Kisah Sedih Perjalanan Karir Seorang Diego Costa

Setelah ejekan dan penolakan menghalangi jalannya, jangan berharap pemain andalan terbaru Chelsea, Diego Costa, akan bersikap baik jika anda menghadangnya. Jurnalis FFT, Andrew Murray menemukan apa yang membuatnya menjadi sosok 'pembunuh'...

DATA DIRI

  • Nama Lengkap: Diego da Silva Costa
  • Tempat Tanggal Lahir: Lagarto, Brazil, 7 Oktober 1988
  • Tinggi: 6 kaki 2 in
  • Posisi: Striker
  • Klub: 2006 Braga (0 pertandingan, 0 gol) 2006 Penafiel (13, 5) 2007-09 Atletico Madrid (0, 0) 2007 Braga (7, 0) 2007-08 Celta Vigo (30, 6) 2008-09 Albacete (34, 10) 2009-10 Real Valladolid (36, 9) 2010-14 Atletico Madrid (135, 64) 2012 Rayo Vallecano (16, 10) 2014- Chelsea (34, 20)
  • Internasional: Brazil (2 pertandingan), Spain (7 pertandingan, 1 goal)

Jose Mourinho tersenyum. Dan itu hanyalah sebuah senyuman tipis, tapi semua orang yang berdesakan di dalam ruang konferensi pers Crystal Palace di bawah Selhurst Park pada Sabtu, 29 Maret 2014, bisa melihatnya.
 
Chelsea baru saja kalah 1-0 dari The Eagles, peluang mereka untuk meraih gelar Premier League digagalkan oleh calon tim degradasi. Tapi kenapa? Bagaimana bisa?
 
"Saya tidak akan mengatakan itu di depan kamera televisi tapi saya akan menuliskannya pada selembar kertas," kata The Special One, kilatan menyenangkan di matanya sekarang menyertai senyum penuh arti. Mourinho - menyerah atas peluang juara timnya dengan enam laga tersisa, menjulurkan badannya untuk mengambil buku catatan seorang reporter, menuliskan sesuatu yang tidak dimiliki Chelsea di laga tersebut dan sepanjang musim. "NYALI", bunyi kata di atas kertas itu.
 
Mourinho melanjutkan. "Anda dapat menemukan hal yang sama di setiap kekalahan kami musim ini - di markas Stoke City, Everton, kandang Newcastle, dan di West Brom, di mana kami kehilangan dua poin. Empat bek saya: performa mereka fenomenal, seperti biasa. Yang lain, saya lebih memilih untuk tidak menganalisis secara individu. Kami perlu membuat pergerakan di jendela transfer berikutnya."
 
Bukan hal yang sulit untuk mengetahui arti kata Mourinho: ia mendambakan striker baru. Seseorang yang memberikan permainan yang dominan; yang lebih kejam. Seseorang yang bisa mencetak banyak gol. Seseorang yang bisa menjadi Didier Drogba selanjutnya. Fernando Torres gagal mencetak gol dengan enam tembakan selama 90 menit melawan Palace, sementara Demba Ba tidak berhasil mencetak satu pun peluang selama 20 menit penampilannya. Tak satu pun dari Torres, Ba atau Samuel Eto'o bisa mencetak gol lebih dari dua digit di musim 2013/14 Premier League.
 
Sebulan kemudian, Mourinho berhadapan dengan penyerang yang begitu ia dambakan, roda sudah digerakkan untuk transfer musim panas. Diego Costa - dan Atletico Madrid secara keseluruhan - berhasil mengungguli Chelsea di dua leg semi final Champions League. Pemain Spanyol kelahiran Brasil itu berseteru dengan John Terry selama satu menit, dan menunjukkan kesenian luar biasa dengan kakinya pada menit-menit berikutnya.
 
Dengan kedudukan 1-1 dan telah memasuki leg kedua, Costa memenangkan penalti. Sekitar hampir tiga menit, banyak duel fisik dan kartu kuning yang menghabiskan waktu, sebelum ia berhasil mencetak gol penalti. Dia menendang bola ke pojok atas gawang Petr Cech.

Tendangan penalti Costa berhasil menyingkirkan Chelsea di UCL musim lalu

Musim panas ini, Chelsea menebus klausul penjualan Costa senilai 32 juta pound. "Kami membutuhkan kualitas yang saya tuliskan," kata Mourinho, senyum pria asal Portugal itu merekah berkat sembilan gol Costa di tujuh pertandingan pertamanya di Premier League. "Saya telah bertemu dengan begitu banyak pribadi yang hebat dalam sepak bola dan sulit untuk menemukan satu yang lebih baik dari Diego. Tidak ada yang pernah memberinya sesuatu dalam hidupnya."
 
Namun perjalanannya dari sebuah provinsi kecil di Brasil menuju London King's Road jauh dari kata biasa-biasa saja, dan penuh kontradiksi. Keluarga menjadi hal yang sangat berarti baginya, namun sepupunya sendiri malah menghina dirinya. Costa ditolak oleh klub besar Brasil dan menghabiskan waktu lebih banyak sebagai pemain pinjaman daripada waktu yang ia miliki dengan klub induknya, namun kini, dia salah satu penyerang terbaik di dunia.
 
Dalam menggali cerita yang mendalam tentang bagaimana perjalanan karirnya, yang terus berpindah-pindah, dari anak jalanan menjadi mesin gol, FourFourTwo melakukan perjalanan antar benua untuk berbicara dengan orang-orang yang sangat mengenal Diego Costa. Anda ingin banyak gol, Jose? Anda mendapatkannya.

“Sepupunya berbohong kepadanya dan mengganggunya"

Lagarto adalah sebuah kota yang cukup mencolok di padang pedalaman Sergipe di timur laut Brasil. Keluarga-keluarga disana tinggal di rumah beratap bata merah, ada 100.000 orang yang bangga dengan produk Lagarto (Diego Costa), karena tak banyak yang bisa seperti itu.
 
Tidak ada produk yang lebih besar dari Diego Costa. Di sini, anak-anak mengenakan seragam Spanyol, bukan seragam Brasil - bahkan selama Piala Dunia (karena Costa yang membelot ke tim nasional Spanyol). Sekolah sepak bola di pusat kota adalah kebanggaan Lagarto.  Ketika FFT mewawancarai Costa awal tahun ini, setiap jawaban tentang daerah asalnya disampaikan dengan wajah yang sedih. Terutama ketika berbicara tentang idolanya.

Dia selalu membenci kekalahan. Jika kalah, dia bakal cemberut seharian. Dia menjadi pejuang sejak hari ia dilahirkan.

- Ayah Diego Costa - Jose Jesus Silva

"Teman-teman saya berpura-pura menjadi orang lain," kenang Costa, "Tapi saya selalu menjadi Ronaldo. Saya mencoba untuk menyalin semua yang dia lakukan. Mengapa? Karena dia adalah bintang, yang terbaik di dunia. Anda tidak bisa mengalihkan perhatian darinya; rasanya selalu masih ada lagi. Dia mengatasi hambatan besar dan akan selalu menjadi pemimpin. Sebuah fenomena."
 
Ketika Costa pulang dari sekolah, hanya ada satu tempat yang ditujunya. "Hal pertama yang akan dilakukan adalah mengambil bola dan pergi keluar ke jalan dan bermain," kata sang ayah, Jose, yang juga mantan pemain amatir. "Dia terobsesi. Dia bergerak dengan sangat baik dan belajar di jalan bagaimana menggunakan tubuhnya untuk keuntungannya."
 
"Dia selalu membenci kekalahan. Jika kalah, dia bakal cemberut seharian. Dia menjadi pejuang sejak hari ia dilahirkan. Menang adalah yang terpenting. Dia memainkan setiap pertandingan seolah-olah itu yang terakhir. "
 
Namun ada lebih banyak cerita tentang Costa, dia tumbuh besar di jalanan dan menapaki jalan untuk mencapai ke puncak dunia. Dia belum memainkan pertandingan 11 lawan 11, apalagi menghabiskan waktu di sebuah akademi, tetapi pada tahun 2004, Costa yang berusia 14 tahun pindah lebih dari 2.000 km ke arah selatan ke Sao Paulo untuk tinggal bersama pamannya, Edson, dan menemukan sebuah klub.
 
Edson berbicara dengan para pencari bakat dan tak lama kemudian keponakannya mendapatkan kesempatan uji coba di Barcelona EC, klub regional yang tidak besar. "Kami memiliki pemain menjanjikan ini, bek yang kuat ini disebut Felipe," kata presiden klub, Paulo Moura, kepada FFT. "Diego tidak takut: ia memperjuangkan setiap sentuhan layaknya sebuah pertarungan. Mereka hampir meninju satu sama lain."
 
"Costa datang sebagai pemain yang sama sekali tak diketahui orang banyak dan satu pekan kemudian sudah berada di tim, mencetak empat gol dalam pertandingan di turnamen U-17. Ini sangat tidak biasa bagi seorang pemain dalam sepakbola Brasil yang berasal dari jalanan bisa langsung menjadi sepeti itu pada usia tersebut. Kami tahu dia adalah sesuatu yang istimewa."
 
