FourFourTwo 50 Manajer Sepak Bola Terbaik Dunia 2015: No.4

Orang Argentina yang sukses menjadi maestro Atletico Madrid masuk dalam radar Martin Mazur..

Sangat mudah untuk melupakan hambatan di awal karir Diego Simeone sebagai manajer.

Empat klub Argentina dalam tiga tahun dan kemudian bersama satu klub Serie A, Catania, sebelum ia pulang ke kampung halaman selama enam bulan bersama mantan klubnya, Racing. Lalu,semuanya berubah.

Diego Simeone

Diego Simeone tidak diragukan lagi adalah penyusun tim terbaik di dunia

Tiba-tiba, Simeone menemukan dunianya di Atletico Madrid, klub di mana jersey milikya di era keemasan 1996 masih laku terjual saat ia menandatangani kontrak untuk menyelamatkan Atletico dari degradasi pada 2011. Itu seperti sebuah sulap, ia  mengangkat tekanan di klub tersebut dan ia menjadi salah satu bintang klub terbaik dalam tiga dekade terakhir.

Tapi pengambilan keputusan yang cepat selalu menjadi ciri khas dari Simeone. Semuanya dimulai pada hari di mana agennya mengundangnya ke kantor Velez Sarsfield dan bertanya apakah ia ingin bermain di Italia. Simeone, yang akan berusia 19 tahun, hanya butuh 15 menit untuk menjawab ya atau tidak, jika tidak kesepakatan dengan Pisa akan gagal. Dia menerimanya tanpa meminta nasihat.

Kesuksesan Cholo

Hal yang sama terjadi ketika Atletico datang mencari jasanya. Beberapa bulan sebelum dia menerima tawaran dari Universidad de Chile, yang kemudian batal: ia bukan salah satu manajer yang paling diburu di dunia seerti dirinya hari ini.

Tapi dalam beberapa ekan, kondisi di Atletico yang berada di zona degradasi tampak berbeda. Sekarang seperti sebuah kisah dongeng bagi suporter Colchoneros, yang secara bertahap melihat klub kebanggaan mereka menjadi salah satu klub elit Eropa dengan meraih Liga Europa, Piala Super, La Liga dan gelar Copa del Rey sebelum final Liga Champions tahun 2014.

Diego Simeone

Tim asuhan Simeone tidak membutuhkan bola untuk memenangkan pertandingan

Simeone mengambil konsep permainan menekan ala Bielsa, tetapi mengembangkannya menjadi sesuatu yang sama sekali baru

"Faktanya adalah bahwa saya tidak benar-benar percaya dengan rencana jangka panjang; sebagai manajer saya selalu berpikir bahwa saya mungkin akan dipecat di pertandingan berikutnya," katanya kepada El Gráfico tahun lalu. "Itu bukan tekanan, anda tahu, itu hanya cara saya hidup dalam sepakbola. Tapi tentu saja bagus untuk memiliki kontrak jangka panjang dan mampu mengembangkan ide sepakbola yang anda sukai."

Gagasan yang diinginkan Simeone agak revolusioner. Ketika dunia sepakbola sangat mengikuti revolusi Pep Guardiola di Barcelona, ​dan penguasaan bola menjadi obsesi untuk beberapa klub, Simeone sibuk menciptakan metode alternatif untuk memenangkan - dengan cara yang (hampir) tidak melibatkan penguasaan bola. "Saya tidak percaya pada penguasaan bola hanya untuk kepentingan itu," tegasnya.

Sikap dan Karakter

Semasa ia masih berkarir sebagai pemain, Simeone mendapatkan tawaran dari beragam manajer saat itu, dari ahli taktik handal seperti Carlos Bilardo, yang bisa dibilang paling menyerupai dirinya, hingga pelatih yang sangat kalem seperti Alfio Basile dan Sven-Goran Eriksson. Tapi Marcelo Bielsa adalah sosok yang paling berpengaruh terhada dirinya; orang yang menginsipirasi masa akhir dari karirnya.

PepMansour

Simeone mengambil konsep permainan menekan ala Bielsa, tetapi mengembangkannya menjadi sesuatu yang sama sekali baru. Dia menemukan cara untuk mencapai intensitas Bielsa tanpa hanya menekan lawan di sepertiga akhir, ia juga menginstruksikan pendekatan  tekel yang agresif di area permainan timnya sendiri sebelum meminta para pemainnya untuk menyerang secepat mungkin. "Kami telah mengembangkan cara bermain yang saya sesuai dengan karakter saya," tegasnya.

