Kiatisuk "Zico" Senamuang: Thailand Tidak Takut Siapa pun

Tim nasional Jepang yang berhasil meraih kemenangan di Bangkok sudah akan meninggalkan bandara, sementara pelatih Thailand, Kiatisuk Senamuang, berada di Stadion Rajamangala dan menegaskan kepada FourFourTwo bahwa timnya tidak gentar menghadapi tim manapun.

Walaupun papan klasemen mungkin akan menunjukkan hal yang berbeda, satu pekan terakhir bisa dianggap sebagai sebuah kemajuan bagi Thailand di kompetisi tingkat Asia, meski mereka menderita kekalahan tipis atas Arab Saudi dan kekalahan 2-0 atas Jepang.

Mereka memang mendapatkan pujian atas performa menawan mereka di Riyadh, namun pujian itu mereda setelah laga pertama mereka di kandang sendiri yang mengecewakan. Meski demikian, pria yang akrab dipanggil 'Zico' ini tetap memuji penampilan timnya.

Ini bukan situasi yang ideal dengan mengalami dua kekalahan dalam dua laga pembuka, tetapi melawan Jepang kami dapat mengatakan bahwa, baiklah, dua-kosong mungkin bukan hasil yang buruk.

- Zico

"Kami berusaha untuk melakukan yang terbaik di pertandingan pertama melawan Arab Saudi dan bisa menganggap diri kami tidak beruntung dan itu membuat para pemain marah, tapi kami tahu kami tidak punya pilihan untuk mencoba dan 'bermain' melawan Jepang," katanya kepada FourFourTwo.

"Tentu saja mereka tim terbesar di Asia dan kami tahu semua hal tentang kualitas Jepang dan kami datang ke pertandingan ini menyadari bahwa kami harus mencoba untuk bertahan dengan rapat."

"Pada akhirnya, meski lini depan harus kami dikorbankan kami tidak bisa bermain seperti yang kami inginkan bahkan di hadapan pendukung kami, tapi kami juga harus berhati-hati dengan pendekatan kami."

Perbedaan antara kedua laga tersebut begitu kontras: melawan Arab Saudi, Thailand menekan tepat sejak peluit dibunyikan, membuat lawan mereka cemas, menutup ruang, dan beberapa kali melakukan pergerakan cerdas yang membuat mereka mendapatkan peluang untuk menyerang.

Saat melawan Jepang, kondisinya jauh lebih sulit karena pasukan Vahid Halilhodzic tersebut mampu mengumpan di area mereka sendiri dan juga di area pertahanan lawan. Saat mengusai bola, pertahanan Thailand sering mudah ditembus hanya dalam sekali atau dua kali umpan.

Jepang memperlihatkan di Bangkok bahwa mereka masih terlalu kuat

Sulit untuk menghindari pandangan bahwa kekalahan ini disebabkan oleh sisi psikologis dan juga teknik atau taktik.  

Sama halnya dengan Jepang sendiri yang sering tak berdaya saat diserang oleh tim-tim yang lebih kuat, lawan terburuk Thailand di Bangkok kemarin barangkali adalah diri mereka sendiri.

Kepercayaan diri dalam menguasai bola dan pergerakan yang dinamis saat bertanding menghadapi tuan rumah Arab Saudi berubah menjadi penampilan di mana mereka dipermainkan saat tidak menguasai bola dan kalah cerdas dari tim tamu yang bermain dengan sabar.

Namun sang pelatih berargumen bahwa alih-alih disebabkan oleh masalah mental, ini adalah hasil dari adaptasi taktik mereka, di mana mereka harus mengendalikan naluri menyerang mereka untuk menahan Jepang selama mungkin.

"Ini bukan situasi yang ideal setelah mengalami dua kekalahan dalam dua laga pembuka, tetapi melawan Jepang kami dapat mengatakan bahwa, baiklah, dua-kosong mungkin bukan hasil yang buruk."

"Kami tidak mendapatkan poin yang kami inginkan dan kami mencoba untuk membangun para pemain untuk memiliki kepercayaan diri dan untuk melangkah maju, tapi saya pikir jika kami bermain lebih menyerang, mungkin kami akan kalah dengan banyak gol, bukan hanya dua gol," tegasnya.

Sisi positif dan negatif hadir dalam porsi yang sama, tetapi adalah hal yang penting untuk melihat komposisi kedua tim dan bagaimana pengembangan sepakbola dan pengaruh asing memberikan hasil yang berbeda di kedua negara ini.

Berawal dari hampir dua dekade yang lalu di mana tidak ada liga profesional di Jepang, sekarang mereka telah memiliki liga yang bisa dianggap sebagai salah satu yang paling kompetitif di Asia, secara rutin mengirim beberapa pemain mereka ke klub-klub top Eropa, dan telah memenangkan tiga dari lima Piala Asia terakhir.