FourFourTwo 50 Manajer Sepak Bola Terbaik Dunia 2015: 40-36

Melangkah lebih jauh ke dalam daftar manajer terbaik kami, ada manajer muda Jerman yang tengah bersinar, manajer berdarah Yunani-Australia.... dan pelatih baru Real Madrid

Penulis: Alima Hotakie, Zee Ko, Alex Holiga, Joe Brewin, Greg Lea.

40) Markus Weinzierl (Augsburg)

Dia masih muda, tetapi berhasil melakukan pekerjaannya dengan hebat. Dia adalah salah satu pelatih terbaik di Bundesliga. Timnya sangat agresif dan bermain sangat cepat kala menyerang

- Pep Guardiola, Bayern Munich

Sepertinya saat ini ada tren di mana klub-klub Bundesliga lebih memilih pelatih-pelatih muda yang relatif kurang dikenal untuk membantu mereka berprestasi. Weinzierl bergabung dalam daftar itu – dan sukses.

Pengalaman pelatih berusia 40 tahun itu hanyalah melatih di divisi-divisi yang lebih rendah, tetapi tidak ada yang menghentikannya membawa klub kecil seperti Augsburg ke Europa League musim lalu. The Bavarians adalah model bagi klub-klub kecil lainnya; kisah sukses yang luar biasa. Dengan anggaran hanya sekitar 20 juta euro, mereka finis di posisi kelima liga tertinggi di Jerman, meningkat dari posisi ke delapan di musim 2013/14.

Lawan-lawannya akan mengatakan pada Anda bahwa tim asuhan Weinzierl adalah salah satu tim yang paling sulit dihadapi, dengan umpan-umpan pendek dan permainan menyerang. Tetapi jalan menuju sukses memang penuh hambatan. Ketika Weinzierl mengambil alih pertama kali pada tahun 2012, terlihat sepertinya Augsburg akan menuju degradasi. Tetapi kemudian eks pemain Bayern Munich II ini mereorganisasi timnya dan setelah hanya merebut sembilan poin dari 17 pertandingan, mereka finis di posisi ke-15 dan menghindari degradasi.

Pelan-pelan, semangat tim dari Weinzierl membuat timnya semakin kolektif dan hasil pun mulai terasa. Di musim keduanya, mereka nyaris saja mendapatkan posisi di Europa League, mengumpulkan tiga poin lebih banyak dari musim sebelumnya dan finis tiga posisi lebih baik daripada sebelumnya. Kali ini mereka berhasil lolos ke Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah. Dan yang menjadi catatan, adalah Augsburg asuhan Weinzierl yang mengakhiri rangkaian 53 pertandingan tak terkalahkan milik Bayern pada musim semi 2014. AHt

39) Ange Postecoglou (Timnas Australia)

Dia mengembalikan semangat ke Australia. Kami terus diremehkan, tetapi dia kembali kepada kami untuk menyemangati kami. Saya tidak pernah bertemu seseorang yang sangat mencintai negaranya dan tim ini adalah adalah segala-galanya untuk dirinya. Dia mendapatkan dukungan penuh dibelakangnya dan sedang menuju arah yang benar

- Tim Cahill, Australia

Dengan sejarah kesuksesan Postecoglou, pemanggilannya oleh negaranya hanyalah masalah waktu. Australia baru lolos ke putaran final Piala Dunia, tetapi dalam kondisi yang buruk setelah dua kekalahan beruntun 6-0 dalam laga persahabatan melawan Brasil dan Perancis. Moral tim sangat rendah dan Holger Osieck pun diberikan jalan keluar dari posisinya.

Sebagai pemenang baik di liga National Soccer League yang lama dan A-League, Postecoglou memang sangat pas bagi timnas. Pelatih peraih gelar juara liga dua kali bersama Brisbane Roar ini tengah berupaya membangun kembali tim besar Melbourne Victory, tetapi akhirnya mengambil posisi pelatih Soceroos ketika ia ditawarkan.

Seperti di Victory, Postecoglou langsung memberikan ciri khas nya pada tim, dengan merevitalisasi skuat lewat pemain-pemain yang lebih muda. Ia memang tidak diharapkan akan langsung memberikan kesuksesan, tetapi setidaknya skuat mudanya yang begitu lapar berhasil tampil impresif di Brasil meski tereliminasi di babak grup.

Mereka melanjutkan aksi impresif mereka dengan meraih gelar juara Piala Asia di tanah air sendiri beberapa bulan kemudian. Hingga hari ini, Postecoglou belum pernah kalah di laga final di level apapun – tujuh pertandingan dan terus berlanjut. ZK

38) Myron Markevych (Dnipro)

Ketika Markevych datang kepada kami, dia berkata: "Semuanya, kalian memiliki tim yang sangat bagus, tetapi dalam satu sisi, kalian bermain sangat emosional." Dia berhasil menghilangkan sisi emosionalnya dan memberikan kami pelatihan taktik dan kami menjadi lebih tenang. Kami mendapatkan sebuah jaminan tentang keyakinan diri terhadap diri kita sendiri.

- Ruslan Rotan, Dnipro

Penunjukkan Markevych oleh Dnipro adalah hal yang menarik. Menjadi suksesor Juande Ramos – pemenang lima trofi bersama Sevilla dan Piala Liga 2008 bersama Spurs – pelatih asal Ukraina berusia 64 tahun ini jelas tidak bisa menyaingi kebintangan pendahulunya. Ia sembilan tahun melatih Metalist Kharkiv, rival terbesat Dnipro, di mana ia membawa timnya berulang kali finis di posisi ketiga di Ukraina sebelum sukses merusak duopoli Kiev-Donetsk pada 2013.