Tetapi itu tidak ada hubungannya dengan permainan taktis atau menekan - itu semua tentang sikap. Semua tim besutan Diego Simeone mencerminkan gaya bermain Diego Simeone sebagai pemain. Karakternya,yang pantang menyerah-sikap dan semangat juang yang terlihat, dan itu semua adalah aset utamanya sebagai manajer. Sebagaimana tidak mungkin untuk meniru gaya bermain Barcelona tanpa pemain mereka, tidak mungkin untuk menyalin taktik Atletico Madrid tanpa Simeone.

Skema

"Simeone memiliki kepribadian pemenang, sayabisa melihat itu dari hari ia mulai dengan kami di tim nasional U20," kata mantan manajer Carlos Bilardo.

"Hari pertama kami seharusnya datang untuk latihan, ia membuat kesalahan, ia pergi ke gedung FA  dan bukannya datangke tempat latihan. Menyerah? Itu tidak dalam kamus si Cholo ini. Dia memanggil kami, naik dua bus yang berbeda tanpa uang dan tiba dengan berjalan kaki bahkan saat sesi latihan telah berakhir. Saya sangat terkejut bahwa saya memintanya untuk tinggal dan berlatih dengan tim senior," kenang pelatih yang memenangi Piala Dunia tersbut.

Simeone adalah penggemar formasi 4-2-3-1, dengan penekanan kuat pada tugas bertahan dan poros ganda yang bertindak sebagai inti permainan dari tim-nya. Secara keseluruhan sulit untuk mendapatkan para pemainnya tidak berada dalam posisi yang tepat atau mengejar mereka tepat waktu saat melakukan serangan balik.

Diego Simeone dalam sesi latihan

Pelatih Argentina ini menjadi pelatih terbaik ke empat dalam daftar kami

Sejujurnya saya tidak percaya rencana jangka panjang, sebagai manajer saya selalu berpikir saya mungkin akan dipecat di pertandingan selanjutnya

- Diego Simeone

"Strategi lawan strategi, pemain menang," ujarnya. "Tetapi jika kamimemiliki startegi menghadai tim yang kurang strategi, maka strategi akan selalu menang. Anda dapat mencoba bertahan dengan tinggi, di tengah atau rendah, tergantung di mana anda ingin merebut bola, atau Anda juga bisa mencoba bertahan dengan penguasaan bola selama 80 menit. Apapun itu, Anda harus bisa bertahan."

Banyak yang meramalkan bahwa karir Simeone di Atletico Madrid tidak akan berlangsung lama. Tapi sekarang, karena telah mencapai hampir segalanya yang mungkin diraih di ibukota Madrid, pria berusia 45 tahun tetap positif dan berpikir masih ada target baru - dan tim besar baru yang akan mereka taklukkan

Selama tidak ada yang mengatakan itu ia terlihat nyaman atau puas. Diragukan dan diwasopadai musuh adalah jalan hidupnya,  sebagaimana ia menunggu pemecatan yang tidak akan pernah datang.

Pojok Taktik (bersama Michael Cox)

Skuat Atletico Madrid yang berhasil memenangkan gelar La Liga 2013/14 adalah contoh tim yang memiliki organisasi paling hebat dalam sejarah sepak bola modern, dan karena itulah, Simeone bisa kita anggap sebagai salah satu pelatih terbaik di Eropa.

Dia menolak untuk mengedepankan penguasaan bola seperti yang dilakukan oleh sepak bola Spanyol yang membuat mereka mendominasi dalam satu dekade terakhir, Atletico meraih sukses hanya dengan penguasaan bola di bawah 50%. Simeone biasanya menginstruksikan timnya untuk bermain lebih mengerucut dan tajam dari belakang hingga depan, ini artinya ada 10 pemain yang berada di tengah lepangan, mendominasi lini dengan posisi bukang penguasaan bola. Biasanya dia menggunakan pola 4-4-2, tetapi dengan penyerang yang posisinya lebih dalam ketika mereka sedang tidak menguasai bola, sebenarnya polanya lebih ke 4-4-2-0.

Ada beberapa nuansa dan variasi dalam cara bermain Atletico. Mereka bisa menekan lebih tinggi dengan lini belakang mereka yang lebih agresif di posisi mereka dan serangan mereka bisa bertransisi dengan cepat dan baik, tergantung dari beberapa penyerang yang mereka mainkan, apakah itu penyerang mereka yang cepat atau unggul dalam duel-duel udara.

Simeone juga menikmati masa-masanya selama di Argentina bersama Estudiantes dan River Plate, tetapi ketika kita melihat ketika dirinya sukses mendapatkan gelar domestik sebagai pelatih dan juga pemain, Anda bisa mengatakan bahwa dia sukses di Eropa bersama tim besar Eropa. Sama seperti Guardiola, mungkin dirinya sukses bersama mantan klubnya dan dia bisa saja lebih cerdas di klub lain.

#FFT50MANAGERS