Kupas Tuntas Sepak Bola Wanita Bersama Tiffany Sahaydak

Penulis kami, Erie Wicaksono mendapatkan kesempatan untuk berbicara langsung dengan salah satu legenda sepakbola wanita asal Amerika Serikat.

FourFourTwo mendapat kesempatan bertemu dengan Tiffany Sahaydak, mantan peraih gelar juara dunia bersama Amerika Serikat pada edisi 1999. Bertempat di salah satu kedai kopi asal negaranya diskusi juga dihadiri Tim Sahaydak suami dari Tiffany.

Menurut jadwal, Tiffany dan Tim akan bertemu dengan beberapa kelompok murid dan berbicara mengenai pengalamannya sebagai juara dunia.

Tiffany yang kini menjabat sebagai pelatih kepala sangat perhatian dengan perkembangan sepak bola wanita tak hanya di negaranya saja melainkan juga belahan dunia lain. Dirinya pernah bercerita bagaimana ia dan Tim menolong salah seorang pesepakbola wanita asal Trinidad dan Tobago.

Pemain bersangkutan tidak cukup mumpuni untuk bermain di level negara adidaya tersebut, agar tetap bisa berprestasi Tiffany tak segan untuk menghubungi federasi Trinidad agar bisa memberikan tempat bagi pemain yang dimaksud.

Ia juga menghimbau bahwa anak-anak khususnya wanita tak perlu takut untuk menjadi pemain sepak bola. Salah satu alasan mengapa enggan berkecimpung di dunia olah raga adalah takut tidak bisa tampil cantik, atau juga sulit tampil feminin. Lihat saja dirinya sendiri menurut Tiffany.

Sementara untuk skala lebih luas pemerintah dan federasi harus bisa memberikan determinasi untuk mengembangkan sepak bola wanita khususnya di Indonesia. Fasilitas serta pelatih dengan kemampuan baik juga harus menjadi tanggung jawab agar tujuan memiliki fondasi kuat dapat segera terwujud.

"Semua memiliki waktu dan harus menjadi bagian dari proses tersebut," kata Tiffany.

Ketika ditanya apa yang akan ia lakukan agar anak-anak Indonesia dalam hal ini perempuan mau memiliki cita-cita sebagai pemain bola ketimbang ibu rumah tangga?

"Dengan bermain bersama mereka mungkin dalam mini games kemudian berbicara kepada anak-anak tersebut. Saya berharap bisa mematik niat supaya mau menjadi atlet sepak bola. Lagipula tak ada yang salah menjadi ibu rumah tangga. Saya sendiri sebagai seorang istri masih bertanggung jawab mengurus suami (Tim), merawat dua anak saya dan masih bisa menikmati sepak bola," ujar Tiffany sembari tersenyum.

Selain menjalankan misi mengenalkan serta mengembangkan sepak bola wanita kehadirannya di tanah air adalah belajar dari warga sekitar. Tiffany sangat senang bisa bertemu orang-orang dengan beragam latar belakang. Menurutnya setiap bertemu orang baru ia banyak belajar yang nantinya bisa ia gunakan untuk terus memperkaya dirinya serta lingkungan sekitar. Tentunya tak ketinggalan mencoba kuliner khas Merah Putih.

Sesi diskusi hari Selasa kemarin ditutup dengan mini games Tiffany dan Tim bersama tim dari kedutaan besar Amerika Serikat. Dan terlihat jelas kendati sudah tak aktif bermain kemampuan sebagai juara dunia tak luntur darinya.

Topics