Fenomena Kane-Vardy: Bukti Sepakbola Inggris Tak Pernah Kehabisan Talenta

Ketika Wayne Rooney mengalami penurunan, Harry Kane dan Jamie Vardy muncul untuk menggantikan perannya. Sebuah jawaban atas kritik terhadap Premier League?

Jadi akhirnya Harry Kane sukses menjadi top skorer Premier League Inggris 2015/16.

25 gol yang ia catatkan di sepanjang musim tak mampu dikejar oleh Sergio Aguero atau Jamie Vardy, yang berada di belakangnya dengan selisih satu gol. Bagi Kane, ini bisa dianggap sebagai hadiah hiburan baginya setelah Tottenham Hotspur gagal menjadi juara dan malah hanya finis di posisi ketiga, di bawah rival abadi mereka, Arsenal.

Tapi bagi Inggris, apa yang dicapai Kane adalah sebuah pertanda bagus bahwa mereka kini memiliki penyerang hebat lagi setelah Wayne Rooney mengalami penurunan dalam beberapa musim terakhir.

Sudah sangat lama Inggris tak melihat seorang penyerang asli Inggris bisa menjadi top skorer Premier League. Pemain terakhir yang melakukannya adalah Kevin Phillips bersama Sunderland pada pergantian milenium, di mana ia mencetak 30 gol di sepanjang musim 1999/2000.

Artinya, sudah 15 musim tak ada yang bisa melakukannya. Tidak juga seorang Rooney, yang catatan terbaiknya adalah dua kali menjadi runner-up pada musim 2009/10 dan 2011/12.

Tentu saja Rooney bisa berargumen bahwa di dua musim tersebut, meski hanya di posisi kedua, ia sebetulnya mencetak 26 gol dan 27 gol, lebih banyak daripada catatan Kane musim ini. Ia hanya kalah dari Didier Drogba yang mencetak 29 gol di musim 2009/10 dan Robin van Persie yang mencetak 30 gol di 2011/12.

Harry Kane

Ia tak terkejar oleh Vardy dan Sergio Aguero di daftar top skorer

Tetapi ada satu hal yang perlu dicatat dari performa Rooney di Premier League: ia inkonsisten dari musim ke musim.

Misalnya saja, setelah mencetak 26 gol di musim 2009/10, Rooney hanya mencetak 11 gol di musim berikutnya, sebelum mencatatkan 27 gol di musim 2011/12. Pada musim 2012/13, ia kembali hanya mencetak 12 gol, sebelum mencetak 17 gol di musim 2013/14.

Harry Kane setidaknya sudah menunjukkan bahwa ia bisa konsisten dalam dua musim terakhir.

Setelah mencetak 21 gol musim lalu, di musim ketika ia menjadi sensasi baru di Inggris, Kane mencetak 25 gol musim ini. Meski mengawali musim dengan tak terlalu baik, Kane akhirnya menemukan sentuhan emasnya lagi sejak akhir Oktober, ditandai dengan hat-trick-nya ke gawang Bournemouth.

Dua musim beruntun bisa mencetak 20 gol atau lebih dalam semusim di Premier League jelas bukan prestasi yang bisa dianggap remeh. Apalagi dilakukan oleh seorang penyerang lokal Inggris.

Kehadiran Kane menjadi harapan baru bagi timnas Inggris, yang selama ini kesulitan menemukan striker tajam selain Wayne Rooney. Toh performa Kane di tim nasional pun lumayan juga: total ia telah mencetak empat gol dalam 10 pertandingan bersama Three Lions.

Harry Kane

4 gol dalam 10 penampilan di timnas, bukan catatan yang buruk

Tentu saja ia masih perlu membuktikan dirinya di level turnamen, dalam hal ini Piala Eropa 2016 nanti, untuk menahbiskan dirinya sebagai striker tumpuan baru Inggris. Tapi setidaknya publik Inggris bisa berharap banyak padanya, berkaca pada performanya musim ini dan jebloknya penampilan seniornya yang bermain di Manchester United itu.

Kejutan Vardy

Tapi Kane bukan berita gembira bagi Inggris satu-satunya, karena kejutan besar musim ini justru dibuat oleh Jamie Vardy.

Seorang pemain non-liga pada empat tahun yang lalu, dan hanya mampu mencetak lima gol dari 34 penampilan di Premier League musim lalu, tapi musim ini ia meledak. Performa Vardy musim ini adalah kejutan yang sebenar-benarnya, dengan 24 golnya dalam 35 pertandingan. Apalagi dengan rekor 11 pertandingan beruntun selalu mencetak gol yang ia catatkan pada pertengahan musim ini, menunjukkan level konsistensi yang luar biasa dari seorang striker yang terlambat berkembang.

Jamie Vardy

Akankah ia meneruskan performa eksplosifnya di Euro 2016 nanti?

Vardy sudah berusia 29 tahun pada tahun ini, dan jelas bukan usia yang bisa diharapkan bisa diandalkan oleh Inggris dalam waktu panjang. Tapi setidaknya ia, mungkin, bisa jadi tumpuan di Euro 2016 nanti. Performanya di timnas pun tengah meningkat: setelah tak mencetak gol dalam empat pertandingan pertamanya bersama timnas, yang terjadi pada tahun 2015 lalu, ia sudah mencetak dua gol dalam dua pertandingan Inggris pada tahun 2016 ini, keduanya ke gawang tim-tim besar: Jerman dan Belanda.

Memang keduanya hanya pertandingan persahabatan, yang artinya mungkin Jerman dan Belanda tak benar-benar bermain serius, tapi tetap saja, ini adalah pertanda bagus.

Membayangkan Kane dan Vardy berduet di lini depan Inggris pada Piala Eropa nanti mungkin memberikan publik dan media Inggris optimisme lagi menjelang turnamen. Semoga saja optimisme ini tak berubah menjadi tekanan, yang imbasnya akan berdampak buruk bagi The Three Lions sendiri ketika turnamen yang sebenarnya dimulai.

BACA JUGA Menanti Duet Emas Harry Kane dan Jamie Vardy