FourFourTwo 50 Manajer Sepak Bola Terbaik Dunia 2015: 50-46

Inilah dia, manajer terbaik dunia pilihan FourFourTwo! Selamat menikmati...

Penulis: Nick Ames, Martin Mazur, Alex Holiga, Chris Mayer, Kristan Heneage.

50) Florent Ibenge (Timnas Kongo)

Dia adalah seorang juru taktik yang tahu kapan harus menunjukkan inisiatifnya. Dia memanggil beberapa pemain yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita, seperti Gael Kakuta, yang mungkin bisa bermain untuk kita

- Youssouf Mulumbu, Kongo

Sering ada anggapan bahwa manajer-manajer Afrika tidak mendapatkan tempat karena banyaknya kedatangan manajer-manajer asing, tetapi mereka kini memiliki figur yang bisa menjadi inspirasi mereka, yaitu Florent Ibenge. Manajer Republik Demokrasi Kongo ini memimpin timnya yang bermain ofensif ke posisi ketiga di Piala Afrika tahun ini, dan ada perasaan bahwa salah satu kekuatan sepakbola di benua ini akhirnya terbangun.

Tetapi itu bukan keseluruhan ceritanya. Ibenge mengambil pekerjaan di tim nasional ini pada Agustus 2014, dan sejak itu ia juga memanajeri salah satu tim terkuat di negara tersebut, AS Vita Club. Ia membawa klub ini ke final Liga Champions Afrika pada tahun lalu, di mana mereka kalah tipis dari tim Aljazair, ES Setif, karena gol tanndang, dan mengakui bahwa mengkombinasikan kedua pekerjaan itu sebagai hal yang “sulit, tetapi menjadi pengalaman yang hebat”.

Ibenge memiliki latar belakang yang tidak biasa: ia adalah seorang ahli ekonomi dan bekerja selama beberapa tahun di klub-klub kecil di Perancis, dan pada suatu waktu sekaligus juga sebagai akuntan. Kariernya menanjak sejak temannya, Nicolas Anelka, memintanya untuk membantunya saat eks pemain internasional Perancis ini di Shanghai Shenhua pada 2012. Berusia 52 tahun sekarang, Ibenge mungkin agak terlambat dalam berkembang, tetapi talentanya kini telah terbebaskan. NA

49) Juan Carlos Osorio (Sao Paulo)

Bahkan Guardiola tidak memiliki CV yang sama dengan Osorio. Dia adalah salah satu pelatih yang sangat disegani dunia sepak bola

- Carlos Miguel Aidar, Presiden Sao Paulo

Orang-orang Brasil tak terlalu senang membiarkan klub-klub sepakbola mereka di tangan orang asing. Pada umumnya, manajer dari luar Brasil harus pernah memiliki karier bermain di klub yang menjamin adanya pengakuan dan kesabaran dari fans, atau, seperti dalam kasus Osorio, CV yang impresif yang membuat mereka berpikir bahwa mereka telah menunjuk seorang Manuel Pellegrini baru.

Tim raksasa Brasil, Sao Paulo, benar-benar berjudi saat mereka merekrut sosok asal Kolombia berusia 54 tahun ini, yang menjadi seorang spesialis dalam studi sepakbola setelah lulus di Amerika Serikat dan Inggris, dan pernah menimba ilmu juga di Belanda.

Osorio bekerja sebagai pelatih Manchester City di bawah Kevin Keegan dan menjadi manajer di MLS bersama New York Red Bulls sebelum mendapatkan kesempatan di negaranya sendiri, tetapi ketika hal itu terjadi, gelar mulai menumpuk dan reputasinya sebagai pelatih ajaib mulai berdiri. Pertama, ia mengambil alih Once Caldas dan membawanya meraih gelar juara liga yang tak diperkirakan sebelumnya pada tahun 2010, dan setelah karier singkat di tim Meksiko, Pueblas, ia ditunjuk menjadi pelatih tim raksasa, Atletico Nacional, yang segera menyebutnya sebagai pembangkit dominasi sepakbola Medellin: ia meraih lima gelar hanya dalam waktu dua tahun di sana.

Disebut sebagai “pelatih yang gemar berekreasi”, gaya melatih Osorio atraktif dan membuat para pemain terus berkonsentrasi tanpa mereka sadari. Ia mengapresiasi permainan vertikal sepakbola Eropa daripada permainan lambat dan hati-hati, tetapi masih mengunjungi sesi latihan Guardiola atau Van Gaal untuk melihat apakah ia berada di jalur yang benar. “Saya belajar setiap waktu,” akunya. MM

48) Pavel Vrba (Timnas Republik Ceko)

Saya dan Milan Petrzela sedang berada di tempat pemotongan Babi pada hari Natal. Saya sedikit kotor saat itu dan saya mengirimkan sebuah foto kami berdua bersama seekor Babi kepada Pavel. Dia langsung berkata akan menimbang kami berdua setelah jeda musim dingin...

- David Limbersky, Viktoria Plzen

Vrba mungkin salah satu hipster di sini, karena pelatih berusia 51 tahun ini tak banyak dikenal di luar negaranya. Tetapi catatannya membuktikan dirinya. Ia adalah orang yang mendapatkan gelar Pelatih Terbaik Ceska selama lima musim beruntun – dan karena alasan yang bagus juga.

