Italia vs Inggris: Ekspektasi terlalu tinggi

Duel klasik Italia vs Inggris selalu panas dan menari di simak. Erie Wicaksono menulis tentang pertandingan ini..

Panasnya kompetisi domestik negara-negara di Eropa serta regional mendadak berhenti akibat jeda internasional. Tak ada lagi rentetan laga bola di akhir pekan atau tengah ketika turnamen macam Champions League atau Europa di tengah minggu.

Kegelisahan sedikit terobati saat melihat jadwal pertandingan persahabatan antara Italia dan Inggris, beruntung terjadi pada akhir Maret andai lebih sehari orang-orang akan mengira tengah dikerjai - April mop they said.

Dua negara dengan catatan sepak bola sudah menghiasi semenjak lama, walau tak bersinggungan secara langsung mereka tetap saja menyajikan partai klasik yang dinanti oleh para pendukungnya. Seakan seperti harapan untuk menceriakan kembali minggu sepi tak ada kompetisi benua biru.

Berlangsung di Juventus Stadium, apa yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan. Terutama dari sisi tim tamu yang beberapa hari belakangan media dipenuhi ingin melihat ketajaman Harry Kane merusak gawang Italia, sedikit aroma balas dendam 10 bulan lalu ditambahkan supaya laga semakin panas.

Diantara memenuhi rasa penasaran dan keinginan tambah desakan dalam negeri, nama pemain tersebut muncul sebagai starting line up. Selalu mencetak gol di 12 laga kompetitif dilakoni jadi pertimbangan diambil oleh Roy Hodgson.

Untuk kubu tuan rumah sudah terlalu banyak masalah yang dihadapi, persoalan pelik adalah kemungkinan tidak ramahnya pendukung tuan rumah akibat Claudio Marchisio harus menepi jelang laga kualifikasi lawan Bulgaria. Daya jelajah Antonio Conte sebagai pemain terbawa terus sampai ketika menangani tim nasional.

Nama-nama baru ia percayakan untuk mengenakan seragam Biru di atas lapangan. Diantaranya adalah Mirko Valdifiori dan juga Franco Vasquez. Eder penyelamat muka ketika memperpanjang rekor tak terkalahkan di kualifikasi Euro 2016, turun sejak awal berduet dengan mantan tandemnya  saat membela Sampdoria di Serie B, Graziano Pelle.

Hodgson masih juga mencari beberapa kombinasi pemain terbaik Premier League. Fondasi The Three Lions masih jua belum kokoh.

Arena tempat pertandingan berlangsung jadi salah satu alasan mengapa akhirnya laga berjalan tak sesuai harapan. Tempat setiap Juventus bertanding penuh dengan chant atau nyanyian tak terdengar meriah. Beberapa tempat duduk terlihat tak bertuan, buat pemandangan seakan tak yakin tengah menyaksikan dua kekuatan sepak bola Eropa.

Hal ini berkembang luas di jejaring sosial banyak yang membuat candaan salah satunya ialah: "Orang Italia lebih memilih bersantai di rumah ketimbang datang ke stadion, maklum lawan yang dihadapi cuma Inggris."

Berjuang mencari nama di hadapan media dalam negeri yang kejam, Theo Walcott harus rela mendapat rapor merah karena tak mampu berbuat banyak. Tren positif Arsenal seakan tak berpengaruh apa-apa bagi pemain satu ini. Belum lagi perjudian Hodgson menempatkan Phil Jones di tengah, ingin meniru apa yang bisa dilakukan oleh maestro Andrea Pirlo ia buat Giorgio Chiellini dengan mudah mengirimkan bola ke Pelle pada akhirnya merubah papan skor.

Sementara tuan rumah juga masih belum solid gaya bermain karena banyak dari mereka baru pertama kalinya main bareng. Hingga akhirnya Conte harus meminta publik lebih bersabar guna membangun tim ini berjaya di Euro 2016.

Label persahabatan benar-benar terjadi di laga ini, bumbu yang coba ditaruh sebelum pertandingan berlangsung tak banyak membantu. Dua kekuatan sepak bola saling bertemu hanya memberikan tontonan sekedarnya daripada tidak ada sama sekali.

Sumber gambar utama: newslocker.com

Topics