Tapi ada masalah lain. Hanya digaji 100 pound per bulan oleh klub semi-pro, Costa menginginkan kehidupan seperti para sepupunya di Sao Paulo yang meraih keuntungan lima kali lipat dengan menjual T-shirt palsu, baju latihan dan CD di Rua 25 de Março, kota yang penuh barang murah. Mereka membujuknya sedemikian rupa sehingga Costa mengundurkan diri dari sepakbola. Hal itu memaksa Moura untuk pergi ke pusat kota Sao Paulo dan 'menyelamatkan' bintang muda muda klubnya.
 
"Itu tak hanya sekali terjadi," kenang Moura. "Saya melakukannya empat kali, setidaknya. Sepupunya suka mengatakan omong kosong dan mengganggu dirinya. Mereka mampu untuk pergi ke pesta, bioskop dan membeli baju mewah, sementara Diego hampir tidak punya cukup uang untuk naik bus. Setelah beberapa saat, ia datang untuk tinggal di sarana bantuan tim untuk melupakan omong kosong sepupunya itu."

Ayah Diego: Jose Jesus Silva

Namun penolakan terus terjadi. Sao Paulo, Palmeiras dan Portuguesa menolak kesempatan untuk melihat Costa bermain, bukan karena kurangnya bakat, tetapi karena kurangnya kepelatihan yang tepat dan kepercayaan pada Moura.
 
"Dia bukan orang yang akan menyerah pada banyak hal," ungkap Cristiane Pernambuco, agen pertama Costa, kepada FFT. "Dia sangat tidak sabar, mungkin karena hinaan yang diterimanya. Kami terus mengatakan kepadanya bahwa di masa depan ia akan membuat membalas semua hinaan mereka. Kemudian beberapa hal berjalan lancar untuknya. Pada usia 15, tahun ia berlatih dengan profesional setiap hari. "

Diego mulai menangis, dia berteriak: Saya tidak bermain lagi. Saya memberikan semua yang saya bisa dan mereka melakukan ini pada saya. Saya berhenti.

- Presiden Barcelona EC - Paulo Moura

Tapi, kejadian tidak mengenakkan terjadi, Costa memukul lawan dan mengancam wasit. Larangan bermain selama 120 hari yang diterimanya membuat dia tidak akan bermain saat agen ternama, Jorge Mendes, mengunjunginya untuk mengatur beberapa hal untuknya. "Diego mulai menangis," kata Moura. "Dia berteriak, "Saya tidak bermain lagi. Saya memberikan semua yang saya bisa dan mereka melakukan ini pada saya. Saya berhenti." Tapi saya memiliki rekaman video yang menunjukkan bek lawan terlebih dahulu mendorongnya. Dirinya melakukan hal itu untuk membela diri. Untungnya banding kami diterima dan dia bisa bermain dalam pertandingan penting itu."
 
Costa hanya bermain setengah babak, tapi itu lebih dari cukup. Kepribadiannya segera menarik perhatian Mendes, yang memiliki kesepakatan dengan klub Portugal, Braga, untuk memberikan tim Primeira Liga itu seorang pemain muda dari tim kecil.
 
"Ada dua pemain lain, beserta Diego, yang melakukan perjalanan ke Portugal," kenang agen Pernambuco. "Dari menit pertama, Jorge memperlakukannya dengan cara yang berbeda. Diego menonton pertandingan Braga dari tribun VIP, semuanya mewah. Tapi apa yang paling kami sukai adalah karakternya yang kuat."
 
Begitu kuat, faktanya, hingga ia harus melawan keinginan ayahnya, Jose, untuk pergi ke Portugal. "Kami tidak ingin dia pergi," kata Costa Snr, yang ditawari pekerjaan di perusahaan konstruksi presiden Braga, Antonio Salvador, untuk mempermulus kesepakatan. "Tampaknya terlalu banyak risiko. Dia bisa saja pergi ke Sao Caetano, pilihan yang bagus untuknya, tetapi ia mengatakan ia telah memberikan keyakinannya kepada Braga dan dia harus teguh dengan pendiriannya. Dia begitu keras kepala. 'Jika ayah tidak membiarkan saya pergi, saya akan tetap pergi', katanya."

“Ada banyak pemain dewasa disana dan anak kecil ini melawan semuanya”

Enam bulan pertama Costa di Braga berlelu begitu keras. Dia tak mengenal siapapun, keluarga dekatnya tak bisa langsung bergabung dengan dirinya. Kegiatan sehari-harinya begitu monoton dan repetisi. Diego sendiri tinggal bersama dengan beberapa rekan-rekannya dari tim cadangan Braga - "individu-individu yang sangat tertutup, tidak mungkin berteman dengan mereka," katanya kepada FFT - yang memandang Costa saat remaja lebih suka bersaing daripada berteman. Beberapa hari ia hanya duduk, sendirian, dan menangis. Dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun pada orang tuanya, terutama kepada sang ibu, Josileide, yang selalu ingin dia pastikan bahwa segalanya baik-baik saja."
 
Untuk kedua kalinya dalam hidupnya yang masih muda, Diego Costa tidak terlalu ingin menjadi pesepakbola. Tapi kali ini, ia tahu bahwa ia ingin membangun karir sepakbola sebisanya. Sederhana saja, penghasilannya yang bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk orang tuanya merupakan suatu hal yang terlalu besar untuk ditolak.

Diego mencetak 5 gol dari 30 pertandingan liga bagi Celta di musim 2007/08

Jadi Costa bekerja tanpa kenal lelah, tekad untuk berhasil demi keluarganya membuatnya tumbuh ditempa dalam kesulitan. Ia menghabiskan awal musim 2006/07 dengan status pinjaman di tim divisi dua Portugal, Penafiel, membuat pelatih Rui Bento terkesan - yang juga merupakan anggota dari skuad Portugal U-20 yang  memenangi Piala Dunia 1991 bersama Luis Figo dan Rui Costa - dengan lima gol dalam 13 laga.
 
"Anda melihat beberapa pemain berusia 17 atau 18 tahun dan mereka memiliki kualitas yang luar biasa," kenang Bento yang bangga dengan Costa. "Seperti itulah Diego. Dia ingin menjadi seseorang di sepak bola."
 
Keduanya segera membangun hubungan yang dekat. Costa memiliki sepasang sepatu keberuntungan yang dikenakannya di setiap sesi pertandingan dan latihan. Ketika mereka robek, Bento membelikan anak didiknya sepasang yang baru dari uangnya sendiri. Pada akhir tahun 2006, Bento juga telah membantu memuluskan kepindahan Costa ke Atletico Madrid setelah pertemuan dengan pencari bakat Atletico, Javier Hernandez.

Ada banyak pemain dewasa disana dan anak ini melawan semuanya. Dia tidak takut apa pun - kepribadian yang luar biasa. Secara teknis, dia brilian

- Pencari Bakat Atletico Madrid - Javier Hernandez

"Rui bilang dia sangat menyukai pemuda 17 tahun ini, jadi saya menelepon Atletico dan mereka mengatakan kepada saya untuk tinggal satu hari lagi dan melihatnya," kenang Hernandez. "Mereka membawa saya ke Chaves, untuk pertandingan divisi kedua ini. Standarnya mengerikan, seperti divisi tiga di Spanyol."
 
"Ada banyak pemain dewasa disana dan anak ini melawan semuanya. Dia tidak takut apa pun - kepribadian yang luar biasa. Secara teknis, dia brilian; dia hanya harus memahami tubuhnya lebih baik karena ia sedikit tidak terkoordinasi. Tapi lihat dia sekarang. Dia sangat buas."
 
Setelah melihat pertandingan tersebut, Hernandez dalam sekejap langsung berhasil merekomendasikan Costa ke Atletico, transfer senilai 1,5 juta euro selesai pada bulan Desember 2006. Namun, bahkan di sini Costa tampak kebingungan, dia tiba di bandara Barajas, Madrid dengan sandal jepit dan celana pendek Bermuda, dengan suhu -4C. "Dia tampak sedikit linglung," kata Hernandez.
 
Tapi, jika Costa berpikir bahwa ia sudah berhasil, bahwa dia bisa membeli jam mahal besar berkilauan dengan pendapatan pertamanya di Spanyol, dia pasti terkejut. Pada umur 18, Costa didatangkan untuk meningkatkan dirinya, bukan untuk menantang sang bintang, Sergio Aguero. Naluri jalanan dari persaingan dengan saudaranya, Jair, dan hinaan sepupunya kembali menggelegak di dalam, tetapi jarang meletus di permukaan. Itu hanya terlihat jika anda memperhatikannya, seperti yang dilakukan pelatih Hernandez di Portugal.
 
"Dia berada di Portugal dan saya tidak pernah melihat dia," keluh Mourinho - klien lain dari Jorge Mendes, jangan lupa - di awal tahun ini. "Semua orang buta, termasuk saya sendiri. Di Atletico, Aguero adalah superstar. "
 
Untuk ketiga kalinya dalam kelahiran baru karirnya itu, Costa dipinjamkan, kali ini untuk tim divisi dua, Celta Vigo, pada 2007/08, lagi-lagi dirinya harus memulai kompetisi dengan tim yang berbeda. "Dia memiliki kekuatan nyata dan potensial, mirip dengan Ronaldo asli," kata kiper Celta, Esteban baru-baru ini.
 
"Tapi dia masih sangat muda, pemain dengan potensi besar yang belum matang. Sulit baginya: ia datang ke klub yang bisa membuatnya tidak akan kembali; di mana ada ketegangan dan tekanan. Pemain pergi tanpa dibayar."
 
