Empat Hal yang Tidak Bisa Dilakukan Indonesia Selama Sanksi FIFA Berlaku

Sanksi FIFA kepada Indonesia benar-benar membuat kita tidak bisa melakukan banyak hal. Nanda Febriana dari FourFourTwo Indonesia menjelaskan kepada kita tentang kerugian apa saja yang kita dapat dari sanksi ini... 

Indonesia menjadi negara kesekian yang akhirnya harus merasakan sanksi FIFA. Perseteruan antara kubu Kementrian Pemuda Olahraga dan PSSI berujung pada terhentinya kompetisi lokal di negeri ini.
 
Tanpa bermaksud berpihak, sepakbola negeri ini memang sudah sakit sejak lama. Sejumlah pengaturan skor, perilaku tidak profesional menjurus kekerasan kepada wasit yang memimpin pertandingan, gaji yang tak terbayarkan, rivalitas suporter yang dibayar dengan darah dan nyawa, dan masih banyak catatan kelam lainnya, sudah menjadi bagian dari wajah kompetisi negeri ini. Alih-alih menghadirkan sepakbola yang 100 persen nyaman dan aman, sepakbola Indonesia justru menebar ancaman layaknya bom waktu, siap meledak kapanpun ketika pemicunya bisa sekedar layangan kartu kuning wasit untuk seorang pemain.
 
Sepakbola negeri ini sangat sakit sejatinya, hingga layak diistirahatkan untuk mendapatkan pemulihan. Namun, beberapa pihak jelas mendapatkan kerugian dengan tidak berjalannya kompetisi. Mereka-mereka yang menggantungkan hidupnya dari nafas kompetisi, para pemain, pelatih, pengurus klub bahkan penjual makanan ringan yang menanti momen ribuan suporter meramaikan stadion dan membuat barang dagangannya laris manis.
 
Tapi, menyebut rejeki mereka mati karena kompetisi terhenti juga bukan alasan yang layak dikatakan untuk menghidupkan kembali kompetisi. Sejumlah pemain menunjukkan bahwa mereka masih bisa menyambung hidup dengan usaha-usaha yang mereka bangun, cukup menjadi contoh bahwa sepak bola bukan segala cara untuk bisa bernafas besok pagi.
 
Ya, suporter sepakbola Indonesia rindu datang ke stadion, meneriakkan dukungan untuk klub-klub kebanggaan mereka dari tribun, dan kerap menggunakan klub mereka sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasa.  Tapi, sekali lagi, kompetisi sepak bola bukan segalanya. Suporter juga butuh kompetisi sehat, bermartabat, bukannya membuat nurani kita menemui kata tamat.
 
Dan sementara semua suporter beristirahat mendukung klub kesayangan mereka, beralih dari gegap gempita stadion ke sorakan-sorakan gembira kompetisi antar kampung, mungkin, karena sepak bola sebenarnya tak akan bisa mati seutuhnya, sanksi FIFA juga berbuah sejumlah larangan. Dan berikut adalah larangan-larangan tersebut sesuai dengan isi surat FIFA kepada PSSI:
 
(Sumber foto utama: www.facebook.com/affsuzukicup)

Pages