Gelora Bung Karno: Berdiri karena Aksi Politik, Bukan karena Sepakbola Semata

Sudah lebih dari setengah abad berdiri, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menjadi saksi bisu berbagai momen bersejarah bangsa. Mulai dari urusan sepak bola hingga politik. Evans Simon mencoba membawa anda mendalami salah satu landmark yang dimiliki oleh negeri ini.

Kira-kira dalam lima tahun terakhir, Stadion Maracana di Brasil terus menerus mendapatkan sorotan. Terletak di kota Rio, stadion yang didirikan pertama kali dibuka pada 1950 tersebut menjadi tempat bercampurnya (melting pot) berbagai generasi dan kelas.

Sebagai stadion nasional, memang sudah sewajarnya Maracana menjadi simbol kebanggaan rakyat Brasil, yang merupakan tuan rumah Piala Dunia 2014 dan Olimpiade 2016.  Namun, justru karena Maracana jugalah polemik sosial nasional menjadi isu internasional. Politik, lagi-lagi, adalah biang keladinya.

Bagi warga Brasil, politik dan sepak bola memang hal yang rumit. Antar cinta dan benci kadang-kadang tak bisa dibedakan. Mereka kesal karena para politisi menggunakan sepak bola sebagai “moda transportasi” menuju kepopuleran. Namun, mereka juga tidak bisa memungkiri bahwa Stadion Maracana yang mereka bangga-banggakan itu adalah buah (dan memiliki tujuan) yang bersifat politis.

Stadion ini akan menjadi hadiah dari generasi ini untuk yang selanjutnya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat Brasil. Stadion ini akan menjadi hadiah bagi kita semua

- Mario Filho

“Stadion ini akan menjadi hadiah dari generasi ini untuk yang selanjutnya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat Brasil. Stadion ini akan menjadi hadiah bagi kita semua,” ujar Mario Filho jurnalis legendaris Brasil yang namanya kemudian diabadikan dengan menjadi nama resmi Maracana, seperti yang dikutip oleh David Goldblatt dalam bukunya Futebol Nation: A Footballing History of Brazil. Kata ‘kesejahteraan’ saja seharusnya sudah bisa menggambarkan bahwa pada masa-masa awal pembangungan Maracana, isu sosial tidak bisa dilepaskan darinya.

Bung Karno dan stadionnya

Negara Indonesia baru berdiri kurang lebih selama 14 tahun ketika Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres No. 113/1959 tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI). Dengan menggandeng Raden Maladi (yang sebelumnya adalah Ketua Umum PSSI) sebagai Menteri Penerangan dan Frederik Silaban sebagai arsitek, Bung Karno memancangkan tiang pertama pembangunan stadion besar yang dimaksudkan sebagai stadion utama bangsa Indonesia, pada 8 Februari 1960. Seremoni tersebut dihadiri oleh Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Kruschev, karena memang pemerintah memperoleh kredit lunak sebesar $12,5 juta dari mereka untuk pembangunan stadion ini.

Stadion Gelora Bung Karno pernah menampung 150 ribu orang yang ingin menyaksikan final Perserikatan antara Persib Bandung vs PSMS Medan

Bung Karno memutuskan untuk membangun sebuah stadion bukan hanya demi kelancaran Asian Games 1962, tetapi juga untuk menjadikannya, mengutip Julius Pour dalam bukunya yang berjudul Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno, sebagai “masterpiece” negeri ini.

Bung Karno memutuskan untuk membangun sebuah stadion bukan hanya demi kelancaran Asian Games 1962, tetapi juga untuk menjadikannya, mengutip Julius Pour dalam bukunya yang berjudul Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno, sebagai “masterpiece” negeri ini

Desain stadion juga tidak asal njeplak. “Gagasan Soekarno merancang mainstadium yang terindah, terbesar, dan terunik di dunia mendorong kreativitas tim arsitek dari Rusia di bawah pimpinan Soekarno menciptakan rancangan atap temu gelang,” demikian penjelasan dalam buku tersebut. Pada 24 Agustus 1962, Soekarno meresmikan stadion berkapasitas 110.000 penonton tersebut, berbarengan dengan siaran perdana Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV secara tak langsung juga menjadi pengumuman kepada dunia bahwa kita sudah menjadi sebuah negara berdaulat yang mampu berdiri bangga, dan bukan lagi jajahan meneer-meneer Belanda.

