Cara Hillsborough mengubah wajah sepak bola

Sudah 25 tahun lewat sejak bencana paling terkenal dalam sepak bola dan dalam kurun waktu itu semua hal sudah berubah. Paul Simpson, editor pertama FourFourTwo pada 1994, melihat kembali perubahan yang didorong oleh media selama seperempat abad... 

Dua puluh lima tahun yang lalu, 96 orang kehilangan nyawanya secara sia-sia dalam tragedi Hillsborough. Tanggal itu--15 April 1989-- akan terus tersimpan dalam lembaran hitam. Seperti yang ditulis Jason Cowley dalam bukunya The Last Game: Love, Death And Football, tragedi itu adalah titik balik sepak bola Inggris. Budaya olah raga ini harus benar-benar berubah kalau sepak bola ingin dianggap lebih dari sekadar hiburan pria kulit putih dari kelas pekerja, teater kebencian dan kekerasan, rasis dan misoginis, kalau memang ingin tak lekang oleh waktu.”

Untunganya buat sepak bola, perubahan itu terjadi. Secara dramatis. Bahkan pemerintahan Margaret Thatcher yang sikapnya terhadap sepak bola berada di antara ketidakpedulian dan meremehkan, bisa mengabaikan tragedi berskala besar seperti itu. Penyelidikan insiden Hillsborough, penyusunan Laporan Taylor, adalah mekanisme yang menandakan akhir dari era stadion yang reyot bin bobrok di mana suporter dikurung dalam kandang.

Uang turut membuka jalan. Pemasukan dari hak siar televisi sudah mulai melonjak --dari 5,2 juta pound buat Football League pada 1983 ke 11 juta pound pada 1988-- tapi kompetisi antara ITV, BBC, Sky, Setanta, dan BT makin mendongkrak pemasukan itu hingga 1 miliar per tahun hanya untuk Premier League.

Versi baru dari First Division terinspirasi oleh peluang komersial yang membuat Premier League, meminjam istilah Roy Keane, salah satu brand terbaik di dunia. Kedatangan Premier League dan Liga Champion UEFA pada 1992/1993 memberi sepak bola semacam penataan ulang yang diperlukan buat menarik perhatian dunia penyiaran, sponsor, dan konglomerat yang ingin memiliki sebuah klub tanpa mempedulikan adagium tua bahwa cara terbaik agar kaya di sepak bola adalah memulainya bersama klub besar.

Sepak bola + media = popularitas

Pada masa di mana gaji pesepak bola dipakai buat bahan berdebat dengan mereka di bar, mudah sekali melupakan bahwa transformasi sepak bola Inggris bukan melulu soal uang. Setelah Hillsborough, jutaan suporter yang hanya menonton dari rumah butuh alasan agar bisa jatuh cinta lagi kepada sepak bola. Mereka menemukannya pada Italia 90. Kekalahan heroik dari musuh bebuyutannya, Jerman (Barat) dan air mata Gazza membantu lonjakan popularitas sepak bola.

 
 
Kenaikan itu terwujud dalam berbagai bentuk. Humor dewasa sepak bola dalam tayangan televisi Baddiel and Skinner’s Fantasy Football League mendadak ada di mana-mana. Satu majalah sepak bola keren bernama FourFourTwo diluncurkan, dengan saya sebagai editornya, pada September 1994, sesaat setelah Piala Dunia ketika Inggris gagal lolos kualifikasi 
 
Masih dianggap yang berwenang sebagai calon perusuh --dan lebih banyak diabaikan oleh media – suporter sepak bola mendadak mengeskpresikan diri, menyampaikan pandangan mereka lewat program radio 606 milik BBC dan membuat buletin dengan nama yang ajaib seperti Dial M For Merthyr.
 
Satu dekade sejak itu, suporter telah menemukan bahwa opini didengar ternyata bukan berarti diperhitungkan --seperti yang akan diceritakan oleh suporter klub yang nyaris membentur tembok karena pengelolanya tidak kompeten, tak bemoral, atau ngaco.
 
Politikus mulai memakai pilihan klubnya sebagai kode buat meyakinkan bahwa mereka “memihak” kita, sebuah fenomena yang mencapai titik absurd ketika Tony Blair, saat itu hanya pemimpin Partai Buruh, menyusun sebelas pemain favoritnya. Diingatkan bahwa dia tak bisa sekadar menyebutkan pemain Newcastle, dia memilih sepuluh pemain legendaris Toon dan Andy Cole, yang baru saja bergabung ke Manchester United. Kalau saja dia bisa seperti itu ketika ada di 10 Downing Street ketika George W Bush terus menelponnya dan mendesak agar menginvasi Irak ...
 
 

Di lapangan, sepak bola Inggris yang baru saja bertambah duit, mendadak bisa menarik bakat terbaik dunia. Awalnya, seperti orang yang baru menang lotere, klub menghabiskan jutaan pound buat Carlos Kickaballs; tapi pada 1999, saat manajer Arsenal yang awalnya dikenal pres Britania Raya sebagai “Arsène siapa tadi?” mengontrak Thierry Henry, kesepakatan yang menandai sebuah perubahan dalam cara rekrutmen sepak bola Inggris.