Kisah Roy Hodgson: Rusa besar, burung hantu, erotika, dan sakit kepala

Reporter Back of the Net, John Foster, mengupas kisah perjalanan manajer tim Tiga Singa...

Kejutan besar muncul ketika FA mengangkat Roy Hodgson untuk menjadi penerus Fabio Capello sebagai bos timnas Inggris. Hodgson sama sekali tidak diperhitungkan sebelumnya karena masa kerja enam bulannya yang tak berjalan mulus di Liverpool, ketika suporter Reds yang tersingkir dipaksa menelan pencapaian buruk dan kontrak transfer yang tak dianggap adil, terutama karena ia memberi Christian Poulsen bonus kuku, dan menghadiahi Paul Konchesky hak penamaan atas Anfield. 

Namun sayangnya, memanejeri Liverpool ternyata sebuah langkah fatal untuk kariernya yang sudah terukir cemerlang. Kariernya dimulai pada tahun 1976, ketika, Hodgson yang kala itu baru menginjak usia 29 tahun, pindah ke Swedia untuk melatih Halmstads. Sama halnya seperti klub Swedia lainnya, Halmstadt sudah bertahun-tahun bermain dengan formasi lepas 3-4-3, yang dikembangkan oleh  para pemburu hutan sebagai formasi terbaik untuk memburu rusa-rusa besar berharga. 

Hodgson merevolusi taktik klub dengan sistem zona penandaan baru, formasi kaku 4-4-2, dan, langkahnya yang paling mengejutkan adalah melepas rusa besar tercinta Halmstadt. Pendekatan baru itu sontak membuahkan hasil, karena Halmstadt sukses menjuarai liga Allsvenskan di musim pertama masa kerjanya. Prestasi itu pantas dikenang, meskipun Allsvenskan merupakan liga yang cuma dijajal oleh tiga tim yang memainkan musim selama 10 hari, bertepatan dengan musim panas Swedia.   

Hodgson, Pahlawan dari Halmstads.

Gelar berikutnya untuk Halmstads datang di 1979, sebelum Hodgson menjalani masa kerja yang menguras tenaga selama empat bulan di Bristol City yang tengah mengalami himpitan dana, di mana tugas-tugas manajernya termasuk tugas sebagai terapis, supir bus, dan terkadang penjaga gawang. Beberapa tahun kemudian Hodgson mengakui bahwa ia menerima pekerjaan itu tanpa mengecek apakah tim itu sudah memiliki skuat yang lengkap atau belum, kesialan yang muncul karena kelalaiannya sendiri.  

Dia kembali ke Swedia pada tahun 1983, menjuarai liga lima kali berturut-turut bersama Malmo, sebelum mencoba peruntungannya di Swiss bersama Neuchatel Xamax. Di sini, ia mencetak kemenangan mengesankan atas Real Madrid yang datang dengan persiapan minim, yang yakin bahwa lawannya kali ini cuma tim yang layaknya seperti obat sakit kepala murahan, dan berhasil membuat Asosiasi Sepak Bola Swiss terkesan yang nantinya memberinya kepercayaan untuk menangani timnas di tahun 1992.

Disiplin Swiss

Di bawah arahan Hodgson, Swiss berhasil lolos kualifikasi untuk PD AS ’94 dan Euro ’96, turnamen prestisius bagi mereka. Kunci kesuksesan mereka adalah disiplin dalam hal posisi, yang Hodgson tanamkan dengan cara mengikat seluruh pemainnya dengan seutas tali dengan panjang tertentu di lapangan latihan. Inovasinya menuai pujian luas, terlepas dari insiden yang terjadi di hotel tim saat Kubilay Turkyilmaz jatuh dari balkon, yang serta merta menyeret Marc Hottiger yang malang ikut jatuh bersamanya. 

Pencapaian Hodgson saat memanejeri timnas Swiss membuatnya ditawari pekerjaan sebagai bos Inter Milan pada tahun 1995. Namun, masa kerjanya di San Siro, menuai pujian dan juga kritikan. Dan kritikan terpedas yang ia tuai adalah saat menepikan Roberto Carlos, yang, ia yakini bertindak seperti rusa. Hodgson meninggalkan jabatannya setelah kalah di final Piala FA 1997 dari Schalke, karena memainkan taktik yang salah: berharap bisa menang lewat adu penalti melawan Jerman.

Setelah masa kerja yang mengecewakan bersama Blackburn Rovers, Hodgson kembali ke Inter sebagai pemegang kunci, di mana ia mendapatkan pujian karena merapikan lemari sapu tim dan memperbaiki mesin espresso. Dia kemudian kembali ke Swiss, dipuji karena berhasil membangkitkan Grasshopper yang telah vakum selama 17 tahun. Di tengah kritikan yang menuding bahwa ia tidak punya andil apa- apa dalam comeback Grasshopper, Hodgson kembali  pindah di tahun berikutnya ke klub sepak bola Copenhagen.   

Menyusul musim yang ia hias dengan kemenangan bersama Copenhagen dan masa kerja yang singkat di Udinese, Hodgson menghabiskan dua tahun yang buruk saat mengasuh timnas Saudi Arabia. Dia menyalahkan kegagalan tidak biasa seperti ini karena tak bisa menerapkan teknik perekatan tim yang disukainya seperti meminum wiski gandum, menikmati erotika Perancis klasik, dan demokrasi.    

Bertekad untuk melatih di setiap negara Skandinavia sebagai akibat dari hasil taruhan yang ia buat kala mabuk, Hodgson menjalani musim tak penting bersama Viking Stavanger, sebelum pindah untuk melatih Finlandia. Dia pergi ketika gagal membawa negara itu lolos ke Euro 2008, dan, karena tak mampu mendapatkan pekerjaan di Reykjavik, dia mengambil tawaran untuk melatih Fulham, yang sering dijuluki ‘Islandia London’. 

Kebanggan The Cottage

Masanya di Fulham sangat sukses, karena the Cottagers berhasil masuk ke final Liga Eropa di tahun 2010 sebelum kalah dari Atlético Madrid. Dalam liga itu, tim tak dijagokan yang diasuh Hodgson tersebut mengalahkan Basel, Juventus, Shakhtar Donetsk, Wolfsburg, and Hamburg, yang membuat mereka menjadi tim yang paling sering mendapat julukan “gagah perkasa” dalam satu musim tunggal sepanjang masa.

Dia kemudian mengalami masa yang penuh gejolak di Liverpool, di mana ia menuai kritik pedas karena menempatkan pemain di luar posisi mereka, seperti Raul Meireless di sayap dan Alberto Aquilani di Juventus. Pemecatannya setelah enam bulan sama sekali tidak mengejutkan, namun ia kemudian langsung mendapat pekerjaan sebagai manajer di West Bromwich Albion. Masa bakti 18 bulannya yang mengesankan ini ditandai dengan pencapaian-pencapaian gemilang yang ia torehkan di klub-klub luar Inggris, yang secara luas dianggap sebagai strategi yang disengaja untuk membuat iri fan Liverpool.

Waktu Roy di Marseyside bukanlah yang terbaik.

Namun, pengangkatannya yang tak terduga sebagai manajer Inggris pada tanggal 1 Mei, 2010 disambut dengan lolongan cemoohan dari pers, yang sudah menggembor-gemborkan bahwa posisi itu akan menjadi milik Harry Redknapp. Sebuah tabloid mengejek kesulitan Hodgson dalam berpidato, sementara yang lain memilih untuk menggambarkannya seperti burung hantu, karena ia lebih suka tidur terbalik di lumbung padi, sebuah kebiasaan yang ia dapatkan ketika menetap di Swedia.  

Hanya waktu yang bisa mengungkapkan apakah press memang sudah menemukan kambing hitam baru, yang kebetulan memang seorang Jerman, pada waktunya untuk mengurangi arus deras kritikan yang diarahkan ke Hodgson. Tampaknya itu akan menjadi tugas yang sulit, karena banyaknya jumlah wartawan yang memohon saat malam sebelum turnamen bahwa belum terlambat untuk merekrut Harry Redknapp dengan mengatakan hal-hal yang dimilikinya seperti keberanian, hasrat, gairah, kemampuan memotivasi, dan tentu saja merekrut.

Yang lain dari Back of the Net