Jacksen Tiago: Tentang targetnya di Malaysia Super League dan sepakbolanya

Jacksen Tiago terlihat gembira dan santai sambil menyeruput kopinya di Gurney Drive di Penang dengan matahari bersinar cerah dan laut Andaman seperti berkilau di belakangnya. Ia berada di tempat yang ia inginkan. Hal yang sama (akhirnya) dirasakan juga oleh Penang FA, klub yang ia bawa promosi ke liga tertinggi Malaysia untuk pertama kalinya sejak 2010. 

Bagi pelatih asal Brasil ini, tahun lalu adalah kesuksesan besar di musim pertamanya melatih di luar Indonesia, negara yang ia kenal baik. Malaysia sejauh ini telah terbukti menjadi tempat yang bagus bagi Tiago, baik di atas maupun di luar lapangan.

Saya tidak merasakan tekanan, tetapi fans telah menanti hal ini begitu lama dan akhirnya kami di sini

“Sejak hari pertama, saya yakin kami bisa promosi," kata Tiago kepada FourFourTwo. “Di sepakbola, terkadang ada hal-hal yang bisa didapat dengan mudah, tapi kadang Anda juga perlu kerja keras untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Penang bekerja dengan keras."

“Musim ditentukan sejak hari pertama hingga hari terakhir. Kami menghadapi momen-momen buruk musim lalu karena masalah internal, tetapi kami bekerja dengan sangat baik. Kami mendapatkan hasil yang kami inginkan dan bertahan satu tahun lagi di sini dan saya kini menantikan dimulainya Malaysia Super League."

“Kami telah mencapai target kami.”

Dalam sepakbola, setelah Anda mencapai target, selalu ada target baru. Musim lalu sudah jadi sejarah. Kini, manajemen klub menginginkan sebuah trofi, entah itu juara liga, FA Cup, atau Malaysia Cup. Bagi Tiago, target itu agak terlalu optimis. "Target saya adalah posisi keempat dan mungkin mencapai salah satu laga final. Itu bukan hal yang tidak mungkin.”

Hal tersebut akan jadi pencapaian yang impresif, tetapi mereka pun telah mengeluarkan uang untuk memboyong pemain-pemain baru. Sayangnya Le Gil-hoon, pemain Korea Selatan yang berbakat, sudah keluar dari tim.

“Lee adalah pemain yang hebat: ia menggunakan kedua kakinya, bagus dalam sundulan, ia bisa melakukan ssegalanya tetapi ia bermain untuk dirinya sendiri, bukan untuk tim," kata Tiago menjelaskan keputusannya.

Harapannya adalah rekrutan barunya, Brett Griffiths dari Australia, Marias Jesus Cordoba dari Argentina, dan striker Brasil, Jose Tadeu Mauro, akan berbeda.

"Kami mencoba memboyong pemain yang bisa lebih berpengaruh di tim secara keseluruhan dan punya lebih kepemimpinan. Masih terlalu dini untuk melihat apakah Matias, Griff, dan Tudea bisa melakukan hal tersebut, tetapi mereka punya karakter untuk melakukannya."

“Saya menyukai permainan yang positif dengan keseimbangan yang bagus. (Kami harus) tahu kapan harus bermain ketika lawan memiliki bola, sangat agresif, dan terus berusaha menyerang.”

Bahkan melawan tim-tim seperti juara bertahan MSL dua kali, Johor Darul Ta’zim?

“Anda tidak bisa terus defensif selama 90 menit. Anda akan selalu mendapatkan bola dan harus tahu bagaimana menyerang lawan. Kami selalu bertanding untuk menang. Meski Johor adalah tim kuat, mereka memiliki kelemahan, semua tim memilikinya.”

Apapun yang terjadi, ini akan menjadi musim yang menarik bagi fans di Georgetown.

“Saya tidak merasakan tekanan, tetapi fans telah menanti hal ini begitu lama dan akhirnya mereka di sini (Malaysia Super League), mereka tidak ingin kembali (ke Malaysia Premier League) dan itulah mengapa mereka menekan kami. Mereka akan mendorong kami hingga batas kemampuan kami."

“Saya sudah siap untuk tantangan ini. Kami semua sudah siap.”

Sumber foto: aseanfootball.org