Kesabaran Pelatih Timnas Indonesia Mulai Habis

Pelatih utama tim nasional Indonesia menjelaskan kepada kita semua bahwa dengan adanya sanksi FIFA, tidak banyak yang bisa dia lakukan...

Dengan adanya sanksi FIFA ini, memaksa Pieter Huistra untuk tidak melakukan pekerjaan yang sangat dia cintai. Pelatih asal Belanda tersebut sebelum menjadi pelatih utama timnas Indonesia pada Mei tahun ini menjabat sebagai direktur teknik untuk timnas pada Desember 2014 lalu. Tetapi, sesaat setelah dirinya menjadi pelatih tim nasional Indonesia, FIFA memberikan sanksi kepada negara Asia Tenggara yang sangat mencintai sepak bola karena adanya intervensi pemerintah kepada PSSI.

Hampir lima bulan lamanya sanksi FIFA berjalan di Indonesia dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda bahwa situasi ini akan berubah dalam waktu dekat. Tim nasional senior Indonesia harus menerima kenyataan bahwa mereka harus didiskualifikasi dari penyisihan Piala Dunia 2018 dan Piala Asia 2019, hal ini juga diperparah dengan semua tim Indonesia yang berlaga di AFC Cup juga turut terkena imbasnya dengan juga harus didiskualifikasi dari ajang nomor dua Asia tersebut.

Dan ada juga beberapa turnamen untuk level usia muda yang sedang berjalan atau akan berjalan, semua akan berlangsung tanpa keikutseraan Indonesia di dalamnya. Semua itu menjadikan rencanya jangka panjang Indonesia di sepak bola menjadi abu-abu, bahkan wacana diadakannya Liga Super ASEAN mungkin akan menjadi mimpi belaka bagi Indonesia. ada pemain yang bercanda dengan mengatakan bahwa ada kesempatan masalah ini akan selesai sebelum Piala Dunia 2034, turnamen yang dirumorkan bahwa Asia Tenggara tertarik untuk menjadi tuan rumah.

Tetapi, efeknya tidak hanya terasa pada ajang kualifikasi Piala Dunia dan Piala AFC. Semua ini bisa menjadi sangat bahaya untuk level yang lebih rendah lagi.

Huistra menjelaskan kepada FourFourTwo: "Satu alasan yang membuat saya ada disini adalah untuk memulai program untuk pembinaan usia muda.

"Masyarakat membayangkan akan ada banyak talenta berbakat disini, tetapi pemain bagus hanya muncul apabila mereka berada di lingkungan yang tepat dan Anda harus mulai untul membangunnya dari usia muda dan mengembangkannya di setiap level usia muda yang ada.

"Ini adalah masalah utamanya, tidak ada tangga bagi para pemain muda berbakat ini untuk menjadi pemain yang lebih baik, mereka terkendala dengan kurangnya struktur yang jelas. Kita telah bekerja keras sejak saya dipekerjakan 10 bulan yang lalu.

"Dan sekarang semuanya terhenti begitu saja. Tidak ada uang yang seharusnya menjadi modal dan untuk orang-orang yang ingin melakukan investasi dalam bidang ini akan berpikir kembali."

Semua ini bisa diselesaikan apabila pemerintah mau berbicara. Anda harus menanyakan kepada mereka kenapa mereka tidak mau berbicara

“Kami hanya sedikit mendapat bantuan, bahkan tidak sama sekali dari pemerintah. Kami harus melakukan pendekatan kepada perusahaan swasta. Banyak program bergantung kepada pendanaan dari sponsor.”

“Saat ini, mereka khawatir bila berinvestasi terlalu besar, karena tidak ada yang tahu perkembangan situasi sekarang, dan itu sungguh disayangkan. Sangat banyak inisiatif, tapi kami terpaksa berhenti sekarang.”

Sejatinya, pelatih 48 tahun ini cemas tentang implikasi jangka panjang bagi Indonesia. Dengan populasi sebanyak seperempat milyar orang, Indonesia juga tidak terlalu berprestasi di ajang Asia dan dunia sebelum terkena sanksi.

“Makin lama kita berhenti, makin jauh kita tertinggal. Tak ada seorang pun yang menyadari dampak buruknya bagi sepakbola Indonesia. Jika Anda tidak aktif selama satu tahun, maka Anda membutuhkan waktu dua, atau tiga tahun untuk mengejar ketertinggalan.”

Dengan digunakannya uang pribadi dari para petinggi PSSI, diharapkan bisa membuat aktivitas PSSI berjalan normal kembali, tetapi menurut Huistram hal itu tidak akan terjadi.

“Federasi tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak punya pemasukan, tidak ada uang hak siar televisi, tidak ada dana sponsorship, tak ada tim nasional, tak ada liga, dan sungguh sulit untuk membayar gaji. Jika ini terus berlangsung, maka kondisinya makin memburuk. Kredibilitas Indonesia juga akan terpukul di mata dunia,”

Negara Asia, temasuk Iraq, Kuwait dan lainnya, pernah menerima sanksi pada masa lalu dan durasi sanksi yang mereka terima tidak terlalu lama.

Indonesia, seperti biasa, semuanya berbeda.

"Sepertinya tidak akan ada solusi yang akan terjadi dalam waktu-waktu dekat. Ada dua partai yang terlibat, partai yang paling berpengaruh semuanya berada di pemerintahan Indonesia saat ini. FIFA langsung bereaksi terhadap hal itu dan kita tidak bisa melakukan banyak hal apabila pemerintah mengintervensi, kita hanya bisa menunda."