Blitzkrieg Dortmund dan Henrikh Mkhitaryan yang Tak Akan Dirindukan

Dalam beberapa musim terakhir, atau lebih tepatnya sejak era Jurgen Klopp, Dortmund terkenal dengan serangan blitzkrieg-nya. Cepat, terorganisir, dan sangat berbahaya adalah ciri serangan mereka, yang hingga era Thomas Tuchel pun masih digunakan. Lantas bagaimana dengan serangan blitzkrieg Dortmund pada musim 2016/2017 ini? Bergas Agung membahasnya...

Blitzkrieg lebih dikenal pada Perang Dunia II sebagai sebuah strategi perang yang digunakan oleh pasukan Jerman yang kala itu dipimpin oleh sang legenda, Adolf Hitler. Strategi ini mengedepankan serangan yang mendadak, cepat, dan tak terduga, yang akan membawa kekalahan mutlak untuk lawan. Strategi ini juga tak memberikan kesempatan bagi lawan untuk mengorganisir pertahanan. Senjata utama blietzkrig tentu saja komunikasi yang kuat antar tentara Jerman yang diinisiasi kecepatan yang tinggi untuk memborbardir sisi terlemah lawan.

Lebih dari setengah abad kemudian, sebuah pasukan dari Jerman memperagakan strategi tersebut. Namun bukan dalam perang, blitzkrieg justru digunakan dalam taktik atau strategi sepak bola. Dan segerombolan pasukan itu datang dari Jermain bagian barat, dengan kostum kuning-hitam. Borussia Dortmund.

Sejak diambil alih oleh Jurgen Klopp, blitzkrieg memang lekat sekali dengan Dortmund. Blitzkrieg milik Klopp kala itu berawal dari keberhasilan strategi gegenpressing. Seperti yang Anda tahu, secara umum gegenpressing dimaknai sebagai permainan menekan yang agresif sebagai usaha untuk merebut bola secepatnya dari lawan. Gegenpressing dilakukan oleh semua pemain Dortmund sebagai satu kesatuan – dari mulai penyerang hingga bek – pada seluruh pemain lawan. Sederhananya, setiap pemain lawan memegang bola, maka akan langsung ditekan secara agresif.

Jurgen Klopp

Orang inilah yang mengangkat Dortmund ke puncak prestasi mereka dengan gegenpressing dan blitzkrieg

Klopp sendiri memaknai gegenpressing seperti ini, “Momen terbaik adalah untuk memenangi bola segera setelah tim Anda kehilangannya. Lawan masih mencari orientasi ke mana akan mengumpan bola,” ujarnya kepada FourFourTwo beberapa waktu lalu.

LIHAT JUGA #BelakangGawang Ep 1: Apa Itu Gegenpressing?

Jika sudah berhasil melakukan gegenpressing dan mampu merebut bola dari lawan, Dortmund biasanya langsung melakukan serangat cepat yang terorganisir dari kaki ke kaki. Serangan secara cepat dilakukan agar lawan yang baru saja kehilangan bola tak sempat mengorganisir lini pertahanannya untuk mampu menghentikan serangan tersebut. Intinya, serangan ini bertumpu pada ketidaksiapan lawan membendung serangan. Biasanya serangan cepat Dortmund juga di arahkan ke sisi terlemah lawan atau sisi terkosong pertahanan lawan. Konsep serangan inilah yang disebut sebagai blitzkrieg ala Borussia Dortmund.

Kita tentu tahu jika bersama Klopp, strategi ini mampu menghasilkan banyak kesuksesan bagi Dortmund. Dari mulai gelar Bundesliga hingga partai final Liga Champions musim 2012/13 lalu sudah pernah dicapai Neven Subotic dan kawan-kawan melalui strategi tersebut. Shinji Kagawa, Robert Lewandowski, Ilkay Gundogan, Marco Reus, dan Mario Gotse menjadi aktor-aktor utama blitzkrieg milik Klopp kala itu. Bukalah Youtube dan tengok permainan mereka sejak tahun 2010 untuk lebih jelasnya.

Marco Reus, Thomas Rosicky

Seorang Marco Reus pun harus bekerja keras merebut bola sejak wilayah lawan

Ketika pada akhir musim 2014/15 lalu Jurgen Klopp memutuskan tak lagi menukangi Dortmund, banyak yang percaya jika gaya blitzkrieg dan gegenpressing juga akan hilang seiring kepergian pelatih berkacamata itu. Namun ternyata, anggapan publik salah. Datangnya sosok Thomas Tuchel sebagai pelatih anyar justru membuat dua strategi khas itu semakin matang. Tuchel dinilai tak hanya meneruskan apa yang sudah dimulai Klopp, namun justru juga memperbaikinya. Menambal apa yang kurang. Tak percaya? Tengoklah catatan Dortmund pada musim lalu. Musim 2015/16 lalu, Marco Reus dan kawan-kawan merupakan tim tersubur di Bundesliga Jerman. Dan dari 82 gol, 10 di antaranya merupakan gol yang berawal dari proses serangan balik. Catatan itu merupakan kedua yang terbaik di Bundesliga setelah milik Vfb Stuttgart.