Selepas Asian Games, tepatnya pada 1964, stadion tersebut kembali digunakan sebagai pusat pesta olahraga dunia, yakni Games of New Emerging Forces (GANEFO). Kali ini, aroma politis semakin amis. Maklum, Indonesia memang belum lama mundur dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Bung Karno menjadi salah satu pencetus New Emerging Forces (NEFOS), cikal bakal terciptanya Gerakan Non-Blok.

Seperti dikutip dari buku peringatan 80 tahun PSSI, Sepak Bola Indonesia: Alat Perjuangan Bangsa dari Soeratin hingga Nurdin Halid (1930-2010), “Seiring dengan itu, Bung Karno mendirikan NEFOS. Tidak berhenti di situ. Bung Karno pun memutuskan Indonesia keluar dari IOC (International Olimpic Committee) dan menggelar GANEFO tahun 1964 di Jakarta, sebagai tandingan terhadap pertandingan-pertandingan Olympiade di bawah naungan IOC yang identik dengan pesta olahraga negara-negara maju.”  Indonesia, Bung Karno, beserta stadion nasionalnya, telah tercatat, dan tidak dapat dihapuskan, di dalam sejarah dunia.

Habis Soekarno, terbitlah Soeharto. Lagi-lagi politik mengubah wajah stadion ini. Ke-anti-an pemerintah Orde Baru terhadap Orde Lama membuat Stadion Gelora Bung Karno diubah menjadi Stadio Utama Senayan, dari nama yayasan pengelolanya juga ikut berubah dari Yayasan Gelora Bung Karno menjadi Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan (Keppres No.4/1984).

Barulah di era kepemimpinan Abdurrahman Wahid, berdasarkan Keppres No.7/ 2001, nama stadion kembali diubah menjadi Stadion Utama Gelora Bung Karno. Saat ini, kawasan Gelora Bung Karno dikelola oleh Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno.

GBK sudah melihat semuanya: perayaan, dan juga tragedi

Bahkan di era sekarang pun, stadion yang semestinya digunakan untuk acara olahraga (terutama sepakbola) ini tak bisa jauh-jauh dari politik

Bahkan di era sekarang pun, stadion yang semestinya digunakan untuk acara olahraga (terutama sepakbola) ini tak bisa jauh-jauh dari politik. Bukan rahasia lagi, partai-partai politik seringkali menggunakan Gelora Bung Karno sebagai tempat acara puncak ulang tahun atau kampanye mereka. Begitu pun dengan para calon presiden, atau organisasi masyarakat (ormas) yang juga tak bisa jauh-jauh dari urusan politik – pada akhirnya, stadion utama bangsa ini memang tak bisa jauh-jauh dari politik, baik secara sejarah maupun secara fungsionalnya.

Polemik konser dan keserbagunaan stadion

Saya masih ingat betul bagaimana Metallica beraksi di atas panggung di tengah SUGBK sekitar tiga tahun silam. Magis. Hampir tidak ada yang protes meski lapangan sepak bola berubah menjadi moshpit. Dalam cermat saya, mungkin hampir semuanya sudah dibawa ke “never never land” oleh James Hetfield dkk.

Berbanding terbalik dengan ketika boyband papan atas dunia, One Direction, berkesempatan menyapa penggemarnya di negeri ini secara langsung pada 2015 kemarin. Para penggila sepak bola seperti benar-benar dibuat “gila” karena stadion, yang katanya sakral itu, malah dipenuhi oleh teriakan-teriakan histeris wanita yang terbius kegantengan (ini bisa diperdebatkan, sih) Louis Tomlinson beserta rekan-rekannya.

Dari dua kasus tersebut, selain persoalan ketidakadilan sikap fans sepakbola yang ‘berat sebelah’, sebenarnya sudah patut disadari bahwa fungsi stadion di era dewasa memang telah berkembang. Anda tidak bisa marah. Toh dari awal, Gelora Bung Karno memang tak cuma dipakai untuk ajang olahraga saja – tahukah kamu kalau PKI, yang sampai sekarang entah bagaimana terus menjadi momok menakutkan bagi bangsa ini, bahkan pernah menggelar kampanye akbar di sana?

Ini memang lapangan sepakbola, tapi fungsinya bukan hanya untuk olahraga

Sebagaimana rumusan Multatuli, “tugas manusia adalah menjadi manusia”. Jika, Stadion Utama Gelora Bung Karno kembali digunakan oleh manusia sebagai kepentingan non-olahraga di masa mendatang, saya rasa memang begitulah nasibnya; sejak awal mulanya pula. Fenomena yang tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara.

Jadi, terima saja.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID

Topics