Ketika Pesepakbola Menulis Tentang Sepakbola: Dari Juan Mata sampai Steven Gerrard

Pesepakbola... menulis? Kenapa tidak. Ternyata ada cukup banyak pesepakbola profesional kelas atas yang juga menulis kolom atau blognya sendiri, dan inilah beberapa di antaranya...

Dengan tubuh atletis dan kekayaan yang seolah tak habis-habis, wajar jika pemain sepak bola mengisi waktu di luar latihan dan pertandingan dengan menjadi model atau berfoya-foya; mereka bisa dan berhak melakukannya. Sangat sedikit dari mereka yang mengisi waktunya dengan menulis, namun bukan berarti tidak ada.

Memang, tak sedikit dari pelaku sepakbola yang juga memiliki buku otobiografi – namun sebagian besar (atau malah hampir semuanya) sebenarnya ditulis oleh penulis bayangan (ghost writer) alih-alih ditulis oleh sang pemain sendiri. Sebagus-bagusnya I Am Zlatan, ia tak ditulis oleh Zlatan Ibrahimovic sendiri, melainkan David Lagercrantz, yang suatu waktu pernah mengakui bahwa ia tidak benar-benar mengutip ucapan Zlatan, namun menciptakannya sendiri. Dan seajaib-ajaibnya cerita-cerita di I Think Therefore I Play, mereka tidak ditulis sendiri oleh Andrea Pirlo, namun Alessandro Alciato.

Karenanya, tak mudah menemukan pemain-pemain sepakbola yang benar-benar menulis tulisannya sendiri. Berikut adalah beberapa pemain yang (diyakini) menulis kolomnya sendiri, tanpa bantuan orang lain.

Steven Gerrard

Steven Gerrard termasuk salah satu yang paling baru di antara para pemain sepak bola yang aktif menulis. Legenda hidup Liverpool ini bergabung dengan Telegraph untuk posisi kolumnis pada pekan terakhir bulan Februari tahun ini.

“Saya tidak sabar menjadi kolumnis dan berusaha menyampaikan sisi lain dari sepak bola yang tak terjangkau oleh para fans, dan barangkali menawarkan tingkat pemahaman yang sangat tinggi terhadap tuntutan, tekanan, dan naik-turun emosi dalam usaha untuk sukses di tingkat tertinggi sepak bola modern” ujar Gerrard mengenai posisi barunya. “Yang dapat saya janjikan dalam kolom saya adalah apa yang selalu saya usahakan dalam setiap wawancara media sebagai pemain. Jujur dan adil.”

Steven Gerrard

Gerrard mulai terjun ke dunia media pada tahun ini

Gerrard adalah salah satu yang terbaik di lapangan, namun kemampuannya di dunia penulisan belum terbukti. Barangkali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kemampuannya sebagai pemain sepak bola. Itu toh tidak menghalangi surat kabar sekelas Telegraph untuk mempercayakan posisi kolumnis kepadanya.

“Saya sangat bergetar menyambut Steven Gerrard di Telegraph,” ujar Adam Sills, kepala bagian olah raga di Telegraph Media Group. “Ia adalah salah satu pemain sepak bola yang paling dikagumi di generasinya, dengan karier yang sukses dan berlangsung nyaris dua dekade di puncak sepak bola Inggris.”

Debutnya untuk Telegraph adalah sebuah preview pertandingan, Manchester City melawan Liverpool di final Capital One Cup 2015/16. Gerrard menulis kolom bulanan sepanjang sisa musim Premier League 2015/16 dan selama gelaran Piala Eropa 2016.

Juan Mata

Masing-masing satu gelar juara Copa del Rey, Community Shield, Europa League, dan Liga Champions serta dua FA Cup. Masing-masing satu gelar juara Piala Eropa dan Piala Dunia. Satu penghargaan pemain terbaik Piala Eropa U-21 dan dua kali pemain terbaik Chelsea. Dengan semua catatan tersebut, tak ada yang membantah kebintangan Juan Mata. Namun ia tidak menjalani kehidupan kebanyakan bintang.

Mata tidak tinggal di rumah mewah yang terletak di daerah elit, ia tinggal di sebuah flat di tengah kota. Mata tidak pulang pergi dengan kendaraan pribadi yang membuat semua orang melirik, ia naik kereta bawah tanah dan sistem transportasi umum lainnya. Mata tidak meminta perlindungan dari pengawal pribadi, ia sering menghabiskan waktunya dengan berjalan kaki di kota. Satu hal lain tentang Mata: ia aktif menulis di blog pribadinya, yang ia beri nama One Hour Behind.

Juan Mata

Juan Mata aktif menulis di blognya sejak masih di Chelsea

Mata “hanya” menulis sepekan sekali, namun ia melakukannya secara rutin. Ia menulis banyak hal: penghargaan terhadap para pendukung, kemenangan timnya, pekan yang menentukan, tulisan penutup musim Premier League, harapan-harapannya, hingga kesedihan yang ia rasakan.

The Secret Footballer

Sebuah situs bernama whoisthesecretfootballer sampai dibangun untuk menampung usaha kolektif membongkar identitas The Secret Footballer. Bahkan ada yang sampai mengklaim berhasil mengungkap Dave Kitson, Kevin Davies, Joey Barton, dan Phil Neville sebagai sosok di balik pseudonym yang secara rutin menulis kolom di Guardian ini. Semuanya salah; The Secret Footballer masih aktif menulis sebagai kolumnis, dan ini adalah hal yang baik untuk semua pihak.

Pertanyaan bukannya tidak dilayangkan kepada pihak Guardian mengenai kolumnis rahasia mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang masuk dijawab sendiri oleh sang kolumnis. “Usia: rahasia. Penampilan: rahasia.” The Secret Footballer menggunakan kata rujuk dia untuk menyebut dirinya sendiri ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. “Ia adalah pemain sepak bola Premier League yang menulis kolom anonim di Guardian, yang kolom-kolomnya sekarang telah dibukukan.” Siapa pun sang kolumnis rahasia ini, ia bukan David Beckham (ya, salah satu tebakan yang masuk ke Guardian adalah nama David Beckham).

Kerahasiaan identitas The Secret Footballer, selain menjadi keunggulan tersendiri untuknya, adalah keuntungan bagi kita sebagai pembaca. Dengan identitas yang tak terungkap, The Secret Footballer bisa menulis hal-hal yang tidak bisa ditulis pemain-pemain lain karena alasan sensitivitas isu; dan The Secret Footballer memang penulis hal-hal sensitif di dunia sepak bola. Ia bisa mengeritik rekannya dan mengeluhkan sikap para pendukung. Jurnalis bisa melakukannya, namun jurnalis tidak memiliki keunggulan faktor “orang dalam” yang ia miliki. Sebagai pelaku langsung di dunia sepak bola, The Secret Footballer memiliki akses dan sudut pandang yang tidak bisa begitu saja dimiliki orang-orang biasa, dan kerahasiaan identitas memungkinkannya untuk memaksimalkan keunggulan-keunggulan tersebut.

Diego Forlan, Robbie Savage, dan lainnya...

Selain nama-nama yang disebutkan (dan tidak disebutkan) di atas, pemain-pemain lain aktif menulis sejak masih aktif bermain sepak bola. Diego Forlan, Michel Salgado, dan Robbie Savage misalnya. Sementara dua nama pertama pernah aktif menjadi kolumnis bagi majalah FourFourTwo, nama yang disebut terakhir adalah kolumnis aktif Daily Mirror.

Diego Forlan

Diego Forlan adalah salah satu kolumnis reguler FourFourTwo

Tak semuanya, walau demikian, harus menjadi kolumnis tetap untuk menulis. Beberapa pemain datang dan pergi menjadi penulis undangan Daily Mail, untuk rubrik mereka yang bertajuk The Footballer’s Football Column. Pemain-pemain yang pernah diundang menulis di sana di antaranya adalah Leon Osman, Ray Parlour, dan Edgar Davids.

Ada juga situs The Player’s Tribune, sebuah situs yang didirikan oleh legenda baseball Amerika, Derek Jeter, yang mengajak para pelaku olahraga, baik aktif maupun tidak, untuk menulis berbagai isu dalam karier mereka dari sudut pandang mereka sendiri. Sangat banyak pesepakbola yang sudah menulis di situs ini, meski diragukan apakah mereka benar-benar menuliskannya atau menggunakan jasa penulis bayangan, seperti Jerome Boateng, Brad Friedel, hingga yang terbaru Joshua Kimmich.

Terbaru adalah seri Telling It Like It Is milik FourFourTwo, yang mengajak para pelaku sepakbola untuk menulis isu-isu terkini tentang karier mereka. Steve Darby, misalnya, menulis tentang perseteruannya dengan Kelantan FA yang menahan gajinya. Ada juga Robert Cornthwaite, yang menulis mengapa ia meninggalkan Malaysia Super League dan masalah-masalah yang masih ada di liga tertinggi sepakbola Malaysia ini.

Pantau terus laman feature FourFourTwo Indonesia untuk membaca tulisan terkini para pelaku sepakbola Asia Tenggara di Telling It Like It Is.

Lebih banyak feature setiap harinya di FourFourTwo.com/ID