Evolusi Taktik: Bagaimana Sepakbola Berkembang dari Masa ke Masa

Sepakbola telah berkembang pesat sejak mengenal aturan baku alias Laws of the Game. Begitupun dengan taktik sepakbola, yang terus berevolusi sejak dikenal manusia di akhir abad 19. Seperti apa perkembangannya? Renalto Setiawan membawa Anda secara singkat melewati lorong waktu evolusi taktik dari generasi ke generasi...

Konon, sepakbola sudah dimainkan lebih dari satu abad. Bola terus bergulir, ditendang dan dikejar-kejar oleh para pemainnya, dari tahun ke tahun. Ada yang bermain dengan bertujuan hanya untuk bersenang-senang. Dan ada juga yang bermain dengan tujuan untuk menjadi yang terbaik di dunia. Untuk tujuan yang kedua, berbagai ide disatukan, diperdebatkan, dan dimplementasikan ke dalam lapangan. Memang tak semuanya berhasil, hanya beberapa. Menariknya, baik dari ide yang berhasil maupun tidak itu, ada beberapa ide yang mendunia. Bahkan ada juga yang masih terus dibicarakan hingga sekarang. Turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya.  Entah itu karena membuat permainan sepakbola menjadi sedap untuk ditonton atau karena jumlah piala yang dihasilkan.

Kemudian, mari sebut saja ide tersebut adalah taktik, hal-hal yang mengatur tentang apa saja yang harus dilakukan oleh sebelas orang pesepakbola di atas lapangan untuk meraih kemenangan. Berapa bek yang akan dimainkan, apa yang harus dilakukan oleh seorang gelandang serang, dan bagaimana cara terbaik untuk mengatasi pendekatan yang dilakukan oleh tim lawan.

Tentu saja, jika dilihat secara mendalam, taktik bukanlah sesuatu yang sederhana. Ada hitung-hitungan rumit di dalamnya, yang mungkin lebih rumit daripada hitung-hitungan dalam Teori Relativitas maupun Teori Pythagoras. Dan justru karena kerumitannya itulah taktik kemudian berhasil menjadi salah satu daya tarik dalam permainan sepakbola. Yang kemudian menjadi pertanyaan:  Sepanjang sejarah sepakbola, bagaimana evolusi taktik sebenarnya berlangsung?

Formasi 2-3-5 (Piramida)

Musim lalu, saat masih melatih Bayern Muenchen, Pep Guardiola tak hanya sekali dua kali mengejutkan banyak orang dengan ide-ide gila yang muncul dari dalam kepalanya. Dan salah satu ide gilanya tersebut adalah saat menerapkan formasi 2-3-5 dalam dua pertandingan Bayern, yaitu saat melawan Wolfsburg di DFB Pokal dan saat melawan FC Cologne di pertandingan Bundesliga. "Dengan formasi itu, saya ingin Bayern melakukan pressing setinggi mungkin di atas lapangan," begitu kata pelatih Manchester City tersebut.

Formasi 2-3-5 sendiri bukan formasi baru – ini adalaha salah satu formasi awal yang diterapkan di dalam sepakbola. Sebuah formasi kuno yang sangat populer pada tahun 1870-an hingga tahun 1925. Populernya formasi ini berawal dari sebuah pertandingan persahabatan antara timnas Inggris melawan timnas Skotlandia pada tahun 1972. Saat itu timnas Inggris yang masih memainkan formasi 1-2-7 dan mengandalkan permainan individu, di mana dribel lebih penting daripada passing, berhasil dibuat repot oleh pemain-pemain Skotlandia. Pemain-pemain Skotlandia lebih sabar dalam memainkan bola. Daripada mengandalkan dribble mereka lebih senang melakukan umpan satu sama lain. Tiga pemain tengah (left-half, center-half, dan right-half) menjadi kunci permainan Skotlandia. Pertandingan yang berakhir 0-0 tersebut kemudian memunculkan satu kesimpulan penting: sepakbola adalah permainan kombinasi, bukan sebuah permainan individu.

2-3-5

Pages