Inilah Nasib Para Pemain Naturalisasi Indonesia Saat Ini

Pada tahun tahun 2010-2012 lalu, Indonesia berkali-kali menaturalisasi pemain asing demi mendapatkan sebuah timnas yang 'instan'. Lalu bagaimana nasib mereka saat ini? Gerry Putra mencari tahu...

Untuk menggapai prestasi, PSSI pada 2010 cukup getol menaturalisasikan pemain-pemain keturunan serta pemain yang lama berkiprah di kompetisi sepak bola Indonesia. Tapi sebetulnya, jauh sebelum itu, Indonesia juga sudah punya pemain naturalisasi, tepatnya pada era 1950an.

Naturalisasi generasi pertama bisa dikatakan punya tujuan untuk mempersatukan semua etnis dan suku bangsa yang memilih menjadi warga negara Indonesia. Lima pemain keturunan Belanda, yakni Arnold van der Vin, Van der Berg, Boelard van Tuyl, Pesch, dan Piterseen merupakan pemain ‘bule’ pertama Indonesia.

Naturalisasi generasi pertama bisa dikatakan punya tujuan untuk mempersatukan semua etnis dan suku bangsa yang memilih menjadi warga negara Indonesia. Lima pemain keturunan Belanda, yakni Arnold van der Vin, Van der Berg, Boelard van Tuyl, Pesch, dan Piterseen merupakan pemain ‘bule’ pertama Indonesia

Kesemuanya berasal dari bond (perkumpulan sepak bola) Persija Jakarta. Namun, hanya Arnold van der Vin yang bisa dibilang sukses bermain untuk timnas Indonesia. Kiper Indo-Belanda itu yang besar di Semarang itu menemui puncak prestasi di Jakarta bersama Persija.

Meski semua Indo-Belanda tampil bagus bersama Persija, tapi hanya Vin yang berhasil benar-benar dipanggil ke timnas Indonesia. Vin, yang pada tahun 1952 mendapat kewarganegaraan Indonesia, langsung masuk ke timnas meski sebagai cadangan Tan Mo Heng dalam pertandingan melawan tim kuat Hong Kong, Nan Hua. Sedangkan Van der Berg, Pesch, Pieterseen, dan Boelard van Tuyl lebih banyak bermain di pertandingan-pertandingan tak resmi bagi Indonesia.

Setelah era Indo-Belanda, Indonesia mulai kembali meninjau kebijakan naturalisasi pemain asing untuk mengangkat prestasi sepak bola Indonesia. Sebuah ide yang gila bahkan pernah diapungkan PSSI pada tahun 2006 silam. Nurdin Halid, yang saat itu masih memimpin PSSI, ingin mengambil tujuh pemain muda Brasil yang rata-rata berusia 20-23 tahun, untuk kemudian dinaturalisasi menjadi warga negara Indonesia.

Ide nyeleneh itu jelas mendapat pertentangan dari para pemangku kepentingan di sepak bola Indonesia. Meski tiga pemain Brasil benar-benar sudah datang dan mengikuti sesi latihan untuk timnas, desakan untuk tidak meng-Indonesia-kan pemain-pemain Brasil itu terus menguat.

Nurdin Halid pernah mempunyai 'ide gila' untuk menaturalisasi tujuh pemain muda Brasil

Publik sepak bola mengecam rencana Nurdin Halid itu. Meski masyarakat merindukan timnas yang kuat dan punya prestasi juara, tapi cara instan tersebut dianggap meremehkan program pembinaan sepak bola usia muda dari klub-klub anggota PSSI. Rencana mercusuar tersebut pun batal dan tenggelam.

Empat tahun berselang, rencana naturalisasi kembali mengapung ke permukaan. Namun, kali ini caranya lebih halus dengan memberi status warga negara Indonesia kepada pemain yang memang sudah lama tinggal dan bermain di Indonesia.

Cristian Gonzales menjadi pemain naturalisasi pertama di era sepak bola modern Indonesia yang bergabung dengan skuat Garuda. Efek kehadiran Gonzales di timnas pada Piala AFF 2010 begitu terasa. Walau belum mampu membawa gelar Piala AFF 2010, kiprah Cristian Gonzales itu membuat PSSI ‘ketagihan’ untuk memantau pemain keturunan Indonesia dan pemain yang asing yang ingin beralih warga negara.

Selain Gonzales, ada sederet pemain naturalisasi lainnya antri berpindah warga negara untuk bisa membela timnas Indonesia. Banyak dari mereka yang merupakan keturunan Indo-Belanda, tapi ada juga pemain lawas di kompetisi sepak bola Indonesia.

Siapa saja dan bagaimana kiprah mereka setelah mendapat status sebagai warga negara Indonesia?

Pages