Diego Costa atau Edinson Cavani yang harus diikat Chelsea musim panas ini?

Paul Wilkes mengupas kedua bomber, calon penerima cek yang tengah diincar The Blues...

Hubungan naik turun antara Jose Mourinho dan para penyerangnya bukanlah hal baru – beberapa tahun belakangan, Mou sudah rutin mencela mereka yang ditugasi untuk mencetak gol. Jika ditelusuri, hal itu mungkin dikarenakan oleh rasa cintanya pada mereka yang melambungkan namanya di awal-awal karier manajerialnya.

Di Porto, ada Benni McCarthy yang sukses memboyong penghargaan sepatu emas [mencetak 20 gol dalam 23 laga]. “Dia adalah tipe penyerang yang didambakan oleh setiap pelatih, termasuk saya,” ujar Mourinho pada musim pertamanya bersama Chelsea, sedangkan si pemain asal Afrika Selatan itu tengah menikmati musim pembuka yang sukses dalam Liga Premier bersama Blackburn.

Di Chelsea skandal cinta Mou dengan Didier Drogba dimulai. Mantan bomber Marseille ini memiliki semua yang diinginkan Mourinho dari seorang penyerang. Drogba membantu klub meraih gelar juara liga untuk pertama kali setelah 50 tahun dan menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol di final Piala FA yang berbeda-beda.

“Dia pemain handal, teman yang baik dan seseorang yang akan menjadi bagian dalam hidup saya, selamanya,” ujar Mourinho tahun lalu. “Dia akan mengatakan hal yang sama tentang saya. Kami menciptakan jenis ikatan emosional yang lebih dari sekedar sepakbola.”

Demikianlah gambaran soal standar tinggi yang harus dimiliki setiap penyerang jika ingin berada di bawah asuhan sang ‘Special One”. Secara statistik, Drogba dan McCarthy sangat berbeda. Namun sikap dan etos kerja kedua pemain tersebut membuat mereka mirip. Saat Mourinho pindah ke Internazionale, Diego Milito menjadi pilihan utamanya. Kala itupun, Mou berusaha keras membangun hubungan yang kuat dengan penyerang asal Argentina tersebut.

Mourinho mengeluarkan komentar keji tentang Karim Benzema ketika masih melatih Real Madrid: “Jika Anda tak bisa pergi berburu bersama anjing Anda, maka Anda harus pergi dengan kucing Anda.”

Mou merotasi Benzema dan Gonzalo Higuain dengan gaya yang sama seperti yang dilakukannya kepada para penyerangnya di Stamford Bridge. Awalnya langkah itu berhasil, namun kemudian pemain merasa lelah karena tak tahu kapan akan diturunkan.

Bukan rahasia lagi bahwa pelatih asal Portugal itu tengah memburu penyerang baru untuk memperkuat Chelsea. “Saya tidak senang dengan kinerja penyerang jadi saya harus mencoba sesuatu yang baru,” ujar Mourinho di Paris beberapa waktu lagi, kala André Schürrle diturunkan di posisi “false nine”.  

Kombinasi Samuel Eto'o, Fernando Torres dan Demba Ba telah membuahkan 15 gol. Kalau Anda menimbang bahwa penyerang Manchester City, Sergio Aguero, punya jumlah total gol yang sama -- meskipun ia absen hampir sepanjang musim karena cedera -- maka peraihan kombinasi tiga penyerangnya tersebut tidaklah begitu cemerlang.

Hal itu juga membuat pemain frustrasi, padahal baik Eto'o dan Torres, bisa dibilang layak masuk dalam jajaran penyerang terbaik dunia. Sedangkan Ba merupakan pemain subur di kancah Liga Primer dua tahun silam. Andriy Shevchenko dan Hernan Crespo mungkin sudah paham bahwa Mourinho tak punya belas kasihan ketika mencari penuntas serangan yang buas.

Banyak nama sudah dicuatkan media-media Inggris, namun kandidat yang paling menonjol adalah  pemain Atletico Madrid, Diego Costa, dan bomber PSG, Edinson Cavani. Keduanya punya sejumlah kemiripan dengan kesayangan Mourinho – Drogba.

Costa adalah pemain yang gesit, bertenaga, ulet, tangguh dan cemerlang dalam menggiring bola, cerdik dalam melewati para bek yang sadar bahwa mereka harus bekerja habis-habisan dari menit pertama hingga menit akhir untuk menghentikan Costa.

Sedangkan Cavani adalah pemain yang kasar, lihai, handal dalam menyundul atas serta mahir dalam menahan bola untuk kemudian diteruskan ke gelandang yang membantunya dari lini tengah. Jika menggabungkan kelebihan-kelebihan kedua penyerang tersebut, Anda bisa dengan mudah melihat kehebatan Drogba saat masih dalam performa terbaiknya.

Costa dan Cavani merupakan pemain istimewa yang telah meraih reputasi dengan cara yang berbeda. Costa menghabiskan banyak musim sebagai pemain pinjaman setelah bergabung ke Atletico pada tahun 2007. Dia bahkan sempat dilego ke Real Valladolid, namun dibeli kembali pada musim berikutnya.

Barulah ketika bergabung ke Rayo Vallecano pada tahun 2012, potensi Costa  yang sesungguhnya muncul, yakni lewat torehan 10 gol dalam 16 kali penampilannya di Vallecas. Saat Costa kembali ke Vicente Calderón, pelatih Atletico, Diego Simeone, tengah membangun skuat perkasanya, dan ternyata   kerja keras Costa cocok untuk masa peralihan itu. Bomber asal Argentina tersebut menorehkan 22 gol musim lalu. Torehan tersebut pulalah yang membuat Brendan Rogers sempat berupaya memboyong Costa ke Anfield.

Kepindahan Radamel Falcao ke Monaco pada musim panas lalu juga memberi kesempatan bagi Costa untuk menjadi pilihan utama Simeone. Secara mengejutkan, David Villa datang Barcelona. Namun, Costalah yang justru menjadi senjata pamungkas Simeone. Kemampuan Costa dalam mencetak gol-gol penting ia tunjukkan di laga melawan Real Madrid dan Milan dan saat tulisan ini dibuat, Costa telah  mengantongi tujuh gol dalam enam kali penampilan di Liga Champion.

Pemain asal Uruguay Cavani telah merumput di Prancis selama hampir satu tahun sejak pindah dari Naples. Sebagai penyerang yang punya beragam keahlian, dia sering bermain melebar ke kanan bersama Zlatan Ibrahimovic yang tampil sebagai ujung tombak.

Posisi Cavani tersebut sebenarnya merupakan posisi yang sudah sering ia mainkan di tim nasional Uruguay. Bersama bomber Liverpool, Luis Suarez, keduanya kerap bergantian ditempatkan di bagian sayap untuk mengejar bola ke belakang dan bermain sebagai focal point di area itu.

Kemampuannya dalam beradaptasi jelas merupakan nilai tambah, namun kehandalan Cavani sebagai figur sentral dalam tim-lah yang membuat Mourinho tertarik. Saat memperkuat Napoli, Cavani menorehkan 78 gol dalam 98 laga di sepanjang tiga musim di bawah asuhan Walter Mazzari. Di PSG, Cavani  mengalami kemunduran yang bisa dimaklumi. Namun ketika diturunkan sebagai penyerang (khususnya saat Ibrahimovic absen), Cavani mampu mengantongi enam gol dari seluruh laga yang dilakoninya.

Dari segi penguasaan bola, Cavani merasa bahwa kemampuan dalam mengumpan mulai meningkat. Hanya saja di sisi lain, ia masih perlu menambah frekuensi latihan agar mampu menghasilkan lebih banyak assist.

Kedua penyerang tersebut luar biasa dalam melakukan serangan balik dan terbiasa bekerja dalam instruksi taktis ketat, yang nota bene merupakan kemampuan yang paling didambakan Mourinho. Lewat kesadaran akan rekan setim, mengarahkan bola dan kemampuan sebagai penuntas serangan handal,  membuat Costa dan Cavani menjadi tipe penyerang sempurna di mata Mourinho.

Costa telah memperlihatkan bahwa ia mampu mengintimidasi tim-tim yang lebih kecil. Kemampuan mencetak gol Cavani sudah terlihat sejak lama dan dia lebih fleksibel. Dari segi uang, nilai jual Costa akan lebih murah dan itu adalah faktor penting yang dapat mempengaruhi Roman Abramovich untuk membelinya dari klub Spanyol tersebut pada musim panas ini. Namun jika Chelsea memilih Costa atau Cavani di bursa transfer, maka seharusnya Mourinho tak akan sering mengeluh lagi pada musim mendatang.