Deco: Si genius yang sederhana

Sederhana, tidak sombong dan santai, Deco - Portugis internasional ini adalah pemain diatas pemain. Dominic Neo memetakan tahunan karir sepak bola mantan gelandang Barcelona, Chelsea dan Porto ini.

Gol penutup Deco untuk Porto pada pertandingan testimoninya adalah bagai rangkuman dari karir sepak bolanya, tendangan kaki miring yang menyentuh tiang gawang lalu masuk dari bagian pojok atas, mengkarakteristikan kemampuan teknis dan kepiawaian. Sebuah keterampilan yang luar biasa.

Dengan sedikit senyum kebanggaan, dia meninggalkan gawang tersebut lalu secara lugas menyambut tos teman satu tim-nya satu persatu. Sederhana, tidak sombong dan santai itulah Deco dalam membuat gol.

Mantan Portugis internasional ini mempunyai karir yang indah untuk dilukiskan. Dia punya delapan penghargaan liga dan 16 piala selama 11 tahun bersama Porto, Barcelona, Chelsea dan Fluminense. Si pengatur serangan ini juga memenangkan juara Champions League: 2004 bersama Porto dan 2006 bersama Barcelona. Deco hampir mendapatkan sukses tahap internasional sebelum Portugal kalah skor 1-0 Final Euro 2004 terhadap Yunani. Secara pribadi, ia mendapatkkan penghargaan silver ball 2004 Ballon d’Or dan dinobatkan sebagai pemain gelandang terbaik tahun 2003-04 dan 2005-06 oleh UEFA. Karirnya memang sangat gemilang.

 “Salah satu pemain terbaik di dunia,seperti teman-temannya [Cristiano] Ronaldo and [Lionel] Messi”

Kalimat diatas diutarakan oleh Luiz Felipe Scolari, seorang pelatih yang telah melihat banyak sekali bakat-bakat genius persepak bolaan. Teman bekas satu timnya di Porto, Derlei, menyatakan bahwa Deco adalah pemain sepak bola terbaik yang pernah main bersamanya di satu tim. Adapun, Deco selalu saja menjadi pribadi yang sederhana mengingat ia memiliki kesuksesan dan kualitas yang luar biasa.

Mungkin karena gaya main bolanya juga. Bukan tipe yang menyerbu dari ujung lapangan atau yang sombong menerobos segala halangan, pemain dengan tinggi 1.74cm ini memilih bermain secara sederhana. Dia diberkati dengan keterampilan teknis yang hebat, serta kepekaan dan penglihatan empat ruang – ini membuatnya mampu melewati pertahanan lawan dengan baik dan juga mampu membuat tembakan jarak jauh yang akurat. Tembakan dari jarak 27m yang ia buat pada saat debutnya bersama Chelsea, adalah contoh sempurna dari bakat teknis Deco:

Sebagai gelandang posisi tengah, Deco paling efektif kalau di tempatkan di garis serang, ia dengan baik dapat menyambungkan permainan dan menciptakan kesempatan-kesempatan dengan pass yang tajam. Ia dipuja-puja atas kemampuannya teknis dan kerjasamanya, membuang segala mitos negatif mengenai seorang pembuat serangan yang biasanya malas. Pada tahun 2004, dia bermain di ujung formasi berlian gelandang dengan Porto. Di Barcelona, dia beroperasi pas dibelakang tiga formasi mulus, Samuel Eto’o, Ronaldinho dan Ludovic Giuly. Mantan pelatihnya di Barcelona, Frank Rijkaard, menyebutnya sebagai ‘barometer tim unggulan’ – ini bukan hanya untuk mengukur kemampuan Deco sendiri, tapi juga bukti nyata penting dirinya dalam sebuah tim superstar.

 “Sebelum adanya Mourinho, saya sedih”

Deco bukannya selalu dipuja-puja. Walaupun ia telah masuk ke liga Eropa pada umur 19 tahun di 1997, karirnya kurang baik di empat tahun pertama. Benfica mengambil Deco dari Corinthians, lalu ia dipinjamkan lagi ke Liga de Honra club, Alverca, Cuma untuk satu musim saja. Waktu kembali, manajer Graeme Souness lebih memilih pemain gelandang dari Wales Mark Pembridge dari pada dirinya. Deco akhirnya dijual ke Salgueiros tanpa bertanding sekalipun untuk Benfica.      