Kariernya sebagai manajer sejauh ini seperti di Football Manager, setelah mengambil alih posisi pelatih Viktoria Plzen, tim yang tak pernah memenangi apapun sebelumnya, Vrba mentransformasi mereka menjadi tim kuat di kompetisi domestik dan menjadi tim yang diakui di Eropa, dengan sepakbola yang atraktif dan menyerang.

Ia memenangi empat gelar juara bersama Viktoria, lolos ke babak grup Liga Champions dengan bujet kecil – dua kali – dan membawa mereka ke babak gugur Europa League tiga musim beruntun, sebuah hasil yang hebat bagi sebuah klub Ceska

Kemudian ia memanajeri tim nasional, yang saat ini seperti tengah tertidur. Vrba memulai babak kualifikasi Euro 2016 dengan empat kemenangan beruntun, tetapi kemudian kehilangan sentuhannya setelah timnya imbang dengan Latvia dan kalah dari Islandia. Jika saja hal itu tidak terjadi, ia mungkin berada di tempat yang lebih tinggi di daftar ini. Ia adalah seorang peraih hasil yang di atas harapan. AH

47) Hein Vanhaezebrouck (Gent)

Mungkin tidak ada yang tahu tentang Vanhaezebrouck, tetapi dia sangat dihormati di Belgia. Di Kortrijk, klubya selalu dipaksa untuk menjual pemain terbaiknya, tetapi dia selalu berhasil menemukan penggantinya terus-menerus

- Michael Yokhin, wartawan

Namanya mungkin sulit diucapkan bagi mereka yang tidak berbahasa Flemish, tetapi Anda perlu berlatih menyebutkan namanya menjelang musim baru nanti.

Setelah beberapa tahun melakukan pekerjaan yang hebat meski dengan sumber daya terbatas di klub kota asalnya, Kortrijk, Vanhaezebrouck menjadi pelatih Gent pada 2014, dengan tugas mengembalikan kejayaan klub tersebut. Namun hanya sedikit yang memperkirakan ia bisa langsung melakukannya, tetapi ia sukses membawa De Buffalos meraih gelar juara liga yang mengejutkan di musim pertamanya. Yang lebih impresif adalah fakta bahwa Gent tak pernah memenangkannya selama 115 tahun sejarah mereka.

Fleksibel secara taktik dan seorang motivator ulung, Vanhaezebrouck berhasil mengangkat level penampilan beberapa pemain yang tak terlalu terkenal. Matanya yang jeli membuatnya menemukan penyerang Nigeria, Moses Simon, dengan harga murah namun menjadi sensasi di Belgia pada musim lalu. Vanhaezebrouck tidak takut menggunakan metode yang tak biasa untuk mendapatkan targetnya: ia pernah menggunakan mesin pencari di internet di Kortrijk untuk merekrut penyerang kiri. Hasilnya adalah ia menemukan Istvan Bakx, yang menjadi bintang saat ia berada di klub tersebut.

Setelah menjungkirbalikkan papan atas Belgia, Vanhaezebrouck kini akan menghadapi tim-tim elit Eropa di babak grup Liga Champions. CM

46) Bruce Arena (LA Galaxy)

Dia banyak berbicara yang tidak penting sebelum pertandingan, dia banyak sekali berbicara selama sesi latihan, dia juga berbicara yang tidak penting juga setelah sesi latihan berakhir. Para pemain itu datang kesini karena mereka tahu bahwa dia ingin menunjukkan sesuatu kepada mereka karena mereka harus memiliki sebuah kebanggaan sebelum pertandingan

- Edson Buddle, LA Galaxy

Sebagai seorang pelatih veteran dengan lima gelar MLS Cup, Arena yang berusia 63 tahun ini menunjukkan karier yang hebat sejak mengambil alih LA Galaxy pada 2008, - selain juga kemampuannya untuk membangun kembali timnya.

Tahun demi tahun sang juara bertahan diperkirakan akan kesulitan dengan hengkangnya David Beckham dan Landon Donovan, tetapi Arena tidak hanya bekerja dengan bintang, ia membangunnya. Beroperasi dengan batasan gaji yang ketat, para pemain seperti Juninho (bukan, bukan Juninho yang itu) datang dari asal yang tidak terduga dan menjadi pemain penting dari tim yang sukses ini. Dalam beberapa tahun terakhir, bos Galaxy ini juga mulai menyemai bibit-bibit muda, memastikan bahwa generasi mereka berikutnya juga sesukses yang sebelumnya

Mungkin tak terlalu mengejutkan: seperti kebanyakan pelatih Amerika, Arena mendapatkan kesempatan pertamanya lewat sepakbola kampus. Kariernya di Cornell dan Virginia menjadi awal dari langkahnya bersama tim U23 Amerika Serikat, sebelum ia pindah ke Major League Soccer yang baru didirikan pada tahun 1996, melatih DC United bersama teman sekaligus mentornya, Bob Bradley.

Arena kemudian mendapatkan posisi pelatih di timnas AS setelah Piala Dunia 1998 yang gagal, dan terus berada di posisi tersebut selama delapan tahun, di mana ia mengantarkan mereka ke posisi keempat di ranking FIFA. Setelah berkarier bersama New York Red Bulls pada 2006/07, ia meneruskan karier yang terhenti di Galaxy. Bisa dibilang, hal ini berjalan baik.. KH

#FFT50MANAGERS