Jejak Tionghoa di Sepak Bola Indonesia: Dari Tan Liong Houw hingga Sutanto Tan

Ada masanya ketika kaum Tionghoa memiliki kontribusi besar bagi sepak bola Indonesia. Gerry Putra menengok era itu kembali, dan melihat bagaimana pengaruh Tionghoa di sepak bola Indonesia saat ini...

Etnis Tionghoa sudah cukup lama bermukim di Indonesia. Sebagai etnis yang ulet dalam hal bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, etnis Tionghoa pun tak luput dari olahraga masyarakat. Terutama sepak bola, yang menjadi olahraga yang cukup digandrungi di Indonesia pada akhir abad 19. Beberapa klub atletik Tionghoa pun tak ketinggalan untuk mendirikan sebuah klub sepak bola.

Sepak bola merupakan alat yang efektif untuk mengekspresikan identitas etnis ataupun politik. Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh peranakan Tionghoa di Indonesia. Dibekali pendidikan dan ekonomi yang mumpuni, mereka membentuk perkumpulan olahraga dan sepak bola sebagai bentuk superioritas mereka terhadap orang-orang Belanda.

Sejak era sebelum kemerdekaan, Tionghoa telah banyak berkontribusi bagi sepak bola Indonesia

Beberapa klub Tionghoa di kota-kota besar seperti di Jakarta, Semarang, dan Surabaya tumbuh dan mulai menancapkan eksistensinya. Union Makes Strength (UMS) di Jakarta adalah salahnya.

Di Semarang, setidaknya ada dua perkumpulan sepak bola etnis Tionghoa. Tionghoa Hoa Yoe Hwee Koan atau yang biasa disebut dengan UNION merupakan klub sepak bola Tionghoa pertama kali berdiri di Semarang. Perkumpulan sepak bola ini berdiri pada 2 Juli 1911 dan merupakan pionir dari perkumpulan sepak bola di Semarang. Lalu ada Comite Kampioens-wedstrijden Tionghoa (CKTH). Pada tahun 1926, perkumpulan ini mengubah namanya menjadi Hwa Nan Voetbalbond (HNV).

UMS, UNION dan Tionghoa (CKTH) merupakan kekuatan besar sepak bola Tionghoa di Indonesia kala itu. Terlebih bagi UMS, yang lahir dari daerah pecinan di kawasan Glodok, Kota, dan menjadi representasi etnis Tionghoa di Jakarta dan Indonesia dalam hal olah raga.

Ketika UMS Batavia dan Tionghoa Surabaya bertemu dalam laga amal... (Foto: Loka-majalah.com)

Bertanding di kompetisi Voetbalbond Batavia en Omstraken (VBO), UMS merupakan klub kuat yang seringkali menjadi kuda hitam di kompetisi VBO. Nama-nama pemain UMS di kompetisi VBO cukup beken, dan bukan hanya di Jakarta saja, kepopuleran mereka juga merambah ke luar Jakarta.

Di Surabaya, gairah sepak bola Tionghoa juga tinggi berkat hadirnya CKTH atau Tionghoa. Di Jawa Timur peta sepak bola memang mengarah kepada klub-klub berbasis orang Belanda, tapi Tionghoa juga menjadi pembeda di sepak bola Surabaya.

Pada tahun 1933, Tionghoa menjadi juara di Surabaya. Prestasi itu langsung berlanjut pada tahun berikutnya. Era akhir 1930-an Tionghoa menjadi klub yang disegani di Surabaya dengan torehan juara pada tahun 1939 dan 1940. Selepas kemerdekaan, Tionghoa pun berganti nama menjadi Suryanaga dan aktif dalam pembinaan sepak bola Surabaya sebagai anggota Persebaya Surabaya.

Satu klub yang juga turut membuat gairah kaum Tionghoa dalam bermain sepak bola begitu tinggi adalah Chung Hua Tsing Nien Hui. Perkumpulan sosial dan olahraga Chung Hua ini melahirkan cabang sepak bola pada tahun 1946. Dalam perjalanannya, Chung Hua menjadi rival besar UMS.

Menurut sumber yang didapat FourFourTwo, rivalitas UMS dan Chung Hua terjadi karena hengkangnya para pemain UMS ke Chung Hua. Alasan tidak mendapat kesempatan bermain lah yang membuat migrasi para pemain UMS ke Chung Hua. Dipelopori oleh Tan Chin Hoat, beberapa pemain yang bersebrangan dengan UMS mendirikan cabang sepak bola di Chung Hua.

Hingga saat ini rivalitas UMS dan Chung Hua terus berlanjut. Chung Hua yang saat ini bernama PS Tunas Jaya merupakan anggota Persija. Keduanya kerap bertemu dalam kompetisi Pengcab PSSI Jakarta Pusat. Jarak ‘kandang’ keduanya pun tak berjauhan. Jika UMS berada di Petak Sinkian, maka Chung Hua memilih daerah Taman Sari sebagai tempat berlatih. Meski selalu ‘panas’ di dalam lapangan, namun kedua pemain cukup akur jika bermain untuk Persija dan timnas Indonesia.

Lain lagi dengan UNION dan CKTH di Semarang. Keduanya menjadi sentra sepak bola Tionghoa di Jawa Tengah. UNION yang didirikan oleh para penggemar olah raga di Semarang, seperti Tan Liang Hok, HM Keasberry, Tjoa Hian Tjoe, Liem Kok Ping, The Tjing Liat, Tan Tiong Kwie, Go Boen Toh, dan Lim Tjong Ham, merupakan klub Tionghoa paling sukses di Semarang.

Bahkan dalam beberapa kompetisi antar etnis Tionghoa se-pulau Jawa, UNION kerap meraih hasil yang gemilang dan mampu bersaing dengan UMS sebagai klub paling wahid tempo dulu.

Dengan kondisi demikian, peranan Tionghoa dalam perkembangan sepak bola di nusantara begitu besar sebelum era kemerdekaan. Etnis Tionghoa Indonesia bahkan pernah merasakan bermain di Piala Dunia tepatnya tahun 1938. Kiper Tan Mo Heng, Tan Hong Djien, dan Tan See Handi menjadi pemain Tionghoa-Indonesia yang merasakan kerasnya Piala Dunia bersama tim Hindia Belanda kala itu.