Costa mencetak lima gol dalam 30 penampilan Segunda, termasuk gol terbaik musim itu, dimana saat ia melakukan solo run dari area permainan timnya sendiri melawan Numancia (bawah), namun pemain berusia 18 tahun itu masih sangat mentah, pesepakbola tidak selalu mampu mengendalikan tubuh atau emosinya sendiri. 

Pada musim 2008/09, ia dipinjamkan ke tim divisi dua yang juga sedang dilanda kesulitan keuangan dan menyulut kemarahannya. "Saya tidak akan pernah melupakan saat mereka mengatakan kepadanya, "Saat anda bersikap sebagai pekerja yang sangat disiplin dan agresif dan berlatih 100 persen, anda akan bermain di tim apa pun yang anda inginkan," kata pelatih Albacete, Maximo Hernandez.
 
Itu benar: Diego Costa yang merusak pertahanan tim-tim La Liga dan Premier League - pemain yang disebut oleh seorang mantan pelatih sebagai pemain yang paling konsisten yang pernah bekerja dengannya karena "dia pergi ke setiap pertandingan dan ingin mencetak gol dan mendapatkan kartu kuning" - harus disuruh bekerja keras.
 
Sembilan golnya untuk Albacete cukup untuk membuat mereka terhindar dari degradasi, tetapi tidak cukup untuk menjaga posisi Costa di Atletico, di mana ia masih belum membuat penampilan untuk tim utama. Pada musim panas tahun 2009, ia bergabung dengan Real Valladolid sebagai bagian dari kesepakatan kiper Sergio Asenjo ke Vicente Calderon.
 
Meskipun La Pucela akan terdegradasi, dan Costa berhasil mencetak dua gol lagi setelah enam laga pertama dari 12 pertandingan La Liganya, setelah itu banyak yang mulai membicarakan kekuatannya, keahlian dan agrevisitasnya. Terutama agresivitasnya.

Penampilan bagusnya di Valladoid membuat Atletico Madrid menariknya kembali

Pada musim itu, Costa mendapatkan sembilan kartu kuning dan satu kartu merah setelah dirinya menginjak pemain Espanyol, Didac Vila. Binatang yang dibangkitkan oleh Maximo Hernandez di Albacete sekarang menjadi penyerang yang luar biasa ganas di lapangan, tetapi belum cukup terkendali untuk menghindari kemarahan ke seorang wasit.
 
"Jalan sudah menjadi sekolah saya," kata Costa. "Saya berkelahi dengan semua orang. Saya tak bisa mengendalikan diri. Saya menghina orang, saya tidak menghormati lawan - saya pikir saya harus membunuh mereka. Anak laki-laki yang tumbuh di akademi diajarkan untuk mengendalikan diri dan menghormati orang lain, tapi tidak ada yang pernah mengatakan hal itu kepada saya, malah yang terjadi adalah sebaliknya. Saya dulu terbiasa melihat pemain menyikut satu sama lain di wajah dan berpikir itu adalah hal yang wajar."

“Diego adalah pemimpin kami, dia hanya belum mengetahuinya”

Atletico cukup terkesan untuk melakukan opsi pembelian kembali senilai satu juta euro, tapi musim pertama Costa yang kala itu berusia 19 tahun di Rojiblancos pada musim 2010/11, jauh dari kata bahagia. Ia lebih sering menjadi pelapis Aguero dan Diego Forlan dalam formasi pelatih Quique Sanchez Flores.
 
"Di musim pertama Diego, Calderon mencemooh dan mengejeknya," kenang penemu Costa di area tergelap di Portugal, Javier Hernandez. "Sekali waktu, seorang suporter Atleti yang juga teman saya mengatakan kepada saya: 'Sampah apa yang kau berikan pada kami? ! Matamu sudah buta! 'Saya menjawab:' Kau salah. Dia pemain yang bagus. Anda harus membiarkan dia berkembang. "Tidak ada yang mengingat itu sekarang."
 
Bahkan, Atleti ingin memotong kerugian mereka karena membeli kembali Diego Costa. Pada akhir Juli 2011, penjualan Costa untuk klub Turki Besiktas sudah terlaksana kecuali kata sepakat, ia masih harus menjalani tes medis. Namun dalam sesi latihan terakhirnya sebelum melakukan perjalanan ke Istanbul, ligamen cruciatum di lutut kanannya bermasalah. Itu, katanya kepada televisi Spanyol awal tahun ini, adalah kehendak Tuhan. Takdir.

Saya dulu terbiasa melihat pemain menyikut satu sama lain di wajah dan berpikir itu adalah hal yang wajar.

