Fans Manchester United Harus Belajar Mencintai Marouane Fellaini

John Robertson menulis sebuah analisis bagi para pendukung Manchester United agar mereka mencoba untuk mencintai pemain kribo ini...

"Good football" dan "beautiful football" merupakan dua hal yang berbeda. Good bisa saja beautiful, begitu juga sebaliknya. Tidak selamanya dua hal ini berjalan beriringan.
 
Dari sisi definisi, good football adalah yang membawa trofi ke ruang piala. Jerman Barat di 1970 dan 80, Juventus dan Milan pada 90, Mourinho dari 2000, merupakan sebagian contoh dari sistem permainan yang berjalan sangat baik. Semua seperti satu kesatuan dengan menjalankan peran yang jelas.
 
Ketika jarang ada yang bisa memanjakan mata penggila bola, beberapa mendapat apresiasi tinggi dari kumpulan pecinta sepak bola modern.
 
Akan tetapi dalam beberapa tahun belakangan, jarak antara dua hal ini semakin kabur. Setidaknya ada usaha untuk membuat ini menjadi saling campur. Menang saja tidak cukup, harus menang dengan cara yang benar.
 
Manchester United hanya kalah tiga kali dari 24 pertandingan terakhir. Kalah dua dalam 19 laga liga, jelas jadi alasan untuk dirayakan, kendati begitu fokus lebih mengarah pada bagaimana Louis van Gaal tidak memainkan cara United yang benar.

Pahlawan yang di Kambing Hitam

Sudah sering kita dengar bagaimana Marouane Fellaini menjadi objek kritik juga becandaan mengapa United bermain buruk. Dimulai dari gaya lari tidak biasa, tak mampu mengontrol bola, begitu juga kepintarannya.
 
Tapi dialah pemain paling efektif dibanding rekan satu timnya, dalam beberapa bulan terakhir.
 
Dari bebek jelek menjadi angsa Belgia? Mungkin. Faktanya ia mampu menggeser beberapa nama besar pendatang baru seperti Radamel Falcao dan Angel Di Maria, dua pemain terkenal yang karirnya menurun semenjak datang ke Old Trafford.
 
Sudah saatnya bagi pendukung Red Devils dan komunitas sepak bola untuk segera mengakui bahwa sepak bola Fellaini baik. Pada awal yang berseberangan karena van Gaal bukan tipe pragmatis seperti halnya dirinya.

Direct by design

Banyak perubahan permainannya pada musim ini, semua bisa dilihat dari lebih ke depan ia diposisikan oleh pelatih. Salah satu kebingungan musim lalu peninggalan David Moyes adalah menempatkan Fellaini sebagai gelandang bertahan.
 
Selama masih di Everton ia begitu efektif berada di garda depan, namun pergantian menjadi bagian lini belakang membuat pemain asal Belgia ini tidak nyaman.
 
Salah satu bukti nyata mengapa ia harus lebih maju dapat terlihat dalam pertandingan melawan Liverpool. Musim lalu mereka dikalahkan The Red 3-0, dengan Fellaini bermain sebagai gelandang bertahan, tetapi ketika dirinya berpindah posisi maka hasilnya juga berubah.
 
Dia tidak hanya menerima passing dua kali lebih banyak, ia juga lebih berbahaya di area lawan. Umpan langsung ke depan membuat Liverpool kelimpungan menghadapinya.
 

Hal yang sama dapat dilihat juga di dua pertandingan Premier League terakhir, dengan bola langsung diarahkan ke Fellaini baik itu sisi luar maupun tengah. Hasilnya United mampu memegang daerah tersebut hingga lawan mengalami tekanan. Itu mungkin tidak cantik tapi sangat efektif.

Salah satu contoh desain serangan langsung, sebuah usaha akhir jika semua cara sudah tak mampu dilakukan.

Fasilitator

Sedikit dari fans United bertanya usai mereka menghancurkan Tottenham 3-0 pada dua pekan lalu, pertandingan dimana Fellaini mampu menjadi pemain terbaik hingga akhirnya digantikan. Disini ia juga mencatatkan beberapa statistik mencengangkan, tujuh aerial duel menang sama ketika menghadapi Newcastle.
 
Kemampuan di udara jelas kontribusi terbesar saat bermain umpan langsung. Buat ia jadi pilihan utama, di saat pemain lain hanya mampu menjadi tembok di depan ia lebih mengerti bagaimana seharusnya menjalankan peran dengan mengajak rekannya ikut main.

Ketika mengalahkan Liverpool musim ini di Old Trafford, tidak ada pemain seperti Fellaini dan Valencia yang saling memberikan passing satu sama lain hingga mencapai 27 kali. Kebanyakan menuju kaki Valencia, yang mampu naik ke atas dan menciptakan peluang lewat sisi luar.

Ini merupakan keuntungan dari gaya bermain langsung United, buat Liverpool, mereka terpaksa beberapa kali melonggarkan jarak antar pemain. Fellaini menjadi sumber dari beberapa peluang tercipta.
 
Melawan Spurs kejadian sama terulang kembali, hanya kali ini Ashley Young menjalani tugas seperti Valencia. Bola bergerak cepat ke arahnya, tinggal mengatur alur serangan sebuah hal sulit mengingat tim seperti Tottenham kerap menggunakan garis pertahanan yang tinggi.
 
Fellaini mungkin bukan solusi jangka panjang di Old Trafford, dan kalian bisa mengatakan bahwa tempatnya kini karena performa buruk Falcao dan Robin van Persie.

Satu yang tak bisa dibantah adalah, musim pertama bersama van Gaal, ia telah membuktikan bahwa ia adalah pemain penting untuk meraih hasil maksimal guna mengamankan zona Champions League.
 
Fellaini adalah fasilitator terbaik Manchester United, dan untuk hal ini ia layak mendapat applause.
 

Liverpool vs Man United ANALISIS LANGSUNG dengan Stats Zone