Betapa Sulitnya Mempertahankan Gelar Premier League

Dengan juara bertahan Chelsea kini berada di papan bawah klasemen sementara, Alex Hess mencari tahu mengapa tim-tim Inggris kesulitan untuk memenangi gelar juara secara beruntun...

Di lima liga top Eropa lainnya, hanya Spanyol – dengan enam kali gelar berhasil dipertahankan – yang bisa memunculkan kemungkinan sedikitnya peluang mempertahankan gelar ketimbang Inggris dalam jarak waktu yang sama.

Ini adalah sebuah misteri: mengapa mempertahankan gelar begitu sulit? Dengan minimnya konsentrasi kekuatan di papan atas sepak bola Inggris, jarangnya sebuah klub untuk mempertahankan gelar rasanya agak aneh. Pada dasarnya, logikanya adalah jika Anda adalah tim terbaik di negara ini selama satu tahun, Anda seharusnya punya peluang yang cukup bagus di tahun berikutnya juga.

Namun dalam urusan mempertahankan gelar juara, Premier League punya logikanya sendiri. Digelarnya Premier League 23 tahun yang lalu mungkin telah memperkecil kompetisi antar tim dengan hanya membuat beberapa klubb saja yang bisa punya banyak uang, tetapi, meski hanya lima klub sejauh ini berhasil merebut gelar juara, gelar juara beruntun hanya dimenangkan dalam tujuh kesempatan.

Di lima liga top Eropa lainnya, hanya Spanyol – dengan enam kali gelar berhasil dipertahankan – yang bisa memunculkan kemungkinan sedikitnya peluang mempertahankan gelar ketimbang Inggris dalam jarak waktu yang sama. Tambahkan juga faktor bahwa hanya satu kali dalam 32 tahun terakhir ada tim yang tidak dimanajeri oleh Alex Ferguson bisa mempertahankan gelar – kalau perlu tambahkan juga faktor bahwa hanya 10 kesempatan gelar dipertahankan sejak perdamaian terjadi di Eropa – dan trofi ini terlihat seperti seharusnya diberikan dengan tambahan garansi uang kembali.

Ferguson ahli dalam mendapatkan gelar secara beruntun

Jauhi Perasaan Puas

Terlalu banyak orang di klub yang terbuai dengan gelar treble, hingga hal itu mempengaruhi kami.

- Roy Keane

Fakta bahwa Jose Mourinho adalah satu-satunya pesulap era modern yang berhasil menggunakan trik Ferguson untuk mempertahankan gelar memberikan tambahan ironi pada inkompetensi timnya saat ini – meski mereka bukan tim pertama yang melakukan penghancuran diri sendiri setelah mereka berhasil meraih gelar juara. Manchester City khususnya, kini telah menjadi spesialis dalam hal “sindrom musim kedua”, di mana mereka melakoni musim kedua setelah meraih gelar juara dengan skuat yang susah payah menuju garis finis.

Jika karier musik Baha Men memberikan kita pelajaran, maka itu adalah bahwa sukses adalah satu hal, mempertahankan kesuksesan adalah hal yang sama sekali berbeda. Meski apakah betul band itu “kehilangan rasa lapar mereka” setelah meraih sukses dengan memuncaki tabel musik untuk pertama kalinya tidak bisa kita ketahui kebenarannya, tetapi itu adalah diagnosis yang biasa terjadi pada para pesepak bola yang memenangi gelar juara.

Itu adalah sesuatu yang Mourinho sendiri katakan pada musim panas lalu, “Berikan tambahan rasa kompetitif pada skuat, masukkan darah-darah baru, berikan beberapa pemain tekanan. Sehingga mereka tahu bahwa ada seseorang yang menunggunya. Sekarang ketika mereka telah jadi juara, saya memerlukan itu.”

Jose membutuhkan permainan yang lebih stabil untuk mempertahankan gelar

Asumsi bahwa para pemain elit akan berjalan ke arah kepuasan diri kecuali dirangsang untuk ke arah yang sebaliknya adalah sesuatu yang dipertanyakan, meski bukan berarti sepenuhnya tidak benar. Anda bisa bayangkan bahwa jika seseorang imun dari penurunan pental, itu pastilah sebuah skuat yang berkali-kali memenangi liga, meski mungkin tidak setiap olahragawan level atas memiliki “determinasi untuk menjauhi kegagalan” yang sama yang disebutkan Ferguson sebagai kunci dari dominasinya yang terus menerus berlanjut.

Memang, bukti utama yang kita dapatkan memberi tahu kita bahwa para juara yang kuat bisa cukup rapuh untuk kehilangan tekanan – dan semakin besar kesuksesan, semakin besar resiko kepuasan diri yang berlebihan datang. Pada buku pertamanya, Roy Keane mendeskripsikan kesuksesan Manchester United di tahun 1999 adalah sebuah berkah namun di sisi lain juga kutukan. “Kesuksesan menghasilkan kepuasan. Terlalu banyak orang di klub yang terbuai dengan gelar treble, hingga hal itu mempengaruhi kami. Saya tahu itu. Kami bercanda pada diri kami sendiri, berbicara besar tapi tidak menghasilkan apa-apa.”

Perubahan Taktik 

Juga ada bukti yang menunjukkan bahwa datang sebagai juara bertahan akan terasa lebih sulit. “Semua orang ingin mengalahkan kami,” ujar John Terry, mengingat-ingat pengalaman pertama Chelsea satu dekade lalu. “Tim-tim sangat bersemangat, mereka bertahan habis-habisan.”

