Diego Alves: Sang Raja Penalti yang Masih Perlu Membuktikan Diri

“Aku tak peduli dengan (dua kali) penyelamatan penaltiku. Aku akan selalu mengatakan bahwa jika menyelamatkan penalti tersebut mampu membuat timku menang, aku senang. Jika tidak, maka sebaliknya.” 

Itulah yang dikatakan Diego Alves pasca Valencia ditekuk Atetico Madrid, pekan lalu. Ia memang tak peduli. Begitulah kebenarannya. Kemenangan, bagi dirinya terutama Valencia yang sedang mengalami krisis di pembukaan musim 2016/17, menjadi hal yang sangat amat penting untuk diraih demi menjauh dari zona degradasi. Tapi setidaknya, statistik masih peduli dengan catatan apik Alves dalam menahan penalti tersebut meski ujung-ujungnya adalah kekalahan.

Tercatat sebanyak 19 kali Diego Alves membuat penyelamatan gemilang dari 37 kali ia menghadapi tendangan penalti di kompetisi La Liga atau 51,3%. Total, ia menyelamatkan 21 penalti di sepanjang kariernya

Sebagai bentuk kepedulian statistik dalam sepakbola terhadap catatan Alves tersebut, tercatat sebanyak 19 kali Diego Alves membuat penyelamatan gemilang dari 37 kali ia menghadapi tendangan penalti di kompetisi La Liga atau 51,3%. Total, ia menyelamatkan 21 penalti dari 45 kali menghadapi eksekutor dari titik putih di sepanjang kariernya. Secara keseluruhan, ia juga hanya kebobolan 21 kali saja serta 2 lainnya membentur tiang gawang dan tak tepat sasaran. Singkatnya, ia benar-benar spesialis menghadang tendangan 12 pas.

Jelas, tak ada kiper yang melakukan hal itu yang lebih banyak darinya. Ini adalah rekor terbaik sepanjang sejarah. Belum lagi ia memecahkan rekor ini saat berhadapan dengan tim kuat Atletico Madrid. Dua kali hadiah penalti bagi Atleti ia mentahkan (dari Antoine Griezmann dan Gabi) meski skor akhir tak begitu mengenakkan bagi Valencia dan Alves sendiri. Jika saja dua penalti Atleti masuk, maka Valencia (mungkin) akan kebobolan empat gol tanpa balas saat itu.

Catatan apik Alves dalam menahan penalti, (tampaknya) tidak dibarengi dengan performa apiknya di atas lapangan. Sebagai perbandingan, musim lalu Alves memang hanya 1170 menit saja dari 13 pertandingan jika dibandingkan dengan Claudio Bravo (Barcelona), Keylor Navas (Real Madrid) dan Jan Oblak (Atleti). Ini disebabkan karena Matt Ryan dan Jaume Domenech kerap kali bergantian untuk mengawal gawang Valencia. 

Diego Alves

Alves masih harus meningkatkan statistik penyelamatannya dalam permainan terbuka

Musim lalu, Diego Alves hanya mampu membuat 2,2 kali penyelamatan per golnya di setiap 90 menit bertanding dan ini tidak lebih baik dari Bravo (3,4 kali penyelamatan per gol), Navas (3,0 kali penyelamatan per gol) dan Oblak (3,5 kali penyelamatan per gol). Alves juga memiliki catatan kurang menyenangkan dari tiga pesaing lainnya dalam urusan rataan kebobolan per 90 menitnya. (1, 62 gol untuk Alves, 0,69 untuk Bravo, 0,82 untuk Navas dan 0,47 untuk Oblak). Kesimpulan sementara yang didapat adalah; Diego Alves tak terlalu baik (secara statistik) dalam permainan terbuka (tanpa penalti).

Banyaknya kebobolan sebuah tim memang tak bisa sepenuhnya dibebankan atas kesalahan seorang kiper. Ada struktur bertahan yang salah, transisi menyerang ke bertahan yang berantakan serta pemain belakang yang kerap miskomunikasi bisa menjadi alasan mengapa tim tersebut kebobolan banyak gol. Diego Alves, sekali lagi, bisa saja memakai alasan-alasan di atas sebagai pembelaan dirinya dari catatan statistiknya yang kurang bagus tersebut.

Sempat diliriknya Alves sebagai kiper Barcelona pengganti Claudio Bravo ke Manchester City bisa menjadi bukti sahih mengapa ia bukanlah kiper yang buruk-buruk amat. Sayangnya, ia gagal menyusul Andre Gomes dan Paco Alcacer, dua mantan rekannya di Valencia, untuk menyebrang ke Barcelona. Jesper Cillessen lah yang resmi direkrut Blaugrana pasca hengkangnya Bravo atas rekomendasi direktur olahraga Barca, Robert Fernandez.

Luis Suarez, Diego Alves

Meski sempat dirumorkan akan bergabung dengan Barcelona, Diego Alves akhirnya 'kalah bersaing' dengan Jasper Cillessen.

Belum ada alasan pasti mengapa Cillessen lebih dipilih kubu Blaugrana ketimbang Alves, memang. Namun (lagi-lagi) secara statistik, Cillessen ternyata lebih sedikit kebobolan (0,64 gol per 90 menitnya). Sampai sini, catatan tak kebobolan Cillesen di musim lalu malah lebih baik ketimbang Claudio Bravo dan tentu saja dari Diego Alves. Hanya saja, kedua kiper ini (Alves dan Cillessen) sama-sama mempunyai kekurangan dalam menditribusikan bola yang mana ini adalah salah satu elemen kunci bagi kiper-kiper Barcelona sejak beberapa tahun terakhir. Bravo, jelas jauh lebih baik dari mereka berdua.

Meski gagal hengkang, kini Alves diuntungkan posisinya sebagai kiper utama Valencia karena Matt Ryan masih terlilit cedera. Apalagi, setelah dipecatnya Pako Ayestaran dari kursi kepelatihan Valencia dan ditunjuknya Cesare Prandelli sebagai pelatih anyar Los Che, Alves bisa memantapkan dirinya sebagai pilihan utama Prandelli di musim ini. Keuntungan lainnya bagi Alves tentu saja organisasi pertahanan akan dibenahi oleh Prandelli terlebih dahulu dan Alves (mungkin) bisa jadi terbebas dari catatan statistik-statistik buruknya ketika mengawal gawang Valencia di luar tendangan penalti, tentunya.  

Ketika ia mampu bermain apik serta konsisten bagi Valencia, bukan tak mungkin ia akan kembali dipanggil sebagai satu dari tiga kiper di skuat utama tim nasional Brasil mengingat ia hanya baru mencicipi 8 caps saja sepanjang karirnya.  Lagipula, meski umurnya sudah berkepala tiga, posisi kiper bukanlah posisi yang menuntut banyak bergerak seperti pemain pada posisi lainnya. Pengalaman melanglang buana di kompetisi Eropa adalah kelebihan utama Alves dibanding tiga kiper Brasil yang sekarang.

Tapi yang pasti, ia harus meningkatkan kualitasnya secara keseluruhan, terutama aspek penyelamatan saat permainan terbuka. Karena dengan cara itulah, Alves bisa menapak ke level yang lebih tinggi.

Feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID