Dari Jose Mourinho ke Rafa Benitez: 10 Manajer Asing Kedua di Sepakbola Tertinggi Inggris

Dengan Arsene Wenger akan merayakan 20 tahunnya sebagai manajer Arsenal pada Kamis nanti, FFT memutuskan untuk mengenang setiap manajer asing yang pernah melatih di sepakbola level tertinggi di Inggris – semuanya. Berikut adalah 10 nama kedua... 

11. Sven-Göran Eriksson (Inggris, Manchester City)

  • Inggris: 9 Januari 2001 hingga 2 Juli 2006
  • Manchester City: 6 Juli 2007 hingga 2 Juni 2008

Dia merapikan kekacauan yang diciptakan Kevin Keegan, memberikan kemenangan luar biasa 5-1 bagi suporter Inggris di Munich, dan mencapai perempat final turnamen internasional sebanyak tiga kali secara beruntun

Adalah sebuah ironi bahwa saat menunjuk manajer asing yang seharusnya bisa membawa tim nasional Inggris menuju kesuksesan di era milenium, ia juga dikenal sebagai seorang manajer yang memiliki taktik using, layaknya para manajer yang lahir dan besar di negara kepulauan di Atlantik ini.

Meskipun xenophobia (ketakutan atau kebencian terhadap orang-orang dari luar negeri) mewarnai kedatangannya – jurnalis Daily Mail, Jeff Powell, menulis bahwa Inggris telah menjual 'hak asasi kita kepada bangsa pada negara yang terdiri dari tujuh juta pemain ski dan pelempar palu yang menghabiskan setengah tahun hidup mereka dalam kegelapan' – Eriksson adalah manajer yang meraih trofi di Swedia, Portugal, dan Italia. Dia merapikan kekacauan yang diciptakan Kevin Keegan, memberikan kemenangan luar biasa 5-1 bagi suporter Inggris di Munich, dan mencapai perempat final turnamen internasional sebanyak tiga kali secara beruntun.

Sven-Goran Eriksson

Eriksson diperkenalkan ke media pada 2001

Pencapaian itu tampak istimewa saat ini namun tidak memuaskan saat itu, dan sebagian besar pecinta sepak bola Inggris berpikir bahwa generasi terbaik mereka seharusnya bisa mencapai sesuatu yang lebih baik; meski dua kekalahan di babak adu penalti memberikan mereka narasi yang menyedihkan, Eriksson tiga kali ditaklukkan Luiz Felipe Scolari.

Eriksson secara taktik cenderung kaku, dia menerapkan 4-4-2 kaku yang kuno hingga akhir masa kepelatihannya. Dia menggeser Paul Scholes ke sayap kiri dan membuat sang gelandang pensiun dini, dan juga gagal menyatukan Steven Gerrard dan Frank Lampard dalam satu tim. Formasi eksperimen 4-5-1 hanya berujung pada kekalahan 1-0 dari Irlandia Utara.

Hanya sedikit suporter Inggris yang merasa sedih melihat era kepelatihan yang berjalan selama setengah dekade itu berakhir, tapi tim nasional mereka kemudian memburuk. Sementara itu, Eriksson kemudian melatih di Man City, Meksiko, Notts County, Pantai Gading, Leicester, Thailand, Dubai, dan Tiongkok. Masa depannya juga tidak berubah menjadi cerah.

Sven-Goran Eriksson

Fans Manchester City meminta dewan klub mempertahankan Sven pada 2008

12. Jose Mourinho (Chelsea, Manchester United)

  • Chelsea: 2 Juni 2004 hingga 20 September 2007 & 3 Juni 2013 hingga 17 Desember 2015
  • Manchester United: 27 Mei 2016 hingga saat ini

Football journalists adored his carefully crafted soundbites; fashon mags pontificated over his stylish overcoat; Chelsea fans loved his side’s attacking brio

Anehnya, antara musim panas 2000 dan 2004, hanya ada satu penunjukkan manajer asing di sepakbola tertinggi Inggris – Sven-Goran Eriksson yang ditunjuk sebagai pelatih tim nasional. Ketika beberapa pihak meramalkan akan ada banyak manajer asing datang, klub-klub Premier League justru menunjuk pelatih-pelatih asli Inggris seperti Stuart Gray, Glenn Roeder dan Dave Bassett.

Tapi di musim panas 2004, tiga klub top Inggris menunjuk tiga manajer top di kawasan Eropa, dan bukanlah kejutan bagi siapa pun jika Chelsea adalah yang pertama mendapatkan incaran mereka. Claudio Ranieri memang sosok yang populer, tetapi ia tidak mampu memuaskan pemilik baru Roman Abramovich untuk mendominasi liga.

Datanglah Jose Mourinho. Pada bulan Maret tahun itu ia telah membuktikan sentuhannya dengan selebrasi meluncur di pinggir lapangan Old Trafford saat timnya, FC Porto, berhasil mencetak gol penyeimbang melawan Manchester United; pada akhir bulan Mei ia telah memenangi Liga Champions, untuk melengkapi catatannya yang merebut dua gelar liga, Piala UEFA, dan Piala Portugal, dan mendapat undangan untuk melatih di Stamford Bridge.

Dia dengan senang hati menerimanya dengan cepat. Jurnalis sepakbola suka dengan gaya bicaranya; majalah fashion mengomentari setelan jasnya yang keren; suporter Chelsea mencintai gaya menyerang timnya (meskipun ia kemudian mendapatkan reputasi sebagai pelatih pragmatis, timnya berhasil mencetak 144 gol dalam dua musim pertamanya) dan selanjutnya mengoleksi banyak trofi.

Tapi tidak semuanya berjalan dengan baik. Dia menciptakan mentalitas yang keras dengan klub-klub lain dan manajer tertentu (terutama manajer Liverpool, Rafa Benitez, dan Arsenal, Arsene Wenger) dijadikannya sebagai musuh utama, membuat media terpecah belah. Bahkan para suporter dari klub yang tidak menjadi rival Chelsea merasa muak dengan aksi mencari perhatiannya, yang biasanya dilakukan demi melindungi para pemainnya namun menciptakan kesan seolah dialah yang terobsesi menjadi pusat perhatian.

Meski begitu, tetaplah mengejutkan ketika dia meninggalkan Chelsea setelah menjalani tiga musim yang sukses, meskipun jangka waktu tersebut menjadi ciri khasnya saat melatih sebuah klub. Setelah berisitirahat sejenak ia menghabiskan dua tahun yang luar biasa bersama Inter Milan (termasuk meraih trofi Liga Champions lagi), kemudian tiga tahun di Real Madrid sebelum kembali ke Stamford Bridge; kali ini ia hanya bertahan selama dua setengah musim sebelum momen perpisahan yang penuh kebencian.

Ada beberapa pihak yang mengatakan gaya konfrontatifnya menjadi penutup yang buruk dari sambutan hangat yang diberikan padanya – dari pemain bintang, petinggi klub, dan suporter. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Mourinho adalah representasi yang paling mendekati sepakbola modern yang menuntut trofi: pada musim panas 2016 ia telah memenangi delapan gelar liga dalam 14 musim di empat negara yang berbeda.

Dia bisa dibilang pelatih terbaik di dunia dalam hal persiapan untuk menghadapi sebuah laga dan lawan, dan dia tidak terlalu idealis untuk menyadari bahwa hasilnya tak akan selalu sesuai harapan. Penunjukkannya oleh Manchester United – paling tidak terkait dengan kedatangan Pep Guardiola di City, yang merupakan musuh abadinya – pasti akan membuat Premier League kian menarik.

Pages