Tak hanya itu, di bawah asuhan Tuchel, serangan Dortmund ketika melakukan blitzkrieg dinilai lebih terorganisir dan lebih rapi. Kita tentu tahu pada musim 2015/16 lalu serangan blitzkrieg milik Tuchel bertumpu pada Reus, Pierre-Emerick Aubameyang, dan Henrikh Mkhitaryan. Mereka bertiga merupakan otak dibalik serangan-serangan kilat Dortmund yang kerap menghasilkan tiga, empat, atau bahkan lebih gol pada setiap pertandingannya. Tak heran jika Aubameyang pada musim lalu di Bundesliga saja mampu mencetak 25 gol. Sedangkan Mkhitaryan dalam ajang yang sama merupakan pencetak assists terbanyak dengan 15 assist. Salah satu aksi serangan kencang Dortmund yang paling menonjol musim lalu tentu saja di laga leg kedua semifinal Europa League kontra Liverpool. Tiga gol Dortmund kala itu berasal dari blitzkrieg yang cepat dan terorganisir.

Thomas Tuchel

Thomas Tuchel tak hanya meneruskan sepakbola Klopp di Dortmund, ia mengembangkannya

Pada musim 2016/17 ini, Tuchel diyakini akan tetap memakai pola yang serupa. Blitzkrieg akan tetap digunakannya untuk membunuh para lawan-lawannya. Tentunya yang juga akan dipadukan oleh gegenpresing dan juego de posicion khasnya. Namun sayang, salah satu otak pentingnya musim lalu, Mkhitaryan, sudah tak lagi berseragam kuning-hitam. Dan sebagai pengganti, pelatih berusia 42 tahun itu mendatangkan tiga pemain anyar. Mereka adalah Ousmane Dembele, Andre Schurrle, dan Emre Mor. Ketiga pemain inilah yang diyakini akan semakin memperkuat strategi serangan cepat ala Tuchel.

Tentu kita tahu jika ketiga pemain tersebut memiliki kecepatan dan teknik individu yang bagus untuk melancarkan aksi blitzkrieg. Lihatlah bagaimana aksi Dembele ketika laga pramusim bersama Dortmund. Dengan kecepatan dan skillnya, dia acap kali mengambil peran Aubameyang sebagai penuntas serangan. Tak hanya itu, permain asal Prancis itu juga memiliki catatan yang bagus pada musim lalu. Bersama Rennes di Ligue 1, Dembele mencatatkan 61 persen total memenangi duel per laganya dan juga 5 kali usaha sukses melewati lawan tiap laganya. Torehan itu mengungguli milik trio Dortmund; Reus, Aubameyang, dan Mkhitaryan, pada musim 2015/16.

Ousmane Dembele

Kecepatan Dembele akan menambah daya gedor serangan kilat Dortmund musim ini

Untuk Schurrle, kita tak usah meragukan lagi kemampuannya dalam membangun serangan kilat. Sebagai penggawa tim nasional Jerman yang juga menerapkan strategi serupa di bawah asuhan Joachim Loew, Schurrle tentu sudah hapal strategi seperti ini di luar kepala. Mungkin karena alasan itu pula dirinya diboyong Tuchel dari Wolfsburg. Selain itu, sebagai seorang pemain sayap yang cepat dan memiliki teknik individu yang bagus, Schurrle memiliki agresifitas yang bagus untuk memulai proses blitzkrieg. Catatan 0,95 persen tekel sukses per laga musim lalu, serta 0,99 intersep sukses per laga musim lalu menunjukkan kebolehannya. Bahkan torehan itu hanya mampu diungguli oleh Mkhitaryan musim lalu. Sedangkan Aubameyang, Reus, atau bahkan Dembele, dan Mor masih memiliki catatan di bawah Schurrle. Karenanya soal agresifitas, kehadiran pemain berusia 25 tahun itu mampu menggantikan sosok Mkhitaryan yang hengkang ke Manchester United.

Nama terakhir, Emre Mor, didatangkan dari klub Denmark, FC Nordsjaelland, dan masih berusia 19 tahun. Kehadiran Mor tentu akan memberi dimensi lain bagi blitzkrieg milik Tuchel. Sebagai winger, dirinya lincah, cepat, dan memiliki teknik individu tinggi. Uniknya, pada laga pramusim lalu menghadapi Saundhausen, kemampuan Mor dalam hal agresifitas menekan lawan pun sudah teruji. Pada laga tersebut, pemain timnas Turki itu mampu menekan kiper lawan hingga berhasil merebut bola dan mencetak gol. Selain itu penampilannya pada laga pramusim lain juga cukup baik. Di bawah arahan Tuchel, Mor diprediksi bakal berkembang lebih jauh lagi dalam beberapa tahun ke depan.

Melihat kualitas ketiga rekrutan anyar tersebut, tampaknya fans BVB boleh sedikit optimis musim ini. Mkhitaryan boleh saja menikmati petualangan baru di Inggris, tapi strategi blitzkrieg penghuni Westfalenstadion ini akan tetap berjalan baik (dan mungkin malah bisa lebih baik lagi) tanpanya.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID