Di Balik Kesuksesan Besar Johor Darul Ta'zim

FourFourTwo mendapatkan akses eksklusif ke klub sepakbola Malaysia, Johor Darul Ta’zim (JDT), dan sangat beruntung bisa menghabiskan cukup banyak waktu bersama Tunku Ismail Idris Ibni Sultan Ibrahim Ismail, Putra Mahkota Johor. Selama beberapa waktu ke depan, kami akan menyajikan info-info di balik layar dari salah satu klub paling ambisius di Asia Tenggara ini. Ini adalah bagian pertama...

Menyenangkan, hangat, dan sangat terpelajar, Putra Mahkota Johor mempunyai visi yang jelas atas klubnya yang ambisius, sebuah klub yang telah ia ubah secara keseluruhan hanya dalam waktu tiga tahun.

Saya ingin melihat masyarakat bersatu. Sepakbola adalah faktor pemersatu, tak peduli rasa tau agama

Menyenangkan, hangat, dan sangat terpelajar, Putra Mahkota Johor mempunyai visi yang jelas atas klubnya yang ambisius, sebuah klub yang telah ia ubah secara keseluruhan hanya dalam waktu tiga tahun.

Ketika ia berbicara, ada aura kerajaan yang sangat terasa dan Anda akan merasa beruntung bisa mendapatkan waktunya yang berharga.

Tetapi juga jelas terasa bahwa mendiskusikan Southern Tigers dan negara bagiannya ini adalah gairah terbesarnya dan ia gembira melakukannya.

Jika Anda berani untuk memotong ucapannya, mungkin warna biru tua, merah cerah, dan putih yang merupakan warna kebesaran Johor akan terlihat di pembuluh darahnya, karena begitu dalamnya kecintaan sang Putra Mahkota akan Johor.

Ia adalah sosok yang ceplas-ceplos, tidak mengatakan banyak kata yang tak perlu, dan memperlihatkan perpaduan antara keyakinan yang besar akan apa yang akan didapatkan.

Frase “sukses telah menjadi adiksi” adalah tema yang dua kali dibicarakan oleh Yang Mulia Putra Mahkota dalam wawancara panjang kami, dan mengingat pencapaian klubnya hingga saat ini, tak ada keraguan bahwa ia akan mempertahankannya hingga waktu yang lama.

Kami membuka pembicaraan kami dengan pertanyaan langsung soal gairahnya terhadap sepakbola.

Sang Putra Mahkota mengawasi latihan di samping pelatih kepala JDT, Mario Gomez

Jawabannya memberikan sedikit gambaran akan masa kecilnya, sebelum pembicaraan ini langsung dialihkan ke proyeknya saat ini.

“Saya selalu menyukai sepakbola, sejak saya masih kecil,” jawabnya. “Teman-teman saya di sekolah dan saya, kami semua mencintai sepakbola.”

“Di rumah saya di mana saya tumbuh, saya biasa bermain sepakbola dengan anak-anak yang mengurus kuda-kuda polo. Jadi saya selalu mencintai sepakbola.”

“Dalam hal apa yang kami lakukan dengan JDT sekarang, saya ingin melihat masyarakat bersatu. Sepakbola adalah faktor pemersatu, tak peduli rasa tau agama.”

“Saya pikir akademi-akademi sepakbola yang kami dirikan sangat penting karena kami ingin mempunyai basis edukasi yang bagus untuk anak-anak dan mendukung gaya hidup yang sehat, dan membuat anak-anak tidak berkeliaran di jalan.”

“Di saat yang sama, kami ingin mengedukasi mereka. Tentu saja tidak 100 persen dari mereka akan tumbuh menjadi pesepakbola professional. Mereka mungkin akan menjadi pesepakbola, mungkin juga tidak, tetapi setidaknya kami membuat mereka bisa berkembang lewat sepakbola dan membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik.”

“Itu adalah salah satu target klub. Selain itu, kami jelas ingin mendominasi Malaysia dan kemudian bekerja sebaik kami di level Asia.”

Inilah fasilitas latihan JDT yang sangat indah

Melakukan segalanya dengan benar, tanpa campur tangan politik, hanya kecintaan akan sepakbola dan memiliki sebanyak mungkin sosok professional di organisasi kami – itu selalu menjadi target kami.”

Soal bagaimana Sang Putra Mahkota terlibat dengan klub dari kota kelahirannya telah menjadi legenda tersendiri.

Kisah-kisah yang muncul termasuk bagaimana orang-orang turun ke jalan untuk meminta pertolongannya, sementara penonton klub lokal hanyalah dua orang dan seekor anjing yang menyaksikan kekalahan demi kekalahan dengan rumput liar mulai muncul di Larkin Stadium.

Tetapi kenyataannya ternyata memang seperti legenda itu.