Bobotoh: Kultur yang Tak Pernah Mati dari Generasi ke Generasi

Bobotoh bukan kelompok suporter. Bobotoh adalah sebuah kultur, yang dilestarikan turun temurun dulu sampai sekarang. Dan mereka tak akan pernah mati, tulis ekkyrezky...

Ada satu kebiasaan yang muncul ketika kakek saya beranjak semakin tua: bercerita.

Ceritanya tentu tak jauh dari pengalaman hidupnya terdahulu. Kakek saya dulunya adalah seorang wartawan, yang kelak juga menjadi ketua PWI dan Antara di Lampung. Agus S. Soelaeman, namanya. Tetapi, meski akhirnya mendapatkan jabatan besar itu di Lampung, di Bandung lah beliau meniti kariernya, di kota tempat beliau lahir dan tumbuh dewasa.

Banyak hal yang ia ceritakan, berulang-ulang, pada saya. Mulai dari alasannya menjadi wartawan hingga bagaimana ia harus bekerja keras menulis ulang berita pada 30 September 1965 karena kabar bohong yang disiarkan dari PKI. Di antara sekian banyak cerita yang ia kisahkan berulang-ulang, ada satu cerita yang menarik yang terus saya ingat, yaitu tentang bagaimana kencan pertamanya dengan nenek saya.

Bukan, bukan soal kisah cinta mereka yang membuat kisah ini menarik. Tapi pengalamannya ketika pertama kali mengantar nenek saya pulang, lalu diajak paman nenek saya menonton Persib Bandung bersama-sama karena rumah nenek saya memang hanya beberapa meter dari Stadion Siliwangi.

Saya sudah mendengar cerita ini berkali-kali, tapi kesan yang saya dapatkan tetap sama. Sungguh unik, dua orang yang berbeda usia cukup jauh dan baru bertemu pertama kali, bisa berjalan bersama ke stadion dan menonton tim sepakbola lokal bersama-sama.

Kejadian seperti ini mungkin sulit terjadi di Jakarta di era sekarang. Atau juga di kota-kota lainnya di Indonesia. Tapi hal ini mungkin terjadi di Bandung, kota dengan kultur suporter yang begitu kuat sejak dulu.

Kuatnya kultur suporter di Bandung (dan Jawa Barat pada umumnya) memang sudah terjadi sejak dulu. “Sejak Datuk (panggilan saya untuk kakek) kecil, orang Bandung pasti dukung Persib,” katanya.  Tak peduli tua atau muda, semua orang pasti berbondong-bondong ke stadion ketika Persib bertanding.

Menariknya, sebetulnya fenomena dukungan yang masif dari warga Bandung ini bukan hanya untuk sepakbola semata.  Ibu saya, yang juga lahir dan besar di Bandung, mengatakan kalau semua cabang olahraga yang diperkuat oleh orang Bandung pasti mendapatkan dukungan yang besar. Baik itu tinju maupun bulutangkis.

"Asal dari Bandung, apalagi juara, dukungan orang Bandung pasti kuat. Dari orang tua sampai anak-anak. Makanya (anak-anak) sampai tua pun tetep dukung," kisahnya pada saya.

Asal dari Bandung, apalagi juara, dukungan orang Bandung pasti kuat. Dari orang tua sampai anak-anak

Sebetulnya kultur mendukung Persib ini tidak hanya berkembang. Meski berkandang dan bernamakan kota Bandung, tetapi kultur mendukung Persib ini juga terjadi di Jawa Barat secara keseluruhan. Usep Romli, seorang sastrawan Sunda kelahiran Garut, pernah menuliskan pengalamannya mendukung Persib sejak remaja.

Tidak, beliau bukan warga Bandung. Beliau lahir dan besar di Garut, dan ketika remaja, dengan uang pas-pasan, beliau sebisa mungkin pergi ke Bandung untuk mendukung Persib langsung di stadion. Menumpang truk minyak kelapa pun dijalani, selain juga berusaha mencari uang saku dengan menjual kayu bakar atau telur ayam (tetangga). Bolos sekolah pun tak masalah. Pengorbanan yang “sepadan” untuk mendukung klub yang dicintai.