Tetapi pada musim berikutnya, Metalist mendapatkan kesulitan finansial, Markevych berhenti dan Dnipro finis sebagai runner-up. Namun dengan berbagai permasalahan yang muncul di Ukraina Timur, Ramos pergi dan Dnipro pun mengalihkan pandangannya ke sisi lain Derby Skhidne, dan merekrut Markevych menjelang musim lalu.

Di Kharhiv ia memainkan sepakbola menyerang, tetapi hal itu berubah. Tim Dnipronya lebih defensif dan pragmatis. Mereka biasanya bertahan lebih dalam dan menunggu kesempatan serangan balik, mengandalkan kecepatan dan kualitas individu pemain sayap bintang mereka, Yevhen Konoplyanka.

Meski Markevych tidak memberikan sesuatu yang spesial secara taktik – dan Dnipro sangat beruntung dalam perjalanan mereka di Europa League – berhasil melaju ke final kompetisi kasta kedua Eropa tersebut menjamin dirinya berada di daftar ini; terutama jika mengingat bahwa timnya harus memainkan laga kandang 250 mil dari kandang mereka, di Kiev, akibat perang di Ukraina Timur. AHl

37) Frank de Boer (Ajax)

[Melawan Barcelona] kami terlihat kacau dalam hal penguasaan bola. Kami selalu kehilangan bola setiap saat. Pada saat turun minum, De Boer mengeluarkan kata-kata yang kasar untuk menyemangati kami. Hasilnya, babak kedua kami bermain lebih baik...

- Davy Klaassen, Ajax

Musim lalu adalah musim yang perlu dilupakan oleh De Boer. Ajax finis 17 poin di belakang PSV, dan dibantai 4-0 di kandang pada babak keempat Piala KNVB, sama sekali gagal untuk lolos dari babak grup Liga Champions mereka, dan kemudian gagal melewati babak 16 besar Europa League.

Tetapi jika manajer-manajer sepakbola hanya dinilai dari musim-musim terkini, tidak akan ada banyak yang bisa bertahan. De Boer, perlu diingat, adalah manajer yang mengantarkan Ajax meraih empat gelar juara Eredivisie beruntun untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, dan di empat musim pertamanya di klub. Setiap tahunnya, ia membangun kembali timnya karena pemain-pemain kuncinya dijual ke tim-tim yang lebih besar: pada 2011 Luis Suarez dan Maarten Stekelenburg; 2012, Jan Vertonghen, Gregory van der Wiel dan Vurnon Anita; 2013, Christian Eriksen dan Toby Alderweireld; 2014, Daley Blind dan Siem de Jong.

Setiap kali, De Boer harus membangun kembali timnya dan – terkecuali musim lalu – membangun tim juara. Jangan lupakan pula betapa mudanya tim Ajax saat ini: usia rata-rata 18 pemain yang bermain sedikitnya 10 pertandingan musim lalu hanyalah 22,7 tahun.

Liverpool dan Tottenham pernah mencoba meminta jasanya dalam beberapa musim terakhir. Setahun dari sekarang, mereka dan pelatih-pelatih lainnya mungkin akan melakukan hal yang sama. JB

36) Rafael Benitez (Real Madrid)

Pada dasarnya, Rafa adalah pelatih luar biasa. Dia sangat baik dalam hal yang berlawanan, bagaimana dia menggagalkan ancaman dan mematikan penyerang lawannya. Tidak ada yang berubah darinya. Dia adalah pelatih asing pertama yang pernah bekerja dengan saya dan saya belajar banyak darinya

- Craig Bellamy, mantan pemain Liverpool

Banyak orang menaikkan alisnya ketika Real Madrid memutuskan mengganti Carlo Ancelotti dengan Benitez pada musim panas ini. Hanya satu tahun setelah Los Blancos memenangi gelar Liga Champions ke-10 mereka, Ancelotti diberhentikan demi memberikan tempat bagi sosok yang belum pernah memenangi gelar juara liga selama lebih dari satu dekade terakhir.

Namun persepsi orang bahwa pemilihan Benitez adalah hal yang aneh sebetulnya kurang adil. Ya, 2014/15 memang bukan musim tersukses dalam kariernya, dengan Napoli tereliminasi di babak kualifikasi Liga Champions, finis di posisi kelima di Serie A, dan dikalahkan oleh tim kecil Dnipro di babak semifinal Europa League. Ketika ia direkrut oleh Partenopei pada dua tahun lalu dan diberikan dana untuk merekrut pemain-pemain seperti Gonzalo Higuain, Jose Callejon, dan Dries Mertens, banyak yang berekspektasi mereka akan menantang perebutan gelar scudetto dan bukannya bersusah payah masuk ke tiga besar.

Meski begitu, sosok berusia 55 tahun ini jelas pelatih yang sangat berbakat. Merusak duopoli La Liga dengan memenangi bukan hanya satu, tetapi dua gelar liga bersama Valencia pada 2002 dan 2004 adalah pencapaian luar biasa, begitu juga dengan mencapai dua final Liga Champions dalam tiga tahun dengan Liverpool. Benitez mungkin bisa mengejutkan orang di musim depan. GL

#FFT50MANAGERS