Dia bersinar saat bermain singkat untuk klub divisi kedua sebelum Porto menciduknya. Walau Deco akhirnya mampu memutar roda karirnya, kegagalannya dalam mendapatkan juara domestik membuatnya sedikit frustasi. Sampai akhirnya Jose Mourinho hadir, barulah karirnya melejit. Deco-pun menghargai kontribusi manajer Chelsea dengan berkata: 

“Saya sempat patah hati, bermain tiga tahun tanpa mendapatkan juara liga (bersama Porto). Mourinho sepertinya menularkan pengaruh baik dengan keberadaan dan cara bekerjanya. Kita mulai memenangkan pertandingan-pertandingan dan tidak lama kemudian, menjadi juara liga menjadi sesuatu yang sepertinya bisa dicapai. Kami bermain bola dengan sangat indah.”

 “Yang diberikan Mourinho untuk saya adalah ketenaran, dia mampu menciptakan tim yang hebat… dan berada dalam tim yang hebat membuat saya diperhatikan orang, saya berterima kasih kepada Mourinho untuk itu”.

Setelah itu Deco mendapatkan juara 24 kali bermain sepak bola selama 11 tahun dengan empat klub yang berbeda. Agak susah mencari contoh yang lebih sukses dari Deco di jaman sepak bola modern ini.

Brazil atau Portugal?

Sedikit misterius mengingat negara kelahirannya, Brazil, tidak pernah memanggil dirinya untuk masuk tim nasional. Pada tahun 2002, setelah tinggal di Portugal selama enam tahun, Deco mendapatkan kewarga negaraan Portugisnya. Lalu ia memutuskan untuk bermain untuk Portugal. Ini merupakan keputusan kontroversial yang memicu banyak diskusi di masyarakat.

Seperti ditakdirkan, pertandingan internasionalnya yang pertama adalah melawan Brazil. Tahun 2003, dia masuk sebagai pemain cadangan lalu mencetak gol yang membantu Portugal menang lagi terhadap Brazil sejak tahun 1996. Kritikuspun tutup mulup.

Deco mendapatkan 75 cap dan mencetak lima gol untuk tim nasional. Walaupun ia tidak pernah mendapatkan titel juara internasional bersama Portugal, Deco tetap menjadi anggota penting dari tim Euro 2004 yang kalah tipis terhadap Yunani di pertandingan Final. Deco memiliki karir internasional yang solid, terutama sebagai pemain yang mendapatkan cap pada umur 25 tahun. Lebih baik terlambat dari pada tidak pernah datang.

Genius sederhana yang disepelekan?

Seperti yang di klaim Scolari, apakah Deco salah satu pemain bola terbaik di dunia? Kalau dilihat dari jumlah penghargaan yang diterimanya, fakta menyatakan demikian. Tapi kalau dilihat dari penampilan dan karakter, dia memang tidak semenarik Ronaldo atau Messi. Adapun Deco adalah komponen penting dari tim-tim pemenang. Dia adalah pemenang sejati. Dan pemain juara kelas dunia.

Dia akan selalu, berada di luar jalur utama sorotan umum sepak bola. Saat kita memperdebatkan siapakah pemain bola terbaik jaman modern ini, Deco-pun akan ada diluar topik diskusi. Lalu, bagaimana kita akan mengingatnya? Messi punya usulan, saat ia berkata:

“Deco berhak menerima (penghargaan) ini. Sebagai seorang pemain bola dan sebagai seorang individu yang luar biasa”

“Saya dan teman-teman satu tim yang lain banyak belajar dari dia. Saya tidak akan melewatkan pertandingan testimoni ini”.

Deco adalah seorang professional di mata para professional. Di setiap tendangan Messi, ada pengaruh Deco didalamnya. Ini adalah cara yang tepat untuk mengingat seorang pemain yang berkelas. Deco pembawaanya sederhana, dan dia akan selalu menjadi seseorang yang sederhana.

Semua penggemar Deco bisa melihat aksinya di Asia bersama Tiger Street Football 2014. Pemenang dua Champions League ini akan tampil di Kamboja (9 Agustus), Mongolia (23 Agustus) dan Singapore (6 September).