Jelas, regenerasi Ferguson membuat bisnis transfer Chelsea di musim panas kemarin membuat mereka – dalam wujud tradisi minimalistik yang sangat nyata – sangat sulit untuk masuk akal.

Proses untuk menghilangkan itu penting baik secara taktik maupun psikologis. Keberhasilan United meraih gelar juara pada 2006/07, misalnya, dengan cepat diikuti dengan direkrutnya Owen Hargreaves, Nani, Anderson, dan Carlos Tevez, pembelian besar di musim panas yang tidak hanya membuat para pemain reguler tidak merasa terlalu nyaman di tim utama, tetapi juga menghasilkan efek di atas lapangan juga.

Itu adalah bukti klasik pentingnya proaktif dan melakukan pembaharuan yang dilatarbelakangi oleh kesuksesan, dan United pun meraih dua gelar juara liga mereka berkat pembelian itu (belum lagi Liga Champions 2008, di mana keempat pemain yang direkrut tersebut bermain di final dan mengeksekusi penalti).

Anderson memainkan kunci penting dalam membantu United mempertahankan gelarnya? Tidak benar.

Jelas, regenerasi Ferguson membuat bisnis transfer Chelsea di musim panas kemarin membuat mereka – dalam wujud tradisi minimalistik yang sangat nyata – sangat sulit untuk masuk akal. Logika umumnya adalah tim terbaik di sebuah negara seharusnya tidak perlu banyak melakukan penguatan skuat; namun yang sebaliknya lah yang tepat.

Mungkin momen ketika Arsene Wenger berubah dari peraih gelar juara menjadi pecundang adalah ketika ia memutuskan pada musim panas setelah musim invincibles Arsenal untuk menghabiskan uangnya dengan hanya menambah pemain di periferi skuat ketimbang memperbaiki inti skuat mereka. Di bangku cadnagan mereka, masuklah Manuel Almunia, Mathieu Flamini, dan Robin van Persie yang berusia 20 tahun sementara pemain lainnya tetap sama, dan timnya akhirnya finis 12 poin di belakang Chelsea pada Mei musim selanjutnya. Arsenal tak pernah finis di posisi dua besar sejak saat itu.

Kelelahan Fatal

Tetapi dengan semua pembicaraan soal berkurangnya rasa lapar gelar, mungkin faktor yang paling besar terjadi adalah kelelahan. Intensitas fisik dan mental yang terus berlanjut membutuhkan para pemain untuk terus dalam kondisi terbaik selama 38 pertandingan dalam semusim bukanlah hal mudah. Untuk melakukannya di bawah sorotan sepak bola dunia modern, sementara juga harus melakoni komitmen mereka di Eropa dan seringkali juga turnamen internasional, membuat para pemain kekurangan energi ketika musim berikutnya dimulai. Jesse Owens mungkin akan bertahan sebagai salah satu pelari jarak pendek tercepat di sepanjang masa jika trek abu jaman dahulu yang ia gunakan pada tahun 1930an tidak membuatnya kehabisan tenaga seperti jalur sintetis yang sekarang digunakan; para juara bertahan Premier League mungkin sering merasa mereka juga berlari di trek abu seperti yang digunakan Jesse Owens dulu.

Kelelahan bisa menjadi salah satu faktor kenapa pertahanan Manchester City musim lalu berantakan

Dan di dunia level elit olahraga, bahkan masalah kecil bisa membuka kejatuhan yang besar – lihat saja bagaimana performa buruk selama satu bulan membuat Chelsea kini terpaut 11 poin dengan pemuncak klasemen. Tak diragukan lagi, mempertahankan gelar memberikan masalahnya yang unik sendiri.

Kehadiran Tim-Tim Kelas Menengah

Segalanya juga tidak menjadi lebih mudah. Masuknya banjir uang TV ke klub-klub divisi utama Inggris memunculkan migrasi massal para bintang-bintang kelas atas ke klub-klub papan tengah. Itu adalah berita bagus bagi klub-klub tersebut, tetapi dengan klub-klub top Premier League berada di sisi yang salah dari upaya pengejaran pemain-pemain terbaik di benua biru, ruang mereka untuk memperbaiki diri tetaplah sama.

“Situasi finansial yang bagus di mana setiap klub (Premier League) mengizinkan tim-tim kecul dan tim-tim promosi mendapatkan para pemain bagus, memiliki skuat bagus, dan menjadi lebih kompetitif,” kata Mourinho.

Dan sekali ini, kata-kata sosok Portugis ini menunjukkan garis merah dengan yang benar-benar terjadi. Kita hanya perlu melihat ke arah Upton Park (atau lebih tepatnya ke kunjungan West Ham ke Emirates, Anfield, dan Etihad) untuk melihat demonstrasi bagaimana klub papan tengah memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mencuri nilai dari klub-klub kaya, sementara perlu dicatat juga bahwa Everton, Crystal Palace, dan Swansea kini telah unggul delapan poin atas juara bertahan asuhan Mourinho.

Sepak bola Inggris mungkin telah bersatu kembali dengan satu-satunya orang yang masih aktif bekerja yang mempertahankan gelar juara liga dalam 30 tahun terakhir. Tetapi mungkin akan lebih bijak untuk tidak berharap dia – atau orang lain – bisa mengulangi trik itu dalam waktu dekat.

    Baca artikel pilihan seperti ini lainnya setiap hari hanya di FFT.com