- Diego Costa

Selama masa pemulihan, dan peminjaman di Rayo Vallecano pada Januari 2012, Atletico mulai memperhatikan apa yang mereka miliki. "Ini tidak logis bahwa ia pulih dari cedera lutut yang serius seperti itu, pergi ke Rayo dan mencetak 10 gol ketika ia tak melakukan latihan apa pun," kata pelatih kebugaran Atletico, Oscar Ortega. "Saya tidak percaya dengan mata saya. Anda tidak dapat menjelaskan hal ini, tidak peduli berapa banyak buku yang anda baca. Saya bertanya apa yang dia lakukan saat masih kanak-kanak dan dia bilang 'tidak ada', bahwa ia datang dari jalanan. Tidak ada batas untuk kekuatannya. Dia seperti banteng."

Costa mencetak gol saat bermain di Rayo Vallecano

Ketika Costa kembali ke tepi sungai Manzanares pada bulan Juni 2012, setelah enam bulan bekerja keras di Rayo, pemain berusia 23 tahun itu diberitahu oleh pelatih baru Atleti, Diego Simeone, bahwa ia tidak akan dijual. 
 
"Ketika saya melihat dia dalam latihan, saya ingin mati," kata Simeone pada akhir musim lalu. "Dia tak terbendung. Diego Costa mengirimkan kekuatan yang memiliki efek menular pada seluruh tim. Orang mengatakan dia bermain sampai batasannya- anehnya, mereka juga mengatakan hal itu mengenai saya. Dia akan lebih baik dari hari ke hari."
 
Pengaruhnya tumbuh, begitu pula ketenarannya. Persis dua pekan setelah melawan Real Betis, ia hampir menjadi pemain yang paling dicari Spanyol. Di Copa del Rey pada Januari 2013, kesalahan bek Betis, Antonio Amaya, membuat Costa mencetak gol. "Terima kasih untuk persembahan ini," teriak jahat Costa, dimana dirinya sedang berjalan menuju terowongan, untuk memicu perkelahian besar. 
 
"Jika rekan-rekan tidak menahan saya, saya akan membunuhnya," gerutu Amaya setelah pertandingan. "Itu menunjukkan orang macam apa dirinya. Dia tidak memiliki hati dan tidak ada rasa malu."
 
Seamus Coleman tahu persis bagaimana perasaan yang dirasakan oleh Amaya, yang di akhir laga menerima rasa simpati unik dari Costa setelah mencetak gol bunuh diri dalam kekalahan Everton di kandang mereka dengan skor -3-6 pada Agustus lalu.
 
Ketika Costa masuk sebagai pemain pengganti dalam pertandingan liga antara Atleti dan Betis kurang dari dua minggu kemudian, dirinya mencetak gol setelah tampil lima menit, secara alami, ia menjadi pemain yang dikawal. Pemain Betis menendang, menyikutnya, Amaya bahkan meludahinya. Namun dia tidak bereaksi, itu di luar kebiasaan dan pergerakan kakinya yang terkadang liar.
 
"Tidak ada yang perlu dibalas dan tidak ada masalah," ujar Costa setelah pertandingan. "Apa yang terjadi di lapangan tetap di atas lapangan. Saya tidak membawanya pulang dengan diri saya."

Apa yang terjadi di lapangan tetap di atas lapangan. Saya tidak membawanya pulang dengan diri saya.

- Diego Costa

Ini terbukti. Dari dua pertandingan brutal Betis, Costa tidak meledak, sebagian besar dari 56 golnya dalam dua musim terakhir bersama Atleti datang setelah persetruannya dengan Amaya. "Diego adalah pemimpin kami," kata gelandang Tiago pada musim panas 2013 setelah kepergian Radamel Falcao ke Monaco. "Dia hanya belum mengetahui itu."
 
Bukan hanya jumlah golnya, ia selalu mencetak gol yang lebih baik, itulah bagaimana ia mencetak gol. Ada tendangan salto, gol memutar badan, keakuratan (ini berlanjut hingga di Chelsea) dari mengolongi penjaga gawang dengan tendangannya, ditambah peluang yang tak terhitung dan kekuatannya yang besar.
 
Tapi kalau ada satu gol Costa yang menyimpulkan kombinasi antara keinginan dan bakat, itu terjadi saat melawan Getafe pada bulan April. Bola meluncur ke tiang jauh dan Costa dengan cepat meluncur untuk mencapai bola dan memasukkannya ke dalam gawang, tapi kakinya membentur tiang. Begitu dalam lukanya, sampai-sampai anda bisa melihat tulangnya. Tetapi, walaupun begitu, dia bermain di pertandingan berikutnya, melawan Elche lima hari kemudian, ia juga mencetak gol.
 
"Luka itu tidak membahayakan harimau," kata Simeone, tersenyum. "Pokoknya, saya lebih merasa kasihan dengan tiangnya."
 
