Dari Soentoro sampai Darmadi: 4 Kakak-Adik yang Pernah Bermain Bersama di Persija Jakarta

Sejarah panjang Persija Jakarta telah menghasilkan beberapa pemain bersaudara yang bermain bersama di klub ibukota tersebut. Gerry Putra mencari tahu tentang karier mereka di Persija dan bagaimana mereka bisa sampai di sana, bersama-sama...

Sebagai klub besar, Persija Jakarta memiliki stok pemain berlimpah dari level usia muda hingga senior. Bahkan pada era 1950an hingga 1970an, stok pemain Persija sudah cukup untuk membentuk dua hingga tiga tim untuk mengikuti turnamen sepak bola yang waktu berdekatan.

Dari banyaknya pemain yang pernah dihasilkan Persija, tak jarang Macan Kemayoran kerap melahirkan pemain kakak beradik dalam satu tim. Yang menarik, hampir setiap era Persija memiliki pemain kakak beradik.

Pemain kakak beradik di Persija pun tak kalah mentereng. Soegija, Soegito dan Soetjipto Soentoro bisa dibilang generasi pertama pemain kakak beradik di tubuh Persija. Sayangnya, ketika Persija menjadi tim super tahun 1964, hanya Soegito dan Soetjipto saja yang merasakan label tersebut.

Selain itu masih ada Sumirta dan Suhanta, lalu Darmadi bersaudara yang nantinya akan diteruskan oleh anak-anak mereka di era modern, yakni Andro Levandy dan Adixi Lenzivio.

FourFourTwo mencoba untuk mengulas perjalanan dan prestasi apa saja yang mereka pernah berikan untuk Persija Jakarta,

1. Soentoro Bersaudara

Soentoro bersaudara bisa dibilang menjadi pembuka pemain kakak beradik di Persija. Nama keluarga Soentoro memang terkenal berkat keahlian sepak bola dari Soetjipto Soentoro, salah satu legenda sepakbola Indonesia. Gareng (sapaan akrab Soetjipto) merupakan pemain paling muda yang pernah bergabung dengan Persija.

Keluarga Soentoro Djajasapoetro memang memiliki anak-anak yang gila bola. Tercatat, ada tiga anak lelakinya yang masuk ke Persija melalui klub PS Setia dan IPPI Kebayoran, yakni Soegija, Soegito dan Soetjipo. Bukan hal yang mengherankan jika PS Setia menjadi pelabuhan ketiga Soentoro itu untuk hijrah ke Persija, karena klub tersebut bermarkas di Kebayoran yang dekat dengan kediaman Soentoro di Gandaria.

Namun dari ketiga nama tersebut, Soetjipto lah yang menjadi bintang besar sepak bola Indonesia. Bergbung dengan Persija pada tahun 1957, usia Soetjipto kala itu masih 16 tahun. Bakat besarnya di sepak bola mendapat keistimewaan di Persija, dan ia pun langsung bergabung dengan tim senior.

Soetjipto Soentoro

Soetjipto Soentoro bersama tim nasional Indonesia dalam tur Eropa

Soetjipto muda langsung bermain dengan bintang-bintang Persija kala itu, seperti Tan Liong Houw, Bob Hippy, Giok Po, Chris Ong, Bob Amanopudjo, Dirhamsyah, hingga Djamiat Dalhar. Sedangkan Soegito harus merangkak dari tim junior Persija sebelum masuk ke senior.

Dari pengalaman itulah, Soetjipto akhirnya punya bekal untuk membawa Persija menjadi tim super. Tahun 1964 menjadi tahun revolusi Persija, dengan gencarnya penggunaan pemain-pemain muda. Pelatih drg Endang Witarsa, yang memimpin klub ibukota ini ketika itu, memang punya pakem sepak bola cepat dan atraktif, dan pola itu hanya bisa dimainkan jika tenaga muda mengisi seluruh posisi penting di Persija.

Duet Soentoro bersaudara membawa Persija menjuarai kompetisi PSSI tahun 1964 dengan catatan tanpa terkalahkan. Generasi emas Soentoro mencapai puncak kejayaannya di tahun tersebut

Soetjipto yang lebih berpengalaman menjadi kapten. Soegito yang juga kerap mencetak gol, dimasukkan ke tim 1964. Bahkan pada pertandingan melawan PSP Padang di Jakarta 3 Juli 1964, Soetjipto dan Soegito sama-sama mencetak gol untuk kemenangan Persija 7-0.

Tak pelak, duet Soentoro bersaudara itu membawa Persija menjuarai kompetisi PSSI tahun 1964 dengan catatan tanpa terkalahkan. Generasi emas Soentoro mencapai puncak kejayaannya di tahun tersebut.

Persija 1964

Line-up Persija di tahun 1964 (Foto: Juara.net)

Setelah tahun 1964, nama Soegito mulai memudar tapi Soetjipto terus berkibar. Tak hanya di Persija, Soetjipto juga dipuja oleh publik sepak bola nasional karena permainannya. Soetjipto pensiun dari dunia sepak bola pada tahun 1971 setelah gagal membawa Persija juara pada kompetisi PSSI pada tahun yang sama.

Pages