanya mampu bermain imbang tanpa gol melawan Global FC. Namun, delapan poin yang diraih cukup mengantarkan mereka sebagai runner-up grup dan akan jadi penantang Persipura Jayapura.

(Sumber gambar: lionsxii.sg)