Pada akhirnya, Costa butuh Simeone - legenda Atleti yang dipuja oleh para suporter - untuk menemukan jalan tengah terbaik bagi penyerang timnya untuk membawa Los Colchoneros meraih gelar Copa del Rey 2013, gelar La Liga 2013/14 yang menjadi gelar pertama mereka sejak tahun 1996 dan Final Liga Champions 2014. Berapi-api dan mendorong batas-batas fair play? Ya, tapi itu kekuatan alami yang tak terbendung dalam proses. Apakah dia mengausai ruang ganti dengan antagonismenya yang konstan?
 
"Anda bercanda! Anda tidak akan menemukan rekan setim Diego, seseorang yang berbagi ruang ganti dengannya, berkata buruk tentang dia," kata pelatih Costa di Rayo Vallecano, Jose Ramon Sandoval. "Jika anda mengambil sifat ini darinya, dia tidak akan menjadi pemain sepak bola sehebat dia sekarang. Karakternya adalah kekuatan terbesar. Dia pemenang. Sorotan mengenai sikap agresifnya didasarkan pada penderitaan."
 
Ia menjadi sasaran kamera Canal+, sebagai salah satu pemain La Liga yang paling sering direkam. Apa yang paling mengejutkan anda adalah bahwa ia sering membuahkan konflik, berlari ke arah pemain bertahan lawan untuk disikut, dipukul (lihat aksi Federico Fazio terhadap rusuk Costa saat menghadapi Sevilla) dan meludah untuk mengalihkan perhatian pertahanan lawan. Tahun lalu, ia adalah pemain La Liga yang paling sering dilanggar, lebih sering daripada Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

"Tentu saja saya memilih Spanyol, brengsek!"

Perseteruannya yang paling sering adalah bersama penggawa Real Madrid, Sergio Ramos. Hampir dua menit kedua pemain saling meneriaki, "eh carajo!" ("oi, brengsek!"), tekel telat, bahkan air liur masing-masing, namun itu Ramos - yang dianggap Costa 'seperti saudara' karena dirinyalah yang membujuk striker kelahiran Brasil itu untuk memperkuat negara keduanya (Spanyol) di level internasional pada salah satu derby Madrid. "Jadi, apakah kamu akan berhenti bersikap kasar dan bermain untuk kami?" bisik Ramos.
 
Pesan ini sangat jelas: semua duel bahu, teriakan "oi, dickheads (hei berengsek") dan duel kepala, terkadang merupakan rangsangan psikologis untuk mengingatkan Costa apa yang harus dilakukan untuk tampil bagus. Jauh dari lapangan, dia adalah mas bueno que el pan - secara harfiah berarti 'lebih baik daripada roti', namun artinya adalah "kebaikan yang terpancar".
 
Itu juga terlihat saat wawancara. Dia berbicara dengan lembut, bahkan pemalu. "Jika permainan tenang, saya harus menyalakan api ke dalam diri saya," kata Costa kepada FFT sebelum Piala Dunia musim panas ini, mempertegas teori untuk para pemain bertahan yang berusaha beradu dengannya, mereka seharusnya tidak bereaksi dengan sikapnya di atas lapangan.
 
"Saya binatang yang berbeda di luar lapangan. Saya santai dan sangat bahagia. Di atas itu, saya berjuang untuk mengatur kehidupan yang saya miliki. Setiap kali saya mencetak gol saya bahagia untuk diri saya sendiri, tentu saja, tapi saya tahu itu membuat orang-orang terdekat saya juga bahagia, karena mereka menggantungkan kehidupan mereka pada saya."

“Pemuda yang jujur, naif dan hangat dari sebuah desa kecil di Brasil”

Ketika kesempatan untuk bergabung dengan Chelsea musim panas ini muncul, Costa hampir menolak, seperti yang dilakukannya kepada Liverpool pada bulan Agustus 2013. Untuk pertama kalinya dalam karir sepak bolanya, bahkan hidupnya setelah intimidasi sepupunya, dia merasa di Atletico seperti takdirnya. "Saya tidak suka pindah rumah," ia mengatakan. "Saya ingin merasa penting."
 
FFT memiliki pengalaman sendiri mengenai perasaan menjadi penting itu. April pagi sebelum kami berbicara kepada Costa, hamstringnya robek - cedera yang akan menghindarkan pemain andalan Atleti terlibat dalam perebutan gelar dan final Liga Champions. Aksi penutup yang diinginkan Costa adalah berjalan langsung ke kamera. Namun meskipun tertatih, ia masih mencoba, meskipun hanya dengan satu kaki. Dia tidak ingin mengecewakan siapa pun.
 
Pada bulan Juli, Mourinho dengan cepat membahas mengenai striker barunya, posisi bermasalah Chelsea setelah era Drogba. "Apa yang bisa dengan segera anda lihat adalah profil fisik dan psikologisnya," kata The Special One.
 
"Dia luar biasa dan masih menjadi pemuda yang sama, pemuda yang jujur, naif dan hangat dari sebuah desa kecil di Brasil. Dia sangat mencoba untuk berinteraksi dalam tim dan bercakap-cakap, meskipun ia hanya tahu 10 kata bahasa Inggris."
 
Apapun keterampilan bahasanya, performa Costa telah menakjubkan, selisih satu gol untuk menyamai start terbaik pemain baru di Premier League - delapan gol dalam lima pertandingan - dimana rekor ini masih dipegang oleh Aguero dan pemain Coventry City, Micky Quinn.

Kami tidak benar-benar melihat Costa atau Fabregas sepanjang permainan dan kemudian tiba-tiba ia mendapat kesempatan, mengumpan bola dari jarak 50-yard ke Costa dan itu gol

- Jack Wilshere - Arsenal

Jika kita melihat statistik lebih dekat, semuanya akan semakin terungkap. Sebelum jeda internasional kedua musim ini, ia mencetak gol dengan 40 persen dari tembakan ke gawang. Setengah dari jumlah itu pun sudah dianggap luar biasa. Kuncinya adalah kemampuan sempurna untuk membuat penjaga gawang bekerja keras, di sembilan pertandingan liga pertamanya di The Blues, peluangnya hanya meleset dari target sebanyak lima kali. Lima!
 
Interaksi dan kombinasinya dengan Cesc Fabregas juga sangat menghipnotis. Pemain baru The Blues lainnya di musim panas lalu yang telah membantu mengeluarkan kekuatan terbaik Costa. Cesc sukses mencetak empat assist dari sembilan gol rekan senegaranya itu di liga.
 
"Kami tidak benar-benar melihat Costa atau Fabregas sepanjang permainan dan kemudian tiba-tiba ia mendapat kesempatan, mengumpan bola dari jarak 50-yard ke Costa dan itu gol," dengus Jack Wilshere setelah kekalahan 2-0 Arsenal di bulan Oktober.

Kemampuan Costa membuat musuh semakin mengawasinya dengan ketat

Sementara, beberapa hal mungkin terasa indah bagi Diego Costa di Stamford Bridge, tetapi situasi yang berbeda terjadi pada Spanyol. Dikelilingi oleh gelandang kecil yang memainkan umpan cantik tapi jarang bekerja sama dengan seorang penyerang tengah murni, membuat Costa tampak kesulitan di Piala Dunia 2014 dan kualifikasi Euro 2016. Dirinya hanya berhasil mencetak gol melawan tim lemah Luksemburg, di penampilannya yang ketujuh.

Dia berbeda dengan Drogba, dia cepat, yang berarti ia dapat berlari di belakang pertahanan, dan secara teknis dia sangat baik.

- Mantan Pelatih Valladolid - Jose Luis Mendilibar

Gaya menyerang balik Chelsea yang cepat lebih cocok untuknya, seperti yang dilakukan Simeone di Atleti. Torres membutuhkan 43 pertandingan untuk mencapai tujuh gol di Chelsea, Andriy Shevchenko 47 laga dan Costa hanya empat pertandingan. Bahkan Drogba, si senior yang kembali ke Stamford Bridge musim ini juga memiliki permulaan yang lambat, penyerang Pantai Gading tersebut membutuhkan 24 pertandingan untuk mencetak tujuh gol.
 
"Dia berbeda dengan Drogba," kata mantan pelatih pemain berusia 26 tahun itu di Valladolid, Jose Luis Mendilibar. "Dia cepat, yang berarti ia dapat berlari di belakang pertahanan, dan secara teknis dia sangat baik. Dia masih muda dan hanya akan menjadi lebih baik."
 
"Dan tentu saja dia juga mencetak gol yang penting. Fans melihat berapa jumlah gol yang dicetak, tapi pelatih melihat gol seperti apa yang diciptakan seorang striker dan Costa adalah salah satu pemain yang mencetak gol pembuka dan sukses menghancurkan mental lawan atau satu-satunya gol dalam kemenangan 1-0 yang sulit."

Itulah yang tidak dimiliki Chelsea musim lalu; apa yang tidak mereka tidak miliki saat melawan Crystal Palace, pada Maret tahun lalu yang membuat peluang meraih gelar liga sirna; Diego Costa menjadi alasan mengapa The Blues memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan gelar Premier League musim ini.
 
Dia mungkin "tidak terlalu dihormati di Inggris" menurut bos Everton Roberto Martinez, setelah dirinya mendorong Seamus Coleman atau setelah hampir mencekik bek sayap Manchester City, Pablo Zabaleta, tapi predator tersebut, penyerang agresif yang mencetak gol demi keluarganya, telah menemukan sebuah rumah di barat London. Diego Costa adalah paket lengkap. Hanya saja, jangan membuat dia marah. Anda tidak akan menyukainya